Jual BB

image

Selama bulan puasa ini, Yu Minah hanya buka sore hari sekitar jam empat. Di hari Sabtu atau Minggu ramainyaa minta ampun. Mending aku gak beli daripada harus berebut antrian sama ibu-ibu. Terlebih jika melihat Yu Minah dengan goyang ulekannya, hih mending gak, deh! Takut sama “tetesan-tetesannya” 😅

Nah, sore ini kebetulan aku pulang cepat dan langsung bertengger di warung Yu Minah.

“Tumben sepi, Yu?” tanyaku setelah mengucap salam dan duduk di bangku favorit.

“Sampeyan beruntung, Jeng. Sebentar lagi ndak bakal kebagian, lho,” sahutnya. Hih, sombongnyaaa. Tapi betul sih, apa yang dikatakannya. “Ini pesennya biasa, Jeng?”

“Iyaa, rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Bosan melihat ketangkasan Yu Minah mengolah sambal dan mengiris buah yang bak pesilat memainkan jurus “Pedang Sakti Pembelah Langit dan Penggerus Bumi”, aku melihat sekeliling.

Mataku tertumbuk pada sebuah kardus dengan isi yang nyaris tumpah. Botol-botol bekas, bekas bungkus makanan lalu kaleng-kaleng entah bekas apa. Terheran-heran aku menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas.

“Yu, sampeyan punya kerja sambilan?”

“Hah? Yo ndaklah, Jeng. Keahlian saya ya cuma bikin rujak, ” sahutnya heran. Nanas itu sungguh nyaris lumat dalam pisau saktinya. “Memangnya kenapa?”

“Itu ngumpulin barang bekas? Kukira nyambi jadi pemulung hihihihi ….”

“Sampeyan iniii. Itu kan, idenya Bu RT buat ngumpulin barang bekas, Jeng. Lalu nanti setiap bulan dikumpulkan dan dijual. Uangnya masuk kas buat tambah-tambah biaya piknik RT. Gituuu ….”

“Ooo, dijual ke mana, Yu?”

“Ndak tahu. Sepertinya Bu RT sudah punya langganan pemulung yang suka mbawa gerobak itu.” Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Kalau aku, Yu, gak bakalan mau.”

“Lho, kenapa? Hasilnya lumayan, lho, Jeng! Ditambah lagi, tempat sampah di luar jadi ndak diaduk-aduk pemulung.”

“Nah! Itu … itu kenapa aku gak mau!” ujarku sembari mencari-cari uang pas dalam dompet. “Itu namanya sampeyan menutup rejeki orang, Yuu!”

“Kok nutup rejeki, to? Ah, sampeyan ini aneh!”

“Gini, lho, Yuu. Kalau sampeyan buang barang-barang bekas itu ke tempat sampah, tentu akan menjadi rejeki buat pemulung. Lha kalo dijual, iya sih, mungkin sama-sama ke pemulung yang “bermodal”, mereka yang hidupnya dari mengais sampah tentu gak bisa mendapat jatah. Sementara apalah artinya receh itu buat ibu-ibu kompleks, apalagi pengusaha sukses macam sampeyan ini.”

Yu Minah terdiam, bahkan sepertinya tidak sadar dengan sindiranku 😆

“Iya ya, Jeng. Kasihan juga mereka yang tiap hari mengais sampah lalu ndak menemukan barang yang mereka harapkan. Kok tumben sampeyan bijak banget gini, Jeng? Pasti pengaruh bualan puasa, ya?” Sial! 😬

“Ehh, tapiii … nanti sampahnya berantakan lagi, Jeng!” Ujarnya lagi sembari mengangsurkan rujak padaku.

“Halah, Yuuu … ya tinggal disapu, itung-itung olah raga biar langsingan dikit gitu, lhooo …!”

“Wheladhalaaahhh, Jeeeeng, lha wong ngulek saja kan, sudah olah ragaaaa!”

😆

(Ini)(sial)

Siang antara mendung dan panas membara. Seperti udara panas yang terjebak dalam toples dengan aku berada di dalamnya. Halah … halah … mau beli rujak ke warung Yu Minah aja pake panjang lebar! Yah, sebetulnya bukannya aku gak pernah ke warung Yu Minah. Aku hanya gak menceritakan obrolanku saja. Makin hari Yu Minah makin lebay, sih. Segala macam berita dilahapnya lalu diceritakan kembali dengan semena-mena menurut versinya. Memang yang nonton atau baca berita cuma dia? Sebab itulah aku jarang menceritakannya kembali. Murni opini Yu Minah yang berlagak macam pengamat politik saja. Hahaha.

Warungnya tampak sepi dalam cuaca begini. Tapi aku butuh rujak serut untuk didinginkan dalam lemari es. Seperti biasa aku meneriakkan salam dan duduk di bangku favorit.

“Lho, Jeng, ndak ngantor, to?” tanya Yu Minah setelah menjawab salamku.

“Nggak, Yu. Cuti. Buatkan rujak serut ya, seperti biasa pedes tapi gak banget,” jawabku sembari menyambar koran langganan Yu Minah. Wuidih, DL nya masih membahas soal inisial artis-artis yang terlibat prostitusi.

“Media itu curang ya, Jeng?” tanya Yu Minah tiba-tiba. Ulekannya yang menggemparkan meja benar-benar melumat dengan sadis cabai dan kawan-kawannya.

“Curang kenapa, Yu?”

“Lha itu, artis-artis yang diduga terlibat prostitusi itu semuanya pakai inisial nama. Kan, bisa menimbulkan fitnah!”

“Ya kan, masih jadi saksi, Yu, belum terdakwa.”

“Tapi menimbulkan fitnah! Itu yang inisial AA itu, Ahmad Albar, kan?” Hah? Aku terbahak sampai nyaris terguling dari kursi.

“Sampeyan ini, Jeng, kalau diajak bicara mesti gitu, ndak pernah serius. Lucunya di mana, coba?” omel Yu Minah. Jurus “Dewi Gunung Menebas Rumpun Bambu” membuat buah-buahan itu teriris menjadi batang-batang lembut. Ngeri juga.

“Sampeyan ya aneh kok, Yu! Masak iya Ahmad Albar?”

“Itu maksud saya, Jeng. Ngapain pakai inisial? Coba sampeyan perhatikan, kalau kasus korupsi, prostitusi artis, pasti nama diinisialkan. Mestinya sebutkan saja, supaya masyarakat jelas, ndak nuduh macam-macam pada orang yang mirip namanya. Jangan sampai nanti ada yang inisialnya sama malah ke-GR-an terus pakai nuntut-nuntut media. Nambah kisruh to? Hanya karena mau numpang ngetop? Dan lagi kan, bisa membuat efek malu. Wong keduanya memang memalukan!” Nah, kalau sudah ngomel begitu, aku memilih diam. Pura-pura baca.

“Gini lho, Jeng, kemarin itu ada juga berita dari Aceh. Sepasang kekasih terlihat berduaan atau bermesraan, ndak tahu mana yang benar, dijatuhi hukum cambuk. Tahu, nggak …?”

“Nggaaak …,” potongku hihihihi.

“Makanya saya beri tahu! Nama keduanya disebutkan dengan jelas tanpa I-N-I-S-I-A-L! Nah!” Yu Minah mulai mengaduk rujak serutku. Sumpah, aku kuatir! Semburannya itu lho, moga-moga gak masuk ke rujakku.

“Mungkin karena sudah terbukti bersalah, Yu.”

“Ah, saya ndak setuju. Kalau soal nama sebutkan saja, toh masyarakat pasti juga menebak-nebak. Apalagi sudah tertangkap tangan. Kalau di bawah umur sih, silakan saja disamarkan. Masa giliran pesohor, pejabat, pengusaha nama diinisialkan. Giliran rakyat biasa, maling ayam, nama dijembreng sepanjang rel sepur!”

Fiuh, untunglah rujakku sudah mulai dibungkus. Kalau gak, bisa sampai sore mendengar Yu Minah ngoceh. Aku meletakkan koran untuk mengambil uang. Tapi …

“Lho, Yu, ini ada inisial YM, kira-kira siapa, ya?”

“YM? Ah, ndak pernah dengar ada artis namanya gitu,” sahut Yu Minah sambil mengangsurkan bungkus rujak padaku.

“Ini lho, beritanya. Nih, tak bacain, ya. Tertangkap lagi seorang mucikari berinisial YM. Sehari-hari beroperas di warung rujak di daerah Bogor.”

“Wheeelhaadaaalllaaahhhh, sampeyan iniii, Jeeeeengg, ndak sopaaaannn!”

Aku terbirit-birit :mrgreen:

Yu_Minah_1
YM

Kartu Sakti

Mendung menggantung sejak siang tadi, tapi hujan gak turun juga. Wah, sumuk nian. Kalo cuaca begini memang paling seger menyantap rujak serut Yu Minah yang sudah didinginkanΒ πŸ˜‹ Maka aku membuka kulkas, tapi sayang ternyata persediaan rujakku sudah habis 😒 Aku pun meluncur ke warung Yu Minah, semoga tidak sedang ramai.

Ah, untunglah tidak ramai. Tepat berpapasan dengan dua orang ibu yang berlalu membawa bungkusan rujak Yu Minah. Wajah mereka nampak keruh bahkan terlihat kesal. Mengapa, ya?

Setelah mengucapkan salam aku segera duduk di bangku favorit. Yu Minah yang sedang membereskan cobeknya membalas salamku dengan agak jutek juga. Ini kenapa, ya?

“Buatkan rujak serut, Yu, biasa pedes tapi gak banget.”

“Iya Jeng, jangan pesen yang pedes banget kayak ibu-ibu tadi. Wong cabe lagi mahal banget!” gerutu Yu Minah sembari menyiapkan bumbu sambal.

“Lho, memangnya kenapa, Yu?” tanyaku heran.

“Pelanggan itu kadang ndak mau ngerti, Jeng. Minta dibuatkan rujak yang pedes banget. Sudah tak kasih sak genggam cabenya eehh masih minta lagi. Kan saya jadi susah, memangnya ndak tahu apa, kalo cabe harganya lagi selangit?”

“Ooo, urusan cabe, to? Ya gimana lagi, Yu, kalau BBM naik ya pasti semua naik. Jangankan cuma cabe, kangkung aja pasti ikutan naik. Tapi kan, sudah ada kartu sakti, Yu, lumayan lah bisa memperingan hidup,” kataku sembari mengudap potongan bangkuang yang seger. Meski kali ini Yu Minah menggunakan jurus “Angin Topan Menggulung Gemunung”, aku masih bisa mencomot buahnya πŸ˜€

“Lhadallahh, kartu sakti yang mana, Jeng? Kartu Indonesia Pintar? Yo saya pasti ndak bakalan dapet, anak sudah kuliah, kok. Ndak tepat kartu yang itu buat saya! Kecuali kalo berlaku sampe anak kuliah juga digratisin. Untung saja Si Tole pinter cari duit tambahan, kalo ndak, bisa mumet saya.”

“Ya klo itu emang gak banyak membantu sih, Yu. Paling gak kan, ada kartu satu lagi, Kartu Indonesia Sehat. Lumayan Yu, bisa berobat gratis!”

“Gratis sih gratis, tapi antrinyaaaaa…ampuuunn… kalo cuma batuk pilek saya mending kerokan, Jeng,” gerutu Yu Minah sembari membungkus rujakku.

“Lha, masih ada satu kartu lagi, Yu. Kartu Keluarga Sejahtera, nah yang ini mungkin paling tepat buat masyarakat, ya?”

“Bisa jadi, tapi ada pakai SIM card segala, Jeng? Lha, kalo yang ndak punya HP, gimana? Mbok ya sekalian dikasih HP nya, ya, biar semakin meringankan. Lha, nanti uang bantuannya malah buat bayar utang beli HP? Hihihi…..”

“Sik..sik..sampeyan kok GR banget to, Yu? Kartu sakti tadi itu cuma buat golongan masyarakat miskin! Sampeyan kan, gak miskin! Masih bisa hidup enak, nguliahin anak!” πŸ™ˆ

“Hah? Oh iya yaa…hehehe…tapi saya mangkel, Jeng, harga-harga sudah pada naik, padahal BBM aja belum jelas kapan naiknya! Saya jadi susah matok harga!” Yu Minah masih menggerutu sembari mengangsurkan bungkus rujak padaku. Aku segera memberinya uang pas.

“Eh, maaf Jeng, harganya sudah naik,” ujarnya malu-malu.

“Lho? Masa tiap tahun naik, Yu? Mau naik jadi berapa ini?” omelku kaget.

“Cuma nambah dua ribu saja, Jeng.”

“Wah Yu, tahu gak, rujak sampeyan ini rujak paling mahal sak Bogor! Malah mungkin sak Indonesia Raya!” gerutuku kesal sambil mencari-cari uang di dompet.

“Lha, gimana lagi? Kalo harga ndak naik tapi porsi dikurangi, pelanggan ngomel. Kalo harga ndak naik, saya yang rugi, Jeng!” Aku diam saja dan menyerahkan selembar uang dua ribu. Lain kali pikir-pikir deh, mahal banget!

“Jangan cemberut, Jeng. Wis, nanti tak kasih KSYM!”

“Apa itu?” tanyaku masih kesal.

“Kartu Sejahtera Yu Minah, ada banyak diskon di situ. Khusus pelanggan setia kayak sampeyan saya kasih gratis kartunya! Nah, jangan marah lagi yaaa….”

Dih! 😀

kartu diskon YM2

Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha… πŸ˜›

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut πŸ˜€

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Baca lebih lanjut

Bocor

Pesawat RIMusim panas seharusnya saat ini. Tapi apa yang terjadi? Masiiih saja ada hujan mendadak di sore hari. Begitu juga beberapa hari lalu, baru saja sampai rumah dari bepergian, hujan turun dengan sangat derasnya. Gak sampai 30 menit, hujan berhenti dan langsung panas lagi. Maka gak heran jika banyak penyakit, belum lagi nyamuk yang buanyak minta ampun entah darimana datangnya. Endut-endut lagi 😦

Di hari yang gak jelas gitu kok tiba-tiba aku ingin makan rujak Yu Minah πŸ˜€ Maka dengan semangat aku segera berjalan menuju warung Yu Minah. Warungnya tampak sepi, ku teriakkan salam dan segera duduk di bangku favorit.

Sik bentar ya, Jeng!” teriak Yu Minah setelah menjawab salamku. Gak lama kemudian Yu Minah tergopoh-gopoh keluar. Sebagian rambutnya basah, juga daster putih empat sakunya :mrgreen:

“Kenapa, Yu? Kok basah-basahan gitu? Mandi basah yaa?” godaku.

“Husy! Wong lagi kena musibah gini. Dapur saya bocor, Jeng, bocor…bocor…,” keluhnya sambil mulai menyiapkan cobeknya yang segede Gaban, “mau berapa ni, Jeng?”

“Dua aja Yu, ulek satu sama serut satu. Pedes tapi gak banget.”

Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan rujak sambil sesekali mengelap tetesan air dari rambutnya. Aku jadi kasihan.

“Gak manggil tukang, Yu, buat benerin bocornya?”

“Biar nanti Tole saja, Jeng. Saya sudah SMS Tole supaya hari Minggu nanti pulang. Nah tuh, HP saya bunyi. Maap, sebentar yo, Jeng.” Yu Minah segera mengelap tangannya dengan serbet lalu meraih ponsel di dekat keranjang buah. Lho, kok ponselnya berubah lagi? Belum lama kulihat jemari montoknya menari-nari dengan gagap di atas layar sentuh, ini kok kembali dengan Nokia jadulnya?

“Iyo Le, ndak papa…ndak…tadi sudah Ibu tadahin pake ember. Ho’oh….lumayan gede… yo wis gak papa, nanti Ibu manggil Mang Hadi aja. Iyo…baik-baik yo, Le…” Yu Minah meletakkan ponselnya dengan wajah sedih.

“Tole gak bisa pulang, hari Minggu ada jadwal ngasih les bahasa Inggris,” ujarnya sambil mulai memotong-motong buah dengan pisau tajamnya.

“Wah, hebat ya Si Tole,” gumamku sambil menahan liur mencium aroma nanas yang dipotong dengan jurus “Totokan Dua Jari Dewa Langit”.

“Eh, Yu, nomgong-ngomong ke mana HP canggih sampeyan yang putih itu?” tanyaku kepo.

“Wahh, saya ndak bisa makainya, Jeng. Pating clepret, mau nunul ini eh yang kepencet itu, malah gak karu-karuan. Mau saya jual saja, deh. Sampeyan mau?”

“Lha, HP baru kok dijual to, Yu? Kan, sayaang.”

“Gak baru-baru banget, kok. Ceritanya itu tadinya HP nya Bu RW, baru sebulan pakai ada keperluan keuangan, jadi ditawarkan ke saya. Yo wis, saya beli buat Tole. Eh, jebul Tole malah sudah punya yang lebih canggih, rupanya anak itu ngirit banget, uang bulanan dari saya ditabung lalu dibelikan apa itu, Jeng, tablet?” Yu Minah berbinar-binar menceritakan anak semata wayangnya yang penuh pengertian.

“Bu RW jual HP? Kok tumben, Yu?” tanyaku super duper kepo. Gimana gak kepo, Bu RW adalah orang yang berpenampilan paling wah di kompleks. Gelangnya berderet, cincinnya sepenuh jari, sasakannya lumayan tinggi (apa hubungannya, yak? :mrgreen: ), dan terlebih lagi selalu nyumbang paling banyak kalo ada kegiatan sosial. Masa iya kesulitan keuangan?

“Ssstt, jangan bilang-bilang yo, Jeng,” bisik Yu Minah bernada gosip tingkat tinggi sambil tengok kanan kiri, “Katanya anggaran rumah tangganya bocor!” Waduh, apa maksudnya? Melihat wajahku yang polos bertanya-tanya, Yu Minah kembali membungkuk ke arahku melewati cobek penuh buah nan segar. Aku berdoa semoga tak ada muncratannya yang jatuh.

“Kabarnya, Bu RW terlibat bisnis berlian, tapi uangnya digelapkan sama temennya sendiri. Akhirnya uang tabungan keluarga tergerogoti, padahal Pak RW gak tahu tadinya. Terpaksa deh, Bu RW menjual apa yang bisa dijual untuk menutup hutang,” cerita Yu Minah sambil mulai membungkus rujakku. Kasihan juga, ya. Tapi menjual HP apa bisa menutup hutang ya?

“Yah, biarpun harganya gak terlalu mahal tapi menjual HP bisa menutup kebutuhan sehari-hari selama sebulan lah, gitu katanya. Emang sih, saya dipesen kalo dah gak suka jangan dijual, nanti kalo kondisi rumah tangganya sudah membaik, mau dibeli lagi. Tapi ngapainlah, mending saya jual sekarang aja kalo ada yang mau. Kalo nanti-nanti harganya makin jatuh,” lanjut Yu Minah sembari mengangsurkan bungkus rujak. Aku segera membayarnya.

“Tapi HP sebagus itu, kan lambang prestise ya, Yu? Kebanggaan, apalagi Pak RW juga pejabat, tentu lebih mudah berkomunikasi dengan istrinya. Juga pasti lebih hemat. Sekarang ini banyak layanan chatting murah bahkan gratis. Daripada nelpon, jatuhnya lebih mahal, kan?”

“Lha gimana, wong butuh, jeh? Kabarnya emas-emasnya juga sudah dijual duluan.” Jiyan, gosip hangat begini emang cuma bisa didapat di warung Yu Minah πŸ˜› Timbul keisenganku menggoda 😈

“Ya udah Yu, mendingan disimpen aja. Sayang kalo dijual. Apa jangan-jangan anggaran sampeyan juga bocor?”

“Wheeelhaadalaaahhh…. yang bocor itu genteng sayaa, Jeeeng! Memangnya bisnis saya segede apaaaa?”

:mrgreen:

Β 

Β 

Β 

Ha Na Ca Ra Ka

Minggu sore kemaren aku bertandang ke warung Yu Minah. Sebetulnya bukannya aku gak pernah ke sana, bahkan hampir tiap minggu pasti ke sana. Hanya saja obrolannya gak ku posting karena amat sangat sensitif πŸ˜› Sekedar tahu saja, Kawan, Yu Minah tak lagi jadi penggemar daster kotak-kotak! Hahahaha…sebagai gantinya dasternya sekarang adalah daster putih empat saku! πŸ˜†

“Lho, hati kan boleh berpindah, Jeng. Memang dulu saya memuja daster kotak-kotak, tapi kalo buat jabatan yang lebih penting ya boleh, donngg, pindah ke lain hati! Menurut saya kotak-kotak belum mampu!” Begitu kilahnya waktu aku tanya. Hihihihihi… tentu saja aku hanya tertawa kecil mengingat betapa menggebunya dia dulu pada segala yang bermotif kotak-kotak πŸ˜›

Baiklah, itu sekedar cuplikan obrolan panas yang akhir-akhir ini melanda Yu Minah. Setelah meneriakkan salam, aku segera duduk di bangku favorit.

“Ehh, bentar ya, Jeng, bentaaaar lagi, saya lagi Whats App sama Tole,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Wuiihhh, sekarang dia menggunakan ponsel pintar baru. Jari jemari Yu Minah yang montok itu tampak gagap melenggok di layar sentuh. Sebentar kemudian dia meletakkan ponselnya.

“Pesen berapa, Jeng? Duh, Si Tole itu, masa saya dikasih hape canggih gitu malah mumet saya. Salah mencet terus, lha wong jari saya kan ndak selentik sampeyan.”

“Lho, kok aku dibawa-bawa to, Yu? Buatkan dua ya, pedes tapi gak banget. Memangnya ada yang penting Yu, sama Si Tole?” tanyaku sambil lalu, padahal sih kepo tingkat dewa hahahaha…Β  Habis, gak biasanya Yu Minah mengesampingkan pelanggan gitu.

“Itu Jeng, Si Tole mau ngasih les bahasa Inggris buat anak SD. Ceritanya, kan ibu kosnya punya anak SD dua orang. Saya bilang kalau gak mengganggu kuliahnya ya gak papa, tapi kalau menyita waktu ya ndak boleh,” jawabnya sembari mulai menggerus rombongan cabai, trasi, kacang, dan gula merah dengan tenaganya yang hot.

“Wah, bagus itu, Yu. Apalagi rencananya pelajaran bahasa Inggris buat anak SD mau ditiadakan, lho!”

“Heh? Mosok iya to, Jeng? Memangnya kenapa?”

“Gak tahu, Yu. Katanya sih gak terlalu penting, lebih baik diganti dengan muatan lokal aja, gitu.”

“Whelhaa… sebetulnya paling baik anak segitu belajar bahasa yo, Jeng? Katanya anak-anak umur segitu paling cepat menyerap bahasa, jadi lebih gampang ngajarnya daripada kalo udah gede,” ujar Yu Minah sok analitik. Lengannya yang montok bergetar saat mengiris buah dengan kecepatan seorang samurai. Bener, merinding kalau lihat gaya Yu Minah mengiris buah.

“Gak cuma bahasa Inggris sih, Yu. Pelajaran komputer dan olah raga juga ditiadakan.”

“Kalo komputer sih, biar aja. Wong kata Bu RT malah bikin repot. Anaknya dapat PR suruh jelaskan apa arti internet, apa itu CPU, lha ibunya malah mumet hihihihihi….. Tapi kalo bahasa Inggris ya penting. Sekarang banyak informasi di mana-mana pakai bahasa Inggris, to?”

“Ya begitulah, Yu. Kurikulum gonta-ganti buat kita udah biasalah. Ganti mentri ganti kebijakan, ganti presiden yo sah-sah saja ganti lagi.”

“Mendingan diganti pelajaran basa Jawa saja yo, Jeng. Pasti Pak Presiden setuju, deh, hihihihihi….” Nah, mulai deh ide-ide jahil yang seringkali membuatku malas memosting obrolan ini.

“Emangnya Indonesia ini cuma Jawa, Yu? Sampeyan ini jangan bikin kisruh, lahh!”

“Lho, kan cuma usulan, Jeng. Apalagi kalo hurufnya pake ha na ca ra ka, wuihhh pasti keren, deh! Kita bisa bersaing dengan India, Thailand, Jepang, Tiongkok, mana lagi? Emangnya mereka doang yang punya huruf cantik?” ujarnya sambil mulai membungkus rujakku. Kalo udah korslet gini, males nanggepin obrolannya. Aku diam saja.

“Eh, tapi kasihan juga ya, huruf itu kan susah banget. Dulu aja kalo pelajaran nulis Jawa nilai saya paling bagus cuma enam. Angel banget, Jeng! Ada pepet, paten-patenan segala, halahhh mumet!” Tuh kan, usul sendiri kalo udah mumet sendiri 😈 Aku masih diam.

“Tapi gak papa ding, kalo pelajaran bahasa Inggris ditiadakan. Si Tole bisa dapat banyak obyekan yo, Jeng? Hihihihihi….” Nah…nah… begitulah Yu Minah, segala urusan dihitung berdasarkan untung rugi.

“Sampeyan kok diam saja, Jeng? Jadinya setuju pelajaran bahasa Inggris dihilangkan atau tidak?” tanyanya sambil menyerahkan bungkus rujak. Aku mencari-cari uang pas dalam dompetku.

“Jeng?”

“Jeng?”

“Ehh… apa, Yu?” sahutku sembari menyerahkan uang.

“Wheladalaaaaahhhh… jadi daritadi sampeyan gak ndengerin saya ngomongg?”

“Eh, ndengerin, kok!”

“Kalo gitu apa pendapat sampeyan?”

“Pendapat mengenai apa ya, Yu?”

“Lhadallaaahhhhh…..capek sayaaa….!”

Qiqiqiqiqi… :mrgreen: Wong aku lagi males ngomong yang sensitif, jehh… πŸ˜›

Β 

Jas Putih

Yu_Minah_1
Yu Minah mau nyusul nyang pada demo :mrgreen:

Menjelang makan siang, antara mendung dan panas, antara laper dan mual, antara galau dan senang. Serba tak jelas, sperti musim yang kadang hujan kadang panas membara. Ah, daripada ngelantur gak jelas mendingan nongkrong di warung Yu Minah. Lumayan, menyantap rujak di udara yang serba setengah-setengah ini.

Begitu sampai, aku langsung meneriakkan salam dan mendaratkan bemper di bangku favorit. Yu Minah menjawab salam dan tergopoh-gopoh keluar. Terdengar langkah kakinya yang berdebam-debam :mrgreen:

“Eeaalaah Jeeeng, lama banget ndak kemari to?” Yu Minah menyerbu sambil mendaratkan cipika-cipikinya. Aku tak kuasa lagi menghindari kecupannya yang basah itu yeaacchh….

“Lha ini mbolos apa gimana?” Nah, mulai usil kan, kepooo ajah!

“Cuti, Yu. Capek lahir batin, istirahat barang seharilah. Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” sahutku tak acuh. Maka Yu Minah segera beraksi. Demi menghindari obrolannya yang kadang sok tahu tingkat khayangan itu, aku main-main dengan ponsel pintarku.

“Jeng, Jeng, sudah tahu kabarnya Jeng Bumil belum?” Nah, rumpi deh. Aku cuma berdehem

“Itu lho, dia kan mau melahirkan tapi kabarnya hari ini dokter kandungan lagi pada demo.” Wah, aku terpancing nih!

“Terus?” tanyaku. Yu Minah menggerus gerombolan kacang dan teman-temannya dengan tenaga bulldozer yang baru keluar dari pabrik.

“Ya ndak jadi. Padahal hari ini kan dijadwal mau operasi sesar.”

“Ah, kok gampang termakan gosip to, Yu? Emangnya Jeng Bumil sudah ngecek rumah sakitnya?”

“Lho, wong dia di sms sama rumah sakitnya supaya menunda operasi kok, besok baru dijadwalkan ulang.”

“Waah, masa iya? Mestinya kan tetap harus ada dokter yang jaga, dong!”

“Lha ya ndak tauuu,Β  wong nyatanya begitu. Kalo ada operasi darurat gimana ya, Jeng? Kan mereka terikat sumpah dokter yang katanya harus mengutamakan nyawa pasien?”

Tanpa menjawab pertanyaan Yu Minah aku segera browsing. Eh, ternyata memang benar. Ada beberapa RS yang menutup poli kecuali UGD. Sedangkan pelayanan rawat inap tetap seperti biasa. Wah, berabe dong kalau ada rujukan sectio caesaria?

“Ini demo apa to, Jeng? Demo yang dokter mal praktik itu itu ya?”

“Iya, Yu. Aksi solidaritas dari para dokter kebidanan untuk mendukung ketiga sejawatnya yang dituduh mal praktik.”

“Sebetulnya emang mal praktik ndak to, Jeng?” Yu Minah mulai mengiris buah-buahan dengan jurus “Menebas Ilalang di Padang Belantara.” Lagi-lagi aku merinding dengan kecepatan dan ketajaman pisaunya.

“Gak tahu, Yu. Aku kan gak kompeten buat menjawabnya, wong gak ngerti. Kalau menurut MA ya dibilang salah, tapi kalau menurut IDI mereka sudah melakukan prosedur.”

“Terlepas dari bener ndaknya yo, Jeng, nek menurut saya ya ndak sepantasnya mereka itu dipenjara macam penjahat. Bagaimanapun mereka kan mencoba menolong nyawa seseorang, mencoba menyelamatkan bayi dan ibunya. Lha kalo sudah suratannya si ibu meninggal ya sudah di luar kuasa para dokter itu, kan ya? Jangankan operasi yang beresiko tinggi begitu, lha wong kita lagi tidur aja bisa-bisa gak bangun lagi kok?”

“Katanya karena lalai melakukan prosedur, Yu. Gak memberitahu resiko operasi pada keluarga, lalai melakukan beberapa tindakan sebelum operasi. Waahh, aku gak mudeng, deh! Ini juga kata internet.”

“Dokter juga manusia, Jeng. Setidaknya kan bukan tindakan kesengajaan mau menghilangkan nyawa pasien. Kalo dokter pelaku abortus sih saya setuju saja mereka di penjara, kalo perlu ya dihukum seberat-beratnya. Lah ini kan cuma para dokter yang lagi apes!”

Heran, Yu Minah semangat banget membela para dokter itu. Aku diam saja daripada salah komen πŸ˜€

“Eh tapi kalo para dokter ini pada demo, apa pendapat sampeyan, Jeng? Kan jadinya RS pada tutup?” Ya ampooon, Yu Minah nih udah kayak anchor yang suka mencecar nara sumber aja!

“Yah setuju-setuju saja, Yu. Ini kan bentuk solidaritas mereka, dukungan mereka, jangan sampai kasus dokter di penjara ini menjadi preseden di kemudian hari. Hanya saja mestinya gak perlu nutup poli yaa. Biarkan saja dokter-dokter muda yang demo, yang senior dan sepuh-sepuh itu duduk manis di poli? Atau demonya per shift, jadi poli tetap buka hihihihihihi….”

Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku. Aku pun menyiapkan uang untuk membayar.

“Iya ya, Jeng. Kalo operasi Jeng Bumil kan emang direncanakan. Lha kalo ada kasus darurat kan repot nanti ya?”

Yu Minah mengangsurkan rujak padaku.

“Jeng…Jeng, mbok coba sampeyan lihat di internet situ, demonya masih gak? Dokter-dokternya masih di jalanan gak?”

“Hah? Memangnya kenapa, Yu?”

“Kalo masih, saya mau ke sana…ihik…ihik…barangkali ada dokter yang masih jomblo, kan lumayan ihik…ihik….”

“Astagaaa, genit banget sampeyan, Yuuuu???”

sick0022 Free Sick Emoticons

1220507Demo-Dokter780x390
Kalo dokter demo, masker gak ketinggalan πŸ˜›

Note: gambar ambil dari google πŸ˜‰

Dinasti

Girang

Meski libur Idul Adha baru saja dinikmati, tapi raga ini terasa lelah sekali. Masak ketupat? Gaklah, gak bisaaaa hahahaha… Nenekpun sedang pulang ke ranah Minang, tak ada ketupat maupun gulai dan rendang πŸ˜› Maka kulangkahkan kaki ke warung Yu Minah, biarlah hari ini aku tidak masuk saja, entah mengapa lutut sebelah kiri ini terasa sakit, bagaimana menginjak kopling nanti?

Libur hari raya Idul Adha

Mestinya makan gulai dan ketupat

Sayang disayang ku tak bisa

Maka rujak Yu Minah saja yang ku dapat

Sudah tentu menjelang siang begini warung Yu Minah sepi. Kuteriakkan saja salam dan langsung mendarat di bangku favorit. Yu Minah pun keluar dengan daster bat wing nya πŸ˜€

“Ya ampuun Jeng, sampeyan kok jarang kemari akhir-akhir ini? Nah, ini hari Rabu kok santai-santai? Memangnya libur to?”

“Sakit, Yu,” sahutku pendek saja. Kuraih koran langganan Yu Minah.

“Ck…ck…ck…wong baru kemaren libur kok sekarang ndak masuk to? Jangan-jangan Senin juga bolos yaaa?” goda Yu Minah usil. Hih, pengen tak ulek juga nih bakul rujak satu ini.

“Enak aja! Senin kemaren itu malah ada meeting dan presentasi, Yu! Gak sia-sia saya masuk di hari kejepit, dua proyek goal!”

“Alhamdulilah kalo gitu, Jeng. Selamat, deh. Eh, ini mau pesan apa?”

“Biasa, rujak serut pedes tapi gak banget,” jawabku lalu melanjutkan membaca koran. Di halaman muka koran terpampang wajah kinclong Queen Atut, penguasa Banten. Judulnya pun cetar membahana, “Dinasti Queen Atut, Kerajaan Tujuh Turunan.” Walah…walah…provokatif banget nih koran πŸ˜€

“Baca apa Jeng, kok senyam-senyum?” tanya Yu Minah sementara tangannya sibuk menggerus kacang-kacang tak berdosa itu.

“Ini lho, Yu, berita provokatif tentang dinasti Queen Atut.”

“Hahahaha….yang provokatif kan judulnya, lha kalo beritanya yo memang betul to?”

“Padahal kalo mau jujur, gak cuma dia yang begini ya, Yu?”

“Hohoho… ya jelas saja. Sama saja Jeng, ndak Pak Boss ndak anak buah,Β  daerah sana sini kalo ada kesempatan ya sikat aja,” ujar Yu Minah gemas.

“Emangnya gak malu apa ya, Yu? Kalo aku kok sungkan ya meski ada kesempatan gitu. Misalnya nih ada keluargaku yang punya jabatan di kantornya, trus punya proyek. Meskipun ditawarin pasti gak mau. Dan biasanya keluargaku gak akan menawarkan ke keluarga, mending keluar sekalian. Kan gak enak tuh nanti disangka KKN atau cari keuntungan. Hiiii ngeriiii. Lha ini malah menguasai sak propinsi!”

“Hahahaha… maap nih Jeng, kalo proyek perusahaan kan ndak seberapa besar. Lha kalo sak propinsi apalagi sak negoro apa ndak menggiurkan itu?” kekeh Yu Minah sinis. Meragukan kesucianku rupanya.

“Terserah, Yu. Buat saya itu udah harga mati. Didikan ayahandaku begitu. Coba dulu kalo beliau mau, waahhh sudah jadi pegawai negri aku ini. Sudah pegang jabatan pula. Dan pasti sudah banyak proyek-proyek dibagi rata ke seluruh keluarga. Kebetulan beliau dulu pejabat bagian “basah”. Tapi boro-boro, malah beliau bilang, ‘gak usah jadi pegawai negri, Nduk, gajinya kecil, wis cari kerja swasta saja, mudah-mudahan bisa bergaji baik.’ Gitu, Yu!” Mendadak mataku berkaca-kaca mengenang ayahanda yang begitu lurus hidupnya, meski menduduki jabatan penting, tapi hanya sederhana hidup kami, bahkan seringkali harus lebih ketat dalam menjalani kehidupan.

“Hehehe…ya maap Jeng, hari gini kayaknya ndak ada sih yang masih seidealis sampeyan. Jangankan kakak adik, lha wong sepupu jauh, ipar, saudara tiri, wis pokoke kalo masih ada sangkut pautnya bisa diloloskan mengapa tidak?” ujarnya berretorika sembari memotong buah dengan jurus “Pedang Angin Mengoyak Gemunung”.

“Apa yang salah ya, Yu? Sudah gak punya malukah? Atau gila kekuasaan? Aku kok sedih to mikirnya. Lha kalo lingkarannya keluarga semua apa gak rawan korupsi?” keluhku prihatin.

“Ya selama UU masih membolehkan siapa saja mempunyai posisi di pemerintahan sekalipun itu kerabatnya ya ndak salah, Jeng. Mestinya dibuat saja kayak kalo undian-undian atau sayembara berhadiah itu lho.”

“Maksudnya?”

“Ya kan kalo kita ikut undian misalnya kopi, kan ada peringatannya gini “undian atau sayembara ini tidak berlaku bagi karyawan PT. Anu maupun keluarganya” gitu to? Nah, kalo seseorang sudah menjabat jadi gubernur atau walikota atau bupati ya berati keluarganya ndak boleh ikutan jadi apa ajaaa di pemerintahan situ.”

Aku tertawa geli. Sembarangan Yu Minah ini, meski ada betulnya juga sih. Aku mengeluarkan dompet melihat Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Yu…Yu… kalo sampeyan nyaleg pasti tak pilih deh. Idenya itu cerdas banget,” godaku.

“Woo, ndak bisa Jeng, wong Pakde saya itu bupati jeh.”

“Hah? Masa iya, Yu? Bupati mana?”

“Bupati ketoprak di kampung sana bhuahahahahaha…..”

Sial! Kirain beneran! 😑

Wajah Yu Minah

Semenjak aku sering memosting obrolanku dengan Yu Minah Si Bakul Rujak Sok Tau itu, banyak Kawan yang bertanya sebenarnya Yu Minah itu ada beneran gak sih? Itu tokoh fiktif ya? Atau alter nya Mbak Choco? Hiiii… aku masih waras kok Kawan, bukan penderita MPD πŸ˜€ Boleh percaya atau tidak, Yu Minah itu memang benar ada. Dan obrolanku dengannya pun sungguh ada meski kadang diperhalus atau justru aku tambah-tambah :mrgreen: Maklumlah, Yu Minah itu orangnya ekspresif banget dan kadang biacara tanpa rem, gak peduli menyinggung perasaan maupun peranakan orang lain. Tapi aslii, rujaknya enak banggeeeettt, makanya meski kadang menyebalkan pelanggannya tetap saja kembali dan kembali lagi.

Nah, pasti Kawan juga bertanya, kalo emang bener ada mana buktinya? No pic is HOAX!Β  Nah, ini…ini yang sulit. Gimana aku mau foto Yu Minah kalo di warungnya pating trempel gambar-gambar begini:

Signage yu minah

Jangankan motret Yu Minah, motret ulekannya aja gak boleh!

“Emang kenapa Yu, saya gak boleh motret cobek dan ulekan sampeyan yang segede Gaban itu?” tanyaku suatu kali.

“Ehh, pantangan, Jeng. Ini cowek dan ulekannya tuh yang mbikin masih kerabatnya keturunan Empu Gandring jeh!”

“Hah? Empu Gandring? Bukannya Empu Gandring itu ahli bikin keris?”

“Lho, sampeyan ini kan ndak tahu to, Jeng. Memang Empu Gandring itu ahli mbuat keris, tapi kerabat keturunannya generasi yang kesekian itu jago mbuat cobek! Nih, punya saya ini bukan sembarangan ulekan. Batunya aja dari pecahan candi Borobudur, cobeknya dari batu utuh jaman embuh gak tahu, dapat dari Sangiran. Yang mbikin ya itu, cicit keponakan dari kerabatnya keturunan Empu Gandring generasi kesekian!”

Aku cuma bisa melongo mendengar penjelasannya.

“Jadi ini pusaka, Yu?”

“Hehehehe…. wis pokoke ini istimewa, ndak boleh dipublikasikan! Nanti kalo masuk berita gimana? Yu Minah ngulek diberitain Yu Tub, padahal kan saya ndak kenal sama Yu Tub to?”

Pernah aku curi-curi mencoba mengambil gambar Yu Minah, ponsel sudah tak siapkan. Bunyi “klik” sudah tak matikan, blitz apalagi. Amanlah. Tapiiii sampai rumah kulihat, gambarnya hilang! Lhah, gak ke save apa gimana ya?

Tapi demi membela diriku agar aku tak dianggap pemeran Yu Minah, maka aku berusaha membuat kartunnya πŸ˜€ Gak terlalu mirip, tapi kira-kira beginilah penampakan Yu Minah. Sudah kuupayakan semiriiiip mungkin. Nah, mari sama-sama kita lihat wajah cantik tapi agak wagu Yu Minah πŸ˜€Β  (sstt, Yu Minah gak ngeblog kok πŸ˜› )

Baca lebih lanjut

Panjang Umur

Minggu depan sudah puasa, sudah pasti selama seminggu Yu Minah bakalan tutup. Mumpung masih tanggal muda, aku bermaksud menimbun rujak Yu Minah hiihihihi…. Karena kalo bulan puasa itu berbukanya pengen yang heboh, dan biasanya justru pengen makan yang lagi gak ada :mrgreen: Maka meski gerimis mengundang, aku menyambangi warung Yu Minah.

Memasuki pelataran rumah Yu Minah yang sejuk itu kulihat Tole sedang mencuci motornya.

“Lho, gak kuliah, Le?” tanyaku. Pemuda yang baru aja gede itu tersenyum manis. Heran, Yu Minah wajahnya gitu-gitu aja tapi kok Si Tole ini bisa ganteng ya?Β evilgrin0039 Free Emoticons   EvilΒ  Mungkin warisan dari Bapaknya.

“Masih libur, Tante. Kebetulan Ibuk hari ini ulang tahun dan masuk angin pula, jadi ya saya pulang.”

Wiets, bisa dipalakin nih 😈 Akupun segera berseru meneriakkan salam. Yu Minah tergopoh-gopoh menuju teras jualannya. Syal di lehernya melambai-lambai tertiup angin.

“Waah, tumben Jeng.”

“Iya Yu, mau nimbun buat puasa besok. Oh ya, selamat ulang tahun ya Yuuu, panjang umur, sehat selalu dan murah rejeki,” ujarku sambil menyodorkan tangan bersalaman. Dasar Yu Minah, yang ada malah menubrukku dan mendaratkan cipika cipikinya yang lembab itu ke pipiku. Kali ini pake anget pula karena dia sedang sakit. Haduh!

“Makasih lho, Jeng. Pasti tahu dari Tole ya? Ah, kamu itu Le, wong sudah tua gini kok ya masih diulangtahunin. Itu, Si Tole pake mbeliin saya kue, Jeng.”

“Yo gak papa to, Yu, namanya anak kan pengen menyenangkan orang tuanya. Buatkan dua ya, Yu. Satu serut satu ulek, pedes tapi gak banget.”

Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan sambel.

“Iya ya, Jeng. Tole juga mendoakan saya biar panjang umur, sehat, murah rejeki. Tapiii….saya gak mau punya umur panjang-panjang, Jeng.”

Wah, tentu saja aku kaget.

“Kenapa, Yu?”

“Yaa kalo bisa saya itu pengen meninggal di saat masih sehat, Jeng. Masih bisa berwudhu suci dari hadas, masih bisa shalat, masih jernih pikiran. Lha kalo umur berlebih tapi ndak bisa berbuat semua itu buat apa?” Santai sekali Yu Minah mengatakan itu, sembari memotong-motong buah dengan jurus “Menumpas Kebatilan” whet…whet…whet…. ngeri deh lihatnya.

“Kalo orang sehat mana bisa meninggal, Yu?”

“Lho, ya bisa saja. Meninggal itu Jeng, ndak harus karena sakit atau kecelakaan. Kalo sudah ajal biar lagi ngulek gini bisa saja tiba-tiba saya “dut”!”

“Hush! Sampeyan nih Yu, kalo ada malaikat lewat gimana?” tegurku.

“Ya biar aja lewat, haaiiii…” Ediyan, sembrono sekali Yu Minah ini. Gak biasa-biasanya.

“Kalo dunia medis mungkin bilangnya serangan jantung, kalo jaman dulu orang bilang kena “angin duduk”. Tapi intinya ya itu, sudah tiba ajalnya. Tuhan berkehendak mati ya kita mati. Malaikat datang menjemput ya kita harus ikut. Nah, saya pengennya nanti kalo meninggal ya kena angin duduk itu saja, Jeng,” lanjut Yu Minah. Ini… ini… berat ini, kalo sudah begini aku gak ngerti. Tapi kalo gak ngeyel ama Yu Minah itu gak seru jadinya :mrgreen:

“Ah, itu namanya sampeyan egois, Yu!”

“Lho, egois gimana to, Jeng?”

“Sampeyan kan punya Tole, tentunya Tole pengen ditungguin sampai bisa punya kerja bagus, sampai berkeluarga. Dan namanya anak pasti pengen lah ditungguin orang tua, Yu. Paling gak Tole masih membutuhkan sampeyan sampe umur 80 an gitu!”

“Lhadalah, Jeng. Kalo urusan anak, saya titipkan saja pada Tuhan. Kan sudah saya bilang, daripada saya nanti pikun gak bisa lagi shalat, lupa urut-urutan wudhu kan malah ndak ada artinya to? Rasulullah saja ndak sampai segitu kok,” tukasnya sambil mulai membungkus rujakku.

“Tapi kan pasti Tole ingin membalas merawat sampeyan, nyeneng-nyenengin sampeyan, malah aku yakin Tole pasti pengen menghajikan sampeyan. Ya kan, Le?” tanyaku pada Tole yang sejak tadi senyam-senyum mendengarkan obrolan kami.

“Ya jelas, Tante. Tapi apa kata Ibuk sajalah,” sahut Tole pasrah.

“Memangnya sampeyan dah siap, Yu?” tanyaku menyerah.

Apa yang dikatakannya ada benarnya juga, meski aku sesungguhnya paling takut membicarakan kematian. Selama ini kan aku berdoanya agar diberi panjang umur agar bisa menimang cucu. Kalo begitu mulai nanti malam akan kutambah doaku, agar diberi panjang umur dan diberi sehat serta pikiran jernih :mrgreen: Bagaimanapun aku ingin mendampingi kedua malaikatku sampai mereka tak membutuhkanku lagi. Tapi sampai kapan? Bahkan sampai saat ini pun aku masih membutuhkan Ibundaku. Jika aku merasa sakit, Ibundaku yang selalu kutelpon. Ah, aku akan selalu membutuhkannya love0085 Free Emoticons   Love

“Kalo nunggu siap ya ndak pernah siap, Jeng,” sahutnya enteng sambil menyerahkan rujakku. Aku pun mendekatinya dan menarik lepas syal yang ngubet-ubet leher Yu Minah.

“Lho, lho, mau diapakan ini, Jeng?”

“Katanya pengen kena angin duduuuuukk?”

“Weee lhadalaaaah, yo nanti to Jeeeeeng, saya kan belum 50 tahun? Nanti kalo sudah enam limaaaaa!”

:mrgreen:

Buat kekasihku, happy birthday. Semoga sehat selalu, semakin bijak, diberi kemurahan rejeki dan selalu dalam lindungan Nya. Amien love0083 Free Emoticons   Love