Cintaku · Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Panjang Umur

Minggu depan sudah puasa, sudah pasti selama seminggu Yu Minah bakalan tutup. Mumpung masih tanggal muda, aku bermaksud menimbun rujak Yu Minah hiihihihi…. Karena kalo bulan puasa itu berbukanya pengen yang heboh, dan biasanya justru pengen makan yang lagi gak ada :mrgreen: Maka meski gerimis mengundang, aku menyambangi warung Yu Minah.

Memasuki pelataran rumah Yu Minah yang sejuk itu kulihat Tole sedang mencuci motornya.

“Lho, gak kuliah, Le?” tanyaku. Pemuda yang baru aja gede itu tersenyum manis. Heran, Yu Minah wajahnya gitu-gitu aja tapi kok Si Tole ini bisa ganteng ya?Β evilgrin0039 Free Emoticons   EvilΒ  Mungkin warisan dari Bapaknya.

“Masih libur, Tante. Kebetulan Ibuk hari ini ulang tahun dan masuk angin pula, jadi ya saya pulang.”

Wiets, bisa dipalakin nih 😈 Akupun segera berseru meneriakkan salam. Yu Minah tergopoh-gopoh menuju teras jualannya. Syal di lehernya melambai-lambai tertiup angin.

“Waah, tumben Jeng.”

“Iya Yu, mau nimbun buat puasa besok. Oh ya, selamat ulang tahun ya Yuuu, panjang umur, sehat selalu dan murah rejeki,” ujarku sambil menyodorkan tangan bersalaman. Dasar Yu Minah, yang ada malah menubrukku dan mendaratkan cipika cipikinya yang lembab itu ke pipiku. Kali ini pake anget pula karena dia sedang sakit. Haduh!

“Makasih lho, Jeng. Pasti tahu dari Tole ya? Ah, kamu itu Le, wong sudah tua gini kok ya masih diulangtahunin. Itu, Si Tole pake mbeliin saya kue, Jeng.”

“Yo gak papa to, Yu, namanya anak kan pengen menyenangkan orang tuanya. Buatkan dua ya, Yu. Satu serut satu ulek, pedes tapi gak banget.”

Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan sambel.

“Iya ya, Jeng. Tole juga mendoakan saya biar panjang umur, sehat, murah rejeki. Tapiii….saya gak mau punya umur panjang-panjang, Jeng.”

Wah, tentu saja aku kaget.

“Kenapa, Yu?”

“Yaa kalo bisa saya itu pengen meninggal di saat masih sehat, Jeng. Masih bisa berwudhu suci dari hadas, masih bisa shalat, masih jernih pikiran. Lha kalo umur berlebih tapi ndak bisa berbuat semua itu buat apa?” Santai sekali Yu Minah mengatakan itu, sembari memotong-motong buah dengan jurus “Menumpas Kebatilan” whet…whet…whet…. ngeri deh lihatnya.

“Kalo orang sehat mana bisa meninggal, Yu?”

“Lho, ya bisa saja. Meninggal itu Jeng, ndak harus karena sakit atau kecelakaan. Kalo sudah ajal biar lagi ngulek gini bisa saja tiba-tiba saya “dut”!”

“Hush! Sampeyan nih Yu, kalo ada malaikat lewat gimana?” tegurku.

“Ya biar aja lewat, haaiiii…” Ediyan, sembrono sekali Yu Minah ini. Gak biasa-biasanya.

“Kalo dunia medis mungkin bilangnya serangan jantung, kalo jaman dulu orang bilang kena “angin duduk”. Tapi intinya ya itu, sudah tiba ajalnya. Tuhan berkehendak mati ya kita mati. Malaikat datang menjemput ya kita harus ikut. Nah, saya pengennya nanti kalo meninggal ya kena angin duduk itu saja, Jeng,” lanjut Yu Minah. Ini… ini… berat ini, kalo sudah begini aku gak ngerti. Tapi kalo gak ngeyel ama Yu Minah itu gak seru jadinya :mrgreen:

“Ah, itu namanya sampeyan egois, Yu!”

“Lho, egois gimana to, Jeng?”

“Sampeyan kan punya Tole, tentunya Tole pengen ditungguin sampai bisa punya kerja bagus, sampai berkeluarga. Dan namanya anak pasti pengen lah ditungguin orang tua, Yu. Paling gak Tole masih membutuhkan sampeyan sampe umur 80 an gitu!”

“Lhadalah, Jeng. Kalo urusan anak, saya titipkan saja pada Tuhan. Kan sudah saya bilang, daripada saya nanti pikun gak bisa lagi shalat, lupa urut-urutan wudhu kan malah ndak ada artinya to? Rasulullah saja ndak sampai segitu kok,” tukasnya sambil mulai membungkus rujakku.

“Tapi kan pasti Tole ingin membalas merawat sampeyan, nyeneng-nyenengin sampeyan, malah aku yakin Tole pasti pengen menghajikan sampeyan. Ya kan, Le?” tanyaku pada Tole yang sejak tadi senyam-senyum mendengarkan obrolan kami.

“Ya jelas, Tante. Tapi apa kata Ibuk sajalah,” sahut Tole pasrah.

“Memangnya sampeyan dah siap, Yu?” tanyaku menyerah.

Apa yang dikatakannya ada benarnya juga, meski aku sesungguhnya paling takut membicarakan kematian. Selama ini kan aku berdoanya agar diberi panjang umur agar bisa menimang cucu. Kalo begitu mulai nanti malam akan kutambah doaku, agar diberi panjang umur dan diberi sehat serta pikiran jernih :mrgreen: Bagaimanapun aku ingin mendampingi kedua malaikatku sampai mereka tak membutuhkanku lagi. Tapi sampai kapan? Bahkan sampai saat ini pun aku masih membutuhkan Ibundaku. Jika aku merasa sakit, Ibundaku yang selalu kutelpon. Ah, aku akan selalu membutuhkannya love0085 Free Emoticons   Love

“Kalo nunggu siap ya ndak pernah siap, Jeng,” sahutnya enteng sambil menyerahkan rujakku. Aku pun mendekatinya dan menarik lepas syal yang ngubet-ubet leher Yu Minah.

“Lho, lho, mau diapakan ini, Jeng?”

“Katanya pengen kena angin duduuuuukk?”

“Weee lhadalaaaah, yo nanti to Jeeeeeng, saya kan belum 50 tahun? Nanti kalo sudah enam limaaaaa!”

:mrgreen:

Buat kekasihku, happy birthday. Semoga sehat selalu, semakin bijak, diberi kemurahan rejeki dan selalu dalam lindungan Nya. Amien love0083 Free Emoticons   Love

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Rujak Termahal

IMG-20130619-WA0005
Biar gimana aku tetap cinta Bapak berkemeja merah itu kok 😳

Musim masih gak jelas batasnya, hujan dan panas silih berganti membuat virus pun berpesta pora character00292 Free Emoticons   Characters Setelah sempat terserang flu sick0018 Free Sick Emoticons tiba-tiba aku merindukan rujak Yu Minah yang pedasnya manjur menguras ingus itu :mrgreen: (huweekkk….) Maka di siang hari dengan mendung yang cukup tebal dan udara lembab, aku mengunjungi warung Yu Minah. Tampak bakul rujak yang montok itu sedang mengipas-ipas tubuhnya dengan heboh.

“Assalamualaikum, Yuu!” seruku mengucap salam lalu segera duduk di kursi favorit. Sengaja aku agak menjauh untuk menghindari cipika-cipiki mautnya Yu Minah.

Lanjutkan membaca “Rujak Termahal”

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Bisikan Ghaib

suburman
Gambar pinjam dari Google πŸ˜€

Hari ini entah mengapa malas sekali ngantor. Maka akupun memutuskan untuk sejenak meliburkan diri :mrgreen: Menjelang siang, ketika perut mulai berontak akupun melangkahkan kaki menuju warung Yu Minah. Yaah, sudah lama sekali aku tak singgah ke sana. Sebetulnya kesal sekali aku pada Yu Minah. Bagaimana tidak, dengan sewenang-wenang ia menaikkan harga rujaknya tanpa pemberitahuan. Setelah naik menjadi tiga belas ribu, tiba-tiba sekarang menjadi enam belas ribu. Tapi berhubung setiap tanggal-tanggal begini (batja: tanggal tuwa) aku jadi vegetarian, ya wislah aku ke warung Yu Minah saja πŸ˜›

Setelah menyerukan salam, aku mendaratkan diri di bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede gaban itu.

“Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” ujarku segera mengambil koran yang tergeletak di samping cobek Yu Minah. Asli, sengaja kulakukan ini untuk menghindari cipika cipikinya Yu Minah yang basah itu :mrgreen:

“Jeng, kok sekarang jarang mampir sini to? Apa rujak saya ini sudah kehilangan pesona? Sudah ndak enak lagi?” tanya Yu Minah sedikit merajuk. Aku jadi sedikit merasa bersalah πŸ˜›

“Bukan gitu, Yu. Jelas rujak sampeyan ini masih paling top sak mBogor sini, tapi karena mahal jadi males aku,” godaku. Yu Minah menghentikan ulekannya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Refleks aku mundur 30 cm.

“Sampeyan ini gak paham rupanya. Dalam setiap usaha kita mesti memperhitungkan adanya biaya produksi. Tahun lalu grafik pendapatan saya hampir menyerupai garis datar. Itu berarti ndak ada peningkatan. Nah, untuk meningkatkan revenue di tahun ini, maka salah satu usahanya adalah menaikkan harga jual, Jeng. Biaya produksi jelas naik, contoh gula jawa, buah-buahan, trasi, kacang. Lha kalo harga ndak ikut naik yo morat-marit saya nanti. Jadi sampeyan harus maklum, Jeng. Lagipula porsinya kan saya tambahin dikit biar mantep!”

Aku terpana mendengar jawaban Yu Minah. Dia ini bakul rujak atau akuntan pabrik batu batre to? Akupun melanjutkan membolak-balik koran daripada menanggapi ocehan yang bukan bidangku. Dari dalam terdengar TV Yu Minah menyiarkan berita infotainment. Seorang anggota DPR yang sedang heboh dengan perceraiannya. Akupun tertarik bergosip 😈

“Yu, kayaknya jadi anggota dewan itu ada kutukannya ya?”

Yu Minah yang sedang memotong-motong buah menatapku heran.

“Maksudnya?”

“Lha itu, coba sampeyan hitung Yu, ada berapa artis yang jadi anggota dewan terutama wanita, bercerai dengan suaminya? Trus kalo yang pria terlibat kasus syahwat. Belum lagi tergoda proyek atau obyekan. Padahal mungkin sebelum jadi anggota dewan mereka ini bisa jadi baik-baik aja lho.”

Yu Minah tertawa geli.

“Sampeyan ini mengada-ada, Jeng. Tahu darimana kalo mereka baik-baik aja sebelum jadi anggota dewan? Saya bukannya mau menghakimi, tapi godaan harta, tahta dan syahwat itu sifat dasar manusia, Jeng. Tinggal ada kesempatan atau tidak. Nah, mungkin saja ketika masuk sana sisi gelap itu tersalurkan? Satu orang berbuat, maka yang lain mengikuti karena itu dianggap hal biasa dan sah. Ikut arus. Kalo beda sendiri nanti malah ndak populer, dijauhi, dimusuhi. Sama kalo anak-anak itu pada tawuran, nek sendiri mana berani? Tapi begitu keroyokan pada ngikut to? Itu trend , Jeng! “

Tuh kan, Yu Minah ini kalo dipancing satu kalimat aja menanggapinya bisa berkilometer kalimat.

“Wah, parah sampeyan, Yu. Itu menuduh namanya. Kalo aku kan curiganya ada kutukan. Itu lebih mistis Yu, gak bisa dibuktikan, gak ada pasalnya. Kalo menuduh itu bisa kena pasal pencemaran nama baik, Yu.”

Yu Minah yang sudah mulai membungkus rujakku mendadak pucat.

“Waduh, iya ya, Jeng? Urusan perdukunan saja sekarang jadi pembahasan anggota dewan jeh. Wong orang gak beres yang selalu dapat bisikan ghaib aja kok diurusi. Kurang gawean to?”

Nah, nah, pembicaraannya sudah merembet ke mana-mana. Akupun cepat-cepat berdiri sebelum obrolan ini ngelantur gak jelas. Berita basi kalo di tangan Yu Minah bisa naik daun lagi nanti. Yu Minah mengangsurkan bungkusan rujak padaku.

“Sst, Yu, aku baru saja dapat bisikan ghaib,” bisikku. Yu Minah celingukan kiri kanan.

“Bisikan apa, Jeng? Siapa yang mbisiki?” Tanyanya sambil berbisik dan bergidik.

“Dari Eyang Ghaib, Yu. Katanya, hari ini rujaknya gratis,” bisikku lalu kabur.

“Welhadalaaahhh, sampeyan ini, Jeeeng! Ndak gratiiisss, enam belas ribu siniiii!” Teriaknya.

:mrgreen:

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Investigasi

Siang menjelang senja ini mendung sudah menggantung, angin pun lambat bertiup membuat udara lembab dan panas. Cemilan yang paling hot dalam cuaca begini tentu saja rujak Yu Minah. Maka sebelum hujan turun, aku segera menyambangi warung Yu Minah yang sudah lamaaaa tak kudatangi πŸ˜€

Seperti biasa Yu Minah menyambutku dengan suaranya yang membahana sedikit mendirikan bulu kuduk.

“Eaallaah Jeeeng, sampeyan kok baru kelihatan to? Tak pikir sudah pindah ke manaaa gitu!” serunya sembari tak lupa mendaratkan bibirnya yang selalu basah ke pipi kanan kiriku. Weeeks, begitu dia berbalik langsung kuusap pipiku dengan lengan baju.

“Gak pindah Yu, cuma repot banget sejak gak punya asisten nih. Kalo ada waktu luang ya buat beres-beres rumah. Tolong buatkan rujak ulek Yu, biasa ya pedes tapi gak banget.”

Dengan sigap Yu Minah segera menyiapkan bahan-bahan sambal dan buah-buahan. Dan aku seperti biasa langsung mendarat di bangku favorit, dekat meja uleknya Yu Minah. TV di ruang tamu Yu Minah tampak menyala meski tak ada yang menonton.

“Sampeyan lagi nonton apa to, Yu? Kok tumben volumenya kenceng sampe kedengeran dari sini?” tanyaku iseng sembari melihat kelincahan Yu Minah menggoyang ulekannya. Melihatnya mengulek memang selalu membuatku takjub. Seperti ada keanggunan sekaligus kegarangan dalam setiap gerakan menggerusnya. Seperti membalas dendam terhadap sesuatu yang pernah menyakitinya. Keras dan kuat dengan gaya yang anggun! Semua bahan langsung lumat dalam waktu singkat.

“Itu lho Jeng, acara investigasi apaa gitu. Reportase investigasi kalo ndak salah. Pokoke acara yang menjelek-jelekkan pedagang kecil deh!”

“Kok menjelek-jelekkan gimana to, Yu?” tanyaku heran. Sepotong nanas segar kucomot sebelum jatuh ke timbunan sambal pedas itu.

“Lha ya iya, coba team investigasi itu ke sana ke mari mencari kecurangan-kecurangan pedagang makanan. Tuh lihat, yang katanya pakai formalin lah, boraks lah, pewarna tekstil lah. Trus si pelaku diwawancara dengan suara disamarkan macam kartun gitu, muka dibikin siluet. Kan gak bener itu?”

“Gak benernya di mana, Yu? Kan bagus, mereka menginformasikan ke kita tentang kecurangan itu. Kita jadi berhati-hati membeli makanan, mengingatkan anak-anak supaya jangan jajan sembarangan. Lha bagus to itu?” tanyaku heran.

“Lhadalah Jeng, sampeyan kok ndak nangkep maksud saya to? Itu sama saja pembunuhan karakter! (hayah, bahasane Yu Minah) Coba, disebutkan dari delapan dagangan yang diteliti, terdapat empat yang positif mengandung formalin. Berarti kan masih fifty-fifty to? Tapi dampaknya apa? Kasihan yang fifty ndak pake formalin itu!” seru Yu Minah berretorika. Lagi-lagi aku cemas menatap mulutnya, jangan-jangan ada yang lompat ke rujakku. Hiiy.

“Terus gimana, Yu? Kalo gak ada acara ini kan kita jadi gak tau,” sanggahku.

“Gini lho Jeng, boleh-boleh aja bikin program kayak gitu tapi mestinya diganti kontennya. Misalnya tips membedakan bakso yang pakai formalin sama yang tidak itu cirinya apa, mencari tahunya gimana, trus menghindarinya gimana, kalo termakan resikonya apa. Gitu aja cukup, gak usah pake diliatin cara bikinnya. Lha itu kan sama aja memberi inspirasi buat pedagang lain yang berniat curang to?”

Hayah, menurutku Yu Minah agak lebay. Masa iya memberi inspirasi?

“Trus misalnya membuat cincau yang dicampur bedak keong itu, masa disiarin sampai detail cara bikinnya, campurannya, sampai perbandingannya. Lha itu sama aja ngajari to?” lanjut Yu Minah sambil mengaduk buah dan bumbu sambalnya.

“Lagipula Jeng, kalo niat si TV ini memang baik, sudah nemu pelakunya ya laporin polisi. Bukannya dijadiin kartun trus diwawancara, kalo sudah dikasih uang. Memangnya kita yakin, si tokoh kartun itu pelaku beneran ato justru orang bayaran? Saya kasihan sama pedangang lain yang jujur. Gara-gara tayangan ini kan jadi pukul rata. Semua pedagang dicurigai, padahal gak semua orang mampu makan di restoran mahal yang dijamin bersih dagangannya to?”

Waduh, Yu Minah ini kalau sudah terpancing bisa panjang lebar ceramahnya. Gayanya yang sok menggurui itu kadang membuatku tak ingin kembali. Tapi rujaknya lazzat banget!

“Yah, selama rating masih tinggi acara ini akan tayang terus, Yu. Kalo gak suka ya ndak usah nonton,” kataku.

“Bukan masalah nonton ndak nonton, Jeng. Wong acara ini yang nonton sak Indonesia Raya jeh. Saya kasihan sama Kang Supri, sepupu saya yang punya pabrik roti rumahan. Sejak ada kecurigaan roti pizza pakai formalin, peminat pizza nya turun drastis. Padahal dia jujur, wong hari ini bikin pizza kalo sampe malem gak laku yo basi kok. Saya nonton tuh acaranya di TV lain, bukan yang ini. Saya jadi heran, berarti semua TV menayangkan acara memojokkan ini ya?”

Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku. Maka aku pun segera menyiapkan uang.

“Mungkin mereka menganggap cara ini yang paling tepat untuk mencerdaskan bangsa, Yu. Supaya masyarakat kritis dan sadar akan kesehatan,” kataku sok bijak.

“Ya ndak gitu caranya, Jeng! Masih banyak cara lain untuk mencerdaskan dan mengkritiskan bangsa dari bahaya bahan-bahan ini. Mosok segitu banyak orang pintar di TV gak ada yang punya ide lain?” sergah Yu Minah sembari mengangsurkan rujak padaku.

“Eh Yu, rujak sampeyan aman kan? Ndak pake formalin kan?” Godaku sambil bersiap melarikan diri.

“Weelhadalaah, apanya yang mau di formalin, Jeng? Bengkoangnya, lomboknya? Ngawur sampeyan ini!” teriaknya kesal sambil mengacungkan ulekannya.

:mrgreen:

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah · Tak Enak

Terimakasih, Pak Camat

Mendung menggantung, udara justru panas seperti berada dalam termos. Aneh. Maka daripada keringat menetes sia-sia mendingan menyambangi warung Yu Minah yang sejuk, karena halaman depannya ada satu pohon mangga, satu pohon jengkol, dan satu mengkudu.

Sesampai di sana seperti biasa menyerukan salam dan langsung duduk di bangku kecintaan.

“Jeeng, sampeyan kok sekarang jarang ke mari to? Kan aku jadi rinduuu,” sambut Yu Minah. Aku sedikit gebes-gebes menerima rindunya yang menggebu itu. Idih banget kan? Aku segera mencium minyak kayu putih yang selalu kubawa.

“Capek Yu, kalo udah di rumah ya pengennya langsung santaiii gitu. Buatkan rujak serut satu, ulek satu. Biasa ya, pedes tapi gak banget,” sahutku seraya mengambil koran langganan Yu Minah. Baru saja membaca halaman depan, ponselku berdering. Walah, sore gini kok ya adaaa aja yang menelpon. Staf kantor, sebut saja namanya Ani (Sst, jangan bilang-bilang ya, ini nama sebenarnya).

“Yellooww,” sapaku dengan suara diberat-beratkan. Yelloow = Yes, hello πŸ˜›

Maka aku segera mendengarkan laporan Ani yang semakin menaikkan suhu, baik di luar maupun di dalam diriku.

“Gak bisa! Kan sudah dibilang, cek itu harus diajukan dulu ke Big Boss. Itu kan bukan uang kecil!” Seruku gak sabar. Yu Minah yang sedang menggerus bahan sambal melirikku. Ah, aku dah males pindah, dah PW. Biar saja dia mendengar obrolanku.

“Ya kamu bilang dong, masa dia gak mau ngerti? Ini kan perusahaan, bukan duit pribadi yang bisa keluar kapan saja?” Aku masih saja mengomel.

“Bilang minggu depan. Kalo dia maksa ancam saja laporin! Ya…ya…gak…gak bisa…oke. Rabu ya. Oke, thanks, An.”

Akhirnya aku menutup telepon dengan gemas. Dan sudah kuduga sebelumnya, naluri mau tahu Yu Minah langsung terbit.

“Ada apa to, Jeng? Kok sepertinya mengesalkan gitu?” Tanyanya dengan lagak sambil lalu, padahal mau tahuuu. Tapi anehnya aku kok ya mauu aja cerita padanya.

“Gini Yu, ceritanya kantorku itu mau memperluas jenis usaha, nah mesti ngurus ijin ke dinas terkait to. Ceritanya rekomendasi dari Kepala Desa sudah ada. Sekarang lanjut ke Pak Camat,” ceritaku sambil mencomot sepotong nenas segar.

“Terus?”

“Nah, Si Pak Camat ini minta biaya sekian juta. Dinego sama temanku. Tau Yu, negonya itu di dalam mobil Pak Camat dan di pom bensin! Dia gak mau di kantornya. Singkat cerita mentok di segitu juta plus 30 sak semen buatΒ dana bedah rumah miskin (kok kayak acara TV manaaaa gitu ya?). Semen harus diantar ke kantor, uang harus masuk kantong.”

“Ediyan!” Sela Yu Minah gemas. Ketrampilannya mengiris buah dengan kecepatan seorang master Kung Fu itu tetap saja membuatku deg degan.

“Temenku gak berani mutusin dong, dia bilang mau diajukan dulu ke big boss. Eh, besoknya si Pak Camat telpon ke stafku yang lain, bilang kalo surat rekomendasi sudah jadi dan siap diambil. Berangkatlah si Ani ini ke kantor kecamatan dan dia mengambil surat rekomendasi itu! Blaik to?”

“Yo jelas blaik tenan itu!” Seru Yu Minah. Nah! That’s the point! Yu Minah yang bakul rujak saja mengetahui bener arti blaik itu. Mengapa Ani tidak? Dan boss juga tidak. Karena Ani mendapat restu dari boss untuk mengambil surat itu πŸ˜₯

“Dan sekarang Pak Camat marah-marah, gak mau tahu pokoknya uang harus sudah ada sekarang! Kayaknya mau buat beli sapi tuh. Sementara boss belum ngomong sama big boss dan tentu saja belum turun ceknya. Aduuuuh, mumet aku, Yu!”

“Jelas sampeyan ada di pihak yang salah. Kalo surat sudah diambil, itu berarti sampeyan sudah menyetujui semua syarat yang diajukan Pak Camat, termasuk waktu pembayarannya,” ceramah Yu Minah, “Emangnya bisa ngebon dulu kayak belanja di Engkoh hehehehe…”

“Tapi Pak Camatnya juga gak mutu. Kalo kantor itu kan gak bisa sak deg sak nyet mengeluarkan uang, Yu. Harus bikin payment voucher, form investasi, belum lagi cek yang tandatangan dua orang, baru dicairkan. Ribet, gak mungkin hari ini pengajuan besok turun duitnya,” kataku kesal.

“Lagipula gak malu banget sih? Minta-minta duit untuk pekerjaan yang memang sudah menjadi pekerjaannya. Dan dia sudah digaji untuk itu kan? Itu uang buat apa coba? Minta semen pula, kok jadi beban pengusaha ya?” Cerososku.

“Kalau ada acara bedah rumah miskin segala itu sampeyan berhak minta proposalnya, Jeng. Kayak kalo minta sumbangan tujuh belasan gitu. Sekian juta untuk itu, segini juta untuk ini, segitu juta untuk anu. Nah, sudah ada dana berapa, sisanya dilempar ke pengusaha. Silakan menyumbang sesuai kemampuan.” Seperti biasa Yu Minah yang keminter itu mulai ceramah sembari membungkus rujakku.

“Terus yang sekian juta untuk Pak Camat itu gimana?” Tanyaku.

“Yo itu terserah sampeyan. Jangankan Pak Camat, wong boss nya Pak Camat aja pasti minta kok, bossnya boss teruuus sampe mana ya?Β  Hiihihihi…..”

Aku membayar rujakku dan segera berlalu.

“Woiii Jeng, sebentar…” Panggil Yu Minah. Aku berbalik.

“Ada apa , Yu?

“Ehh…hehehe…minta nomer hape Pak Camat nya, doong,” katanya kemayu.

“Hah? Buat apa, Yu?”

“Nganu, saya mau minta supaya rumah saya dibedah gitu, hihihihi….”

Halah! 😑

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Ganti Seragam

Sore menjelang pulang, menunggu waktu sembari mendengarkan Mas Rio Febrian sungguh membuat perasaan ingin segera pulang. Lha kok tiba-tiba ada sms mengejutkan di ponselku. Dari Yu Minah! Jan, gubrak bangget deh! Nah, Kawan, aku pun berbalas sms dengan Yu Minah ini. Yuk, mari kita simak sms an yang bikin gregetan ini.

“Jeng, sampeyan liat tipi ndak? Pak Joko menang lho, Jeng πŸ˜€ “

Ya ampyuun, akupun menyegerakan membalas sms nya.

“Itu baru penghitungan cepat, Yuu, blm tentu jugak”

Lha kok Yu Minah pun menyegerakan membalas sms ku.

“Sdh jelas, Jeng. Dari dulu kuik kon itu pasti bener. Horeee…”

Idiihh bangget, deh! Aku langsung membayangkan Yu Minah lompat-lompat dengan daster kotak-kotak bat wing nya, sehingga seluruh tubuhnya bergetar bagai earthquake 8,2 SR!

“Jgn seneng dulu, Yu, nanti tunggu pengumuman resmi aja.”

Ndak bisa, Jeng. Wis sampeyan cepet nyari baju kotak-kotak buat gantiin seragam batik hari Jumat πŸ˜› “

Jiyan, pake melet-melet segala! Udah gitu mau gantikan baju batik Jumat dengan kotak-kotak? Idenya Yu Minah nih kadang-kadang njlantrah ke mana-mana! Wong tiap hari Jumat pakai batik itu kan gara-gara dulu tetangga mengklaim batik sebagai busana nasionalnya. Baru deh kita kebakaran jenggot, dan tanpa peraturan tertulis semua kantor mewajibkan mengenakan batik di hari Jumat. Seharusnya sejak dulu kita bangga dengan karya leluhur, bukan nunggu ribut dulu πŸ˜› Lha ini kok Yu Minah mengada-ada dengan seragam kotak-kotaknya? Ra mutu!

“Gak bisa, Yu. Baju kotak2 itu punya koboi, punya kita ya batik. Katanya wong Solo kok bangga pake kotak2, pake batik, dong!”

“Wheladalah, jgn mikir gitu, Jeng. Ya kita ttp bangga pake batik tapi kan boleh sekali2 pake kotak2 to, Jeng. Jumat minggu pertama dan ketiga pake batik, minggu kedua dan keempat pake kotak2.”

Lho, sms panjang gini yak :mrgreen:

“Sampeyan ini HRD po, Yu, kok ngatur gitu to?”

“Bukaaan, cuma usulan, Jeng. Sampeyan kok bawaannya angot gitu to? Pasti jagoannya kalah ya? πŸ˜› “

Asyem tenan Yu Minah ini. Gak kubalas sms nya, tak diemin aja. Lha kok dia ngirim lagi.

“Wis, ndak usah kecewa, Jeng. Nanti pulang kantor mampir, ya, tak buatkan rujak gratis wis, buat merayakan kemenangan Pak Joko. Dtg yaa.”

Iiih, ogah banget! Bisa berjam-jam mendengarkan Yu Minah berhore-hore dengan muncratannya yang heboh itu.

“Emoh!”

“Lho, kok ngambek to, Jeng. Tenan ini gratis lho, Jeng.”

“Emoh. Nanti saja kalo sudah resmi pengumumannya.”

“Lhadalah, tapi nanti kalo Pak Joko kalah sampeyan yg traktir lho.”

Wkwkwwkwk…. aku tertawa sendiri. Katanya sudah yakin, kok masih mikir kalah :mrgreen:

“Tenang Yu, kayaknya aku kok nanti yang bakal traktir sampeyan.”

“Wheee, sok tau sampeyaan. Nanti tak tambahin dasterku satu wis, masih baru gres. Kotak2, Jeng :D.”

Idih banget, deh! Aku gak membalas sms nya lagi. Wis ah, mulih ae!

“Jeng…”

“Jeng…”

Mbuh! :mrgreen:

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Kesurupan

Menjelang tengah hari kok tiba-tiba membayangkan rujak Yu Minah yang pedes seger itu ya? Kebetulan hari ini aku gak masuk kerja karena gak enak body, maka akupun meluncur ke warung Yu Minah. Siapa tahu setelah menyantap rujak seger itu keadaanku menjadi lebih baik πŸ˜€

Setelah menyerukan salam dengan merdu serak-serak becek, aku segera duduk di bangku favorit.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” Tanya Yu Minah keheranan.

“Lagi gak enak badan, Yu. Buatkan rujak ulek ya, pedes tapi gak banget, banyakin nanasnya,” sahutku. Yu Minah tertawa kecil sambil mulai meramu bahan rujak.

“Ndak enak badan kok ngepas Senen to, Jeng? Kapan hari itu kok ya pas hari Jumat, kadang malah pas hari kejepit,” godanya. Hih, kalo gak ingat rujaknya yang tiada duanya ini aku dah males aja ke sini. Tanpa meladeni godaannya aku mengambil surat kabar langganan Yu Minah, Mbogor Minggir Dikit Pos. Head line nya menarik dengan judul “KESURUPAN MASSAL”. Weits, mulai lagi, nih!

“Wah, kesurupan massal lagi nih, Yu? Dulu sempet ngetren trus ngilang eh ini ada lagi.”

“Hush! Kesurupan kok tren? Ini serius lho, Jeng, urusannya sama dunia lain. Kalo ndak ati-ati bisa-bisa sampeyan yang kena lho, amit-amit nuwun sewu, Mbah,” ujar Yu Minah bisik-bisik, seolah ada yang mendengar. Aku tertawa geli.

“Mbah siapa, Yu? Mbah Surip?”

“Sssstttt, sembrono! Sampeyan ini sembrono tenan, Jeng?” Hardik Yu Minah. Aku makin geli melihat wajahnya yang seperti orang kebelet sesuatu.

“Jadi sampeyan percaya, Yu, kalo anak-anak sekolah ini kesurupan bener?”

“Lho, ya sudah jelas gitu lho! Katanya di sekolahnya baru nebang pohon ndak permisi, ya penghuninya kabur to, lalu nemplok ke anak-anak ini. Buktinya habis didoain dan disembur langsung pada sembuh anak-anak itu, ” jelas Yu Minah sambil menggilas gula jawa dengan tenaganya yang “wow”.

“Kalo saya gak percaya, Yu. Itu histeria massal, dimulai oleh seseorang lalu lainnya tersugesti untuk melakukan hal yang sama, teriak-teriak, meronta, memang sih orang mengenalnya dengan kesurupan,” jelasku.

“Eehh, sampeyan ini jangan keminter, wong jelas-jelas gara-gara nebang pohon kok! Lha kalo bukan gara-gara –nuwun sewu, mbah– makhluk dunia lain lalu apa?”

“Gini lho Yu, coba perhatikan biasanya yang kesurupan itu remaja perempuan atau wanita muda kan? Karena apa? Karena perempuan itu lebih labil, lebih mudah tersugesti dan histeris. Nah, umumnya si pelaku utama kesurupan itu ada beban atau kecemasan luar biasa yang ditekan di bawah sadarnya. Ketika dia sudah tak mampu lagi menahan, kecemasan itu bisa meledak di luar kendalinya. Ya itu, teriak-teriak, atau bahkan bisa keluar suara yang bukan suaranya, seperti suara laki-laki atau bahkan suara mbah-mbah,” jelasku. Yu Minah melongo.

“Itu ilmu darimana, Jeng? Sejak jaman dulu, kalo ada orang suaranya berubah lalu minta kopi atau rokok atau apa, itu namanya kesurupan!”

“Itu kepribadian gandanya nongol, Yu! Kadang seseorang yang sangat tertekan atau depresi berat, bisa melahirkan pribadi lain di mana ia bisa menyembunyikan dirinya di situ. “

“Ah, ngawur! Lalu kok bisa anak-anak lainnya ikut teriak-teriak gitu?”

“Seperti kubilang tadi, tersugesti. Anak-anak lain yang mempunyai tekanan jiwa yang sama, biasanya ikut tersugesti untuk melakukan hal yang sama. Itu namanya histeria massal.”

Wis jan, sampeyan ini, coba nanti sore saya tak nanya Pak Ustad, bener ndak ocehan sampeyan ini. Memangnya anak sekolah itu punya beban apa yang sampai bikin histeris gitu?” Tanya Yu Minah sambil memotong-motong buah dengan kecepatan seorang ninja :mrgreen:

“Lho, kita mana tahu, Yu? Mungkin beban pelajaran yang terlalu berat, tuntutan menjadi yang terbaik, atau ada masalah di rumah, atau baru putus dengan pacar. Kalo wanita dewasa biasanya masalahnya lebih kompleks, apakah masalah ekonomi, sosial, keluarga,” jelasku.

“Ah, kalo memang cuma masalah kejiwaan kok bisa terjadi di mana-mana bahkan lain pulau segala?”

“Itulah peran TV, Yu, koran, radio. Jadi bisa ditiru. Coba TV gak nyiarin yo gak nular ke mana-mana dalam waktu yng berdekatan begini, Yu.”

“Pokoknya saya ndak percaya sama sampeyan, Jeng. Itu akibat nebang pohon tanpa slametan, ndak permisi dulu!” Yu Minah masih ngeyel saja. Ia mulai membungkus rujakku. Akupun segera menyodorkan uang.

“Ya terserah sampeyan, Yu. Tiap orang boleh memilih mana yang diyakini kok, sama kayak sampeyan yang meyakini kotak-kotak to?” Godaku. Yu Minah tersipu.

Tanpa menggodanya lagi aku segera meninggalkan warung Yu Minah. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara Yu Minah berteriak-teriak. Dengan terkejut aku segera berbalik.

“Yu…Yu… kenapa, Yu? Ada apa? Sampeyan kesurupan?”

“Welhadalah, bukaaaaan, Jeng, mata saya kecipratan sambeeelll, aduuh pedessss,” teriak Yu Minah kalang kabut mengusap matanya dengan lengan daster kotak-kotaknya.

“Ooo, tiwas mau tak gebyur air jeh, aku kira kesurupan,” godaku cekikikan.

“Lhadalaaaahh, disembur, Jeeengg, bukan digebyuuuuurrr!”

:mrgreen: :P:

Iseng Aja · Serial Yu Minah

Daster Kotak-Kotak

Tak sengaja lewat depan rumahmuuuu, ku melihat ada tenda biruuuu. Eh, maksudnya kemaren tak sengaja lewat depan warung Yu Minah, dan ternyata sudah buka. Tanpa berpikir dua kali aku mampir ke warungnya. Kangen juga hampir setengah bulan tak menyantap rujak Yu Minah.

Kulihat Yu Minah sedang mengulek dengan goyangannya yang heboh. Kuteriakkan salam padanya.

“Eeeehh, Jeeeng, waduuuh kangen banget aku. Maaf lahir batin yaa, muah..muah…” Dan kecupan Yu Minah yang basah-basah itu mendarat di pipiku.

“Sama-sama, Yu. Maaf lahir batin juga. Gak mudik to, Yu?” Tanyaku lalu duduk di bangku favorit.

“Ya mudik to, Jeng. Tapi gak lama-lama, cuma nyekar ke makam ayahnya Tole sama syukuran sedikit. Tole kan diterima di negri, Jeng, fakultas hukum sesuai keinginannya,” sahut Yu Minah berbinar-binar.

“Waah, hebaatt! Semoga kelak Tole jadi hakim yang bijak ya, Yu, sesuai cita-citanya.”

“Amin, Jeng. Eh, ngomong-ngomong mau pesan apa nih? Saya lagi bikin pesanan 20 bungkus rujak ulek. Kalo pesennya sama nanti tak barengin, Jeng.”

“Boleh, rujak ulek dua, Yu. Pedes tapi gak banget ya,” sahutku. Lalu Yu Minah meneruskan goyangannya. Sejenak kupandangi Yu Minah, kok seperti ada yang beda. Apa ya? Setelah lima menit baru kusadari. Yu Minah pakai daster kotak-kotak! Kotak keci-kecil yang kayak punya Pak Joko itu.

“Yu, sampeyan kok bisa punya daser gitu?” Tanyaku takjub. Kok ada ya versi dasternya? Jangan-jangan ada juga versi kebaya atau kaftan?

“Hehehehe… waktu mudik ke Solo kemaren saya beli, Jeng. Keren to? Inovatif banget ya kotak-kotak dibikin daster gini. Bisa memenuhi hasrat penggemar daster kayak saya gini,” jawab Yu Minah. Walah, pake inovatif segala Yu Minah ini πŸ˜€

“Memangnya sampeyan mendukung Pak Joko, Yu?” Tanyaku iseng.

“Hehehehe… wong sekampung, jeh. Lagian Jeng, sepertinya Pak Jokowi ini bagus ya, lihat saja prestasinya sebagai walikota Solo. Makin betah jadinya saya di sana. Meski saya agak kurang sreg dengan pasangannya.”

“Gak sreg gimana, Yu? Gak boleh SARA, lho.”

“Bukan SARA, Jeng, cuma kayaknya kok kebanting gitu sama Pak Joko. Piye, gituu.”

Halah, Yu Minah ini gak jelas banget sih?

“Memang pasangan ini kontroversi ya, Yu. Tapi kabarnya (aku tengak-tengok sekeliling) sstt… ada korupnya juga lho, Yu,” bisikku. Yu Minah menghentikan ulekannya.

“Jangan kemakan isyu, Jeng! Belum terbukti kan? Pak Joko itu kan pengusaha sukses, hartanya jelas. Lho kalo kekayaan bertambah ya wajar, kalo kita punya aset bertahun-tahun yo pasti manak to, Jeng? Yang namanya harta itu kan ndak harus duit to? Kekayaan beliau itu kalo diitung-itung ya masih masuk akal, masih bisa diterima nalar!” Yu Minah menggebu-gebu. Lagi-lagi aku kuatir ada yang muncrat ke cobek yang penuh buah itu.

“Kan katanyaa, Yu. Aku juga gak tau,” kilahku. Kalo Yu Minah sudah meradang, mesti cooling down.

“Lagipula, Jeng. Jaman sekarang ini ndak ada pejabat yang bersih! Berani potong kupingku kalo sampeyan bisa kasih tau pejabat yang ndak korup. Bagaimanapun mereka mesti balik modal. Nah, Insya Allah kita bakal punya pemimpin yang bersih, yang moga-moga bisa mengemban amanah,” tambah Yu Minah.

Aku tersenyum kecut mentang-mentang sak kampung dibelain mati-matian nih.

“Kalo pasangannya piye, Yu? Bersih juga gak?’ Pancingku. Yu Minah gelagapan.

“Eh… lha ya itu… Jeng, kan saya bilang masih ndak sreg. Piyeeee, gitu,” elaknya. Aku tertawa geli.

“Sik to Yu, memangnya sampeyan punya KTP DKI? Mau ikut milih putaran kedua nanti?” Tanyaku. Sesaat Yu Minah terbelalak, lalu pipinya yang tembem itu merah merona di mana-mana. Dia menunduk lalu mulai membungkus rujakku.

“Eh, hihihihi…..hehehehehe…. yo ndak punya to, Jeng. Saya kan warga Bogor kayak sampeyan,” ujarnya malu-malu. AKu tak bisa menahan diri dan tergelak.

“Lha terus ngapain sampeyan menggebu-gebu gitu? Wong gak ngaruh kok buat kita?’ Tanyaku di sela-sela tawaku. Yu Minah menyerahkan bungkus rujak padaku.

“Yah, namanya jugak sekampung, Jeng. Yo mesti dibela-belain to?” Jawabnya masih tersipu. Kubayar rujaknya.

“Sampai beli daster kotak-kotak ya, Yu. Punya berapa lusin, Yu?” Godaku.

“Welhadalah, Jeeeng, seneng banget sih sampeyan nggodain sayaaa?” Teriaknya mulai meradang. Aku pun segera melarikan diri.

:mrgreen:

PS. Daster kotak-kotak ini hanya imajinasiku saja, ntah ada ntah tidak. Kalo emang ada, kirimin dooong πŸ˜›

Iseng Aja · Serial Yu Minah

Orang Kaya Tinggal Tunjuk

Sudah lamaaaaa sekali aku gak bertandang ke warung Yu Minah. Kangen sekali rasanya, tentu sama rujaknya bukan Yu Minahnya :mrgreen: Maka hari Sabtu sore aku menyambangi warung Yu Minah yang tumben tampak sepi. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku kesayangan.

“Lhadalah, Jeeeng, kok lama banget ndak main sini to? Kangen banget saya!” Seru Yu Minah sambil cipika-cipiki lalu menepuk-nepuk bahuku dengan lengannya yang mantap itu. Untung aku gak sampai terbatuk-batuk.

“Iya Yu, lagi banyak kerjaan banget sampai-sampai gak bisa mampir mana-mana. Kalo dah pulang capek rasanya. Buatkan rujak ulek ya, Yu. Pedes tapi gak banget,” sahutku. Dengan cekatan Yu Minah segera meramu bumbu-bumbu di cobeknya yang segede Gaban itu.

“Kok tumben sepi to, Yu?” Tanyaku sambil iseng memegang-megang nanas yang belum dikupas. Air liur langsung terbit.

“Lha kalo liburan sekolah gini kan banyak yang pada ke luar kota to, Jeng. Wajarlah, setelah anak-anak stress ujian dan orang tua stress cari sekolah ya sekarang saatnya bersantai,” jawab Yu Minah.

Aku jadi teringat temanku yang sedang mencari SMU untuk anaknya yang baru lulus. Dan hebatnya ia lulus dengan nilai nyaris sempurna. Maka ia jadi rebutan banyak sekolah. Bahkan ia dibujuk untuk masuk ke sekolah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Jakarta. Ada satu Kelas Internasional bekerjasama dengan Cambridge nah di sanalah ia kelak akan bersekolah.

“Jadi ingat temen saya, Yu. Anaknya mau masuk SMU Kelas Internasional tapi biayanya mahal banget katanya,” ceritaku.

“Sekolah swasta ya memang mahal to, Jeng? Makanya saya bersyukur Si Tole bisa masuk negri yang bagus kemaren itu,” sahut Yu Minah sambil ngulek dengan hotnya.

“Bukan Yu, itu sekolah negri. Tapi keren, isinya anak pinter semua dan kerjasama sama luar negri. Masuknya saja 40 jutaan lho.”

“Walaaah, negri kok mahal banget to, Jeng? Ndak mungkin, itu mesti sekolah swasta, sampeyan salah informasi kali?” Yu Minah masih ngeyel saja.

“Sekolah ini, Yu, mempersiapkan siswanya untuk bisa melanjutkan sekolah di luar negri. Lha wong di kelas X mereka sudah belajar ke Singapore, trus nanti kelas XI ke Inggris, gak tau lagi deh nanti di kelas akhir ke mana lagi. Lha kalo bukan anak orang kaya ya gak bisa to, Yu?” Kataku mencoba menjelaskan sependek yang aku tahu.

“Belajarnya pun pakai bahasa Inggris Yu, baik bukunya maupun ujiannya. Malah tugas-tugas dari luar itu dikerjakan lewat internet. Siswanya pun mesti ikut ujian dari Cambridge dan Ujian Nasional. Wis pokoknya kalo gak pinter dan gak kaya ya gak bisa masuk situ, yu!” Tambahku.

“Itu namanya ndak adil, Jeng! Lho kalo sekolah swasta sih silakan aja pasang tarif mahal begitu. Nah kalo sekolah negri yo ndak bisa gitu. Mestinya biar kerjasama sama sekolah luar negri atau luar planet sekalipun ya harus mengutamakan anak pinter tapi justru yang ndak mampu!” Omel Yu Minah sambil mengiris buah dengan cepat. Duh, merinding aku takut keiiris itu jarinya yang segede pisang rebus.

“Susah Yu, biayanya darimana? Di situ kan fasilitasnya lengkap. Ada proyektor, lab lengkap, buku-bukunya tebel dari luar negri, belum lagi biaya untuk ke luar negrinya gimana?”

“Gini lho, Jeng, kalo memang mau memajukan pendidikan, bertaraf internasional pula, ya harus berani menyiapkan semua fasilitas secanggih apapun. Kalo orang kaya itu tinggal tunjuk mau sekolah di mana saja. Mau di luar negri pun jadi, lha mereka saja kalo liburan bisa keliling dunia to? Justru yang harus diperhatikan itu anak-anak yang pinter tapi ndak mampu. Bekali mereka dengan pengalaman ke luar negri, sekolah terbaik, pendidikan bermutu, dan kelak mereka bakal jadi duta negri ini dengan kecerdasan dan pengalamannya. Kalo negara ndak mau rugi ya kalo perlu kasih mereka ikatan, boleh sekolah internsional ndak bayar tapi nanti bekerja untuk negara. Ato gimana gitu, lho! Mereka pastinya lebih tahu.”

Yu Minah ini kalo sudah ngomong menggebu-gebu dan panjang. Aku hanya kuatir ada yang loncat dari mulutnya ke rujakku. Itu saja. Meski masuk akal juga apa yang dikatakannya. Beruntunglah anak-anak pintar yang mempunyai orang tua mampu, tinggal tunjuk mau sekolah di mana kata Yu Minah. Tapi terberkatilah negara ini kalo mau membiayai anak-anak pintar tapi kurang mampu untuk dapat memperoleh pendidikan sekelas anak-anak mampu itu.

“Itu tiap tahun mbayar segitu yo, Jeng?” Tanya Yu Minah masih gemas.

“Gak tau juga, Yu. Tapi katanya mereka transparan kok, tiap tahun gak tentu segitu, bisa berkurang dari 40 juta.”

“Trus kalo ke luar negri masih suruh mbayar lagi?”

“Mm, katanya sih kalo ke Singapore masih bayar lagi 2 jutaan, tapi seminggu lebih di sana, Yu. Trus gak tau deh yang ke Inggris harus bayar apa tidak.”

“Itu sebetulnya ndak seberapa kalo buat pemerintah. Wong untuk proyek ini itu saja bisa milyaran bahkan trilyunan. Yang dikorup saja setengahnya. Ya mending buat anak-anak ini to? Biar mereka juga ndak cuma cerdas, tapi berwawasan luas dan kaya pengalaman. Ndak ndeso kayak orang-orang di gedung sana, studi banding ke luar negri bawa-bawa keluarga. Ndeso to itu?” Kata Yu Minah sambil mulai membungkus rujakku. Ngomongnya sudah ngelantur. Harus segera diakhiri.

“Eh, Tole gimana, Yu? Mau melanjutkan ke mana?” Tanyaku sambil merogoh dompet. Wajah Yu Minah yang tadi kencang langsung melembut demi mendengar Tolenya disebut.

“Masih nunggu pengumuman negri, Jeng. Moga-moga lulus, biar saya ndak mumet.”

“Tak doakan, Yu,” kataku sambil memberikan uang.

“Eh, uang pas ndak ada, Jeng?”

“Ndak ada, Yu, cuma bawa selembar itu.”

“Waduh, saya ndak punya kembalian je,” kata Yu Minah sembari mencari-cari di kaleng uangnya.

“Yo wis tinggal aja, Yu, ntar kapan-kapan kalo beli lagi,” kataku melihat Yu Minah tak juga menemukan uang tujuh ribu untuk kembalian.

“Tapi saya takut lupa, Jeng, ndak enak nanti.”

“Hayah, dicatet to Yu, jangan ndeso gitu.”

“Hehehehehe…. semoga sampeyan yang lupa yo, Jeng.”

“Weeeh, ndak ada beda sampeyan sama orang-orang di gedung itu. Ndeso dan amnesia!” Gerutuku.

“Weelhadalaaaaah, cuma bercanda lho, Jeeeeengg…..!”

😈

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Nonton Bioskop

Karena penasaran akan keberadaan Yu Minah dan tentu saja karena merindukan rujaknya yang puedes dan nylekit, maka Sabtu lalu aku menyambangi warungnya. Dan ternyata, memang sudah buka! πŸ˜€ Setelah mengucap salam, aku segera menuju bangku kesayangan.

Yu Minah tergopoh-gopoh keluar dan langsung cipika-cipiki, klebus!

“Aduuuh, Jeng, kangen banget aku ngobrol sama sampeyan!” Serunya heboh.

“Lha, sampeyan ke mana aja to, Yu? Kok lama banget tutup warung? Buatkan rujak dua Yu, satu pedes satu sedang.”

“Iya Jeng, saya itu lagi prihatin. Si Tole kan ujian akhir jadi saya nutup warung. Kasihan, biar saya ndak bisa ngajarin tapi paling ndak ya nungguin kalo lagi belajar. Tak kasih makanan yang bergizi, cemilan, wis pokoke tak urusin banget deh,” oceh Yu Minah sambil dengan cekatan menyiapkan bumbu-bumbu lalu ngulek dengan yahudnya πŸ˜€

“Wah, hebat sampeyan. Semoga lulus dengan bagus ujiannya ya, Yu.”

“Amien, Jeng, semoga yaa.”

Pembicaraan sejenak terhenti karena aku sibuk mencicip buah-buah nan menerbitkan air liur itu hihihihihihi…. Tapi tak lama. Mana pernah Yu Minah diam lebih dari satu menit?

“Jeng, sampeyan sudah pernah nonton di Mal belum?” Tanya Yu Minah. Hihihihi…. bukan pernah lagi, setiap ada film bagus ya pasti nontonlah. Belum lagi aku menjawab Yu Minah sudah nyerocos lagi.

“Minggu lalu saya diajak nonton sama Tole. Wah, tadinya saya ndak mau, wong sudah tua dan dasteran begini masa nonton di mal?”

“Lha ya ganti baju to, Yu,” kataku cekikikan.

“Yo pasti to. Maksud saya, saya itu kan ndak pernah nonton, Jeng. Nonton terakhir itu sama Bapaknya Tole kira-kira 20 tahun lalu. Udah lama to?”

“Waduh, lama banget. Emangnya nonton apa, Yu?”

“Tole tuh ngajak nonton film Barat, saya ndak mau wong ndak ngerti bahasanya. Akhirnya nonton film Indonesia, halah roman-roman ndak mutu gitu, abege banget,” ujar Yu Minah.

“Memangnya ndak ada film lain, Yu?”

“Lhadalah, Jeeengg, masak iya sak bioskop kok filmnya horor semua. Haduuuh, ada Nenek Ciduk, Tali Pocong Bundet, trus apa lagi, wis pokoke ndak ada yang minat saya wis!”

“Sampeyan ndak seneng film horor, Yu?”

“Yo jelas ndak sukalah! Coba sampeyan pikir Jeng, kita sudah mbayar mahal-mahal kok sampe dalem cuma ditakut-takuti? Rugi to?”

Wkwkwkwkw…. tak tahan lagi aku tertawa mendengar ocehan Yu Minah. Tapi bener juga ya?

“Bukan itu masalahnya, Jeng. Yang saya ndak habis pikir kok kita ndak boleh bawa makanan dari luar ya?” Tanya Yu Minah. Memang hampir di semua bioskop petugas security memeriksa tas bawaan kita. Jika terlihat membawa makanan pasti diminta untuk menitipkan di penitipan.

“Itu kan melanggar hak asasi ya, Jeng? Maksudnya apa coba? Kalo maksudnya agar tidak membut kotor, ya ndak mungkin. Wong di dalam juga ada yang jualan. Malah sebelah saya itu makan brondong kok ya sampe tumpah-tumpah. Trus maksudnya apa coba?” Celoteh Yu Minah.

“Ya maksudnya agar kita beli di cafe di dalam itu, Yu,” kataku ragu. Benarkah?

“Wah, itu lebih aneh lagi. Wong air putih saja harganya tiga kali lipat di luaran kok? Itu kan pemaksaan namanya. Bolehlah kita dipaksa beli di cafe itu, tapi harganya harus manusiawi dong. Jaman dulu saya nonton di kampung ndak gitu kok. Malah kadang di dalam bioskop ada yang juwalan bakso, brondong, lontong, wedang teh, harganyapun murah-murah!”

Jelas Yu Minah berlebihan. Masa iya ada tukang bakso masuk bioskop? Tapi memang kadang aku berpikir juga, mengapa gak boleh membawa makanan ke dalam ya? Apakah karena kita “harus” membeli makanan di cafe itu? Yang harganya gak masuk akal karena bisa tiga kali lipat dari di luaran. Sebetulnya boleh gak sih begitu? Adakah peratutan yang mengatur soal itu? Itu kan sama saja kita tidak boleh makan di bioskop kalo gak mau beli di cafe itu.

“Memangya sampeyan bawa makanan kemaren, Yu?” Tanyaku mengalihkan pertanyaannya yang tak bisa kujawab.

“Waah, saya mbawa rantang tiga susun, Jeng! Paling bawah nasi, tengah rendang sapi, trus paling atas bakmi. Mantep to?”

“Ediyan! Sampeyan ini mau nonton bioskop apa piknik to, Yuuu?” Tanyaku gemas, “Memangnya Tole gak protes?”

“Ya jelas protes, wong saya disuruh jalan duluan, dia 200 meter di belakang saya. Malu katanya! Anak jaman sekarang kok ya tega sama ibunya!”

Aku tertawa geli lalu memberikan uang untuk membayar rujakku.

“Besok-besok jangan mbawa rantang, Yu,” ujarku sembari menerima rujak.

“Wah, sampeyan pasti punya ide cemerlang ini. Trus gimana ngumpetinnya, Jeng?”

“Bawa tas yang gede, trus makanannya ditutupi baju-baju, handuk, pakaian dalam, Yu!”

“Welhadalaaahh, memangnya mau mudik poooo?”

:mrgreen: