Iseng Aja · Serial Yu Minah

Ke Mana Yu Minah?

Sudah hampir satu bulan sepertinya aku tak berjumpa Yu Minah. Entah mengapa warungnya selalu tutup, meski rumahnya tidak tak berpenghuni. Ingin mampir tapi kok ya segan dan gengsi πŸ˜› Padahal sungguh, aku rindu sekali rujaknya juga sentilannya.

Bisa jadi Yu Minah tak berjualan karena Si Tole tengah menghadapi ujian akhir ya. Tapi kan sudah lama berlalu, mengapa hingga kini tak juga bertemu? Ah, coba aku tunggu sampai Sabtu. Jika tak berjualan juga, aku akan mampir ke rumahnya. Pura-pura nanya mau bikin rujak untukku tidak, padahal ingin tahu gerangan ada apa? :mrgreen:

Baiklah, tunggu kabarku ya, Kawan. Segera setelah bertemu Yu Minah aku akan bercerita. Eh, emang ada yang rindu dengan Yu Minah? Kalo aku siy…ehm…eh…ish! Kasih tau gak yaaaaaa…. πŸ˜›

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Serial Yu Minah · Tak Enak

Nggilani!!!

Tumben sekali setelah sekian hari Bogor panas membara dengan temperatur 33 – 35Β° C, hari ini hujan turun dengan indahnya. Sueger, adem, meski diiringi geluduk yang membahana. Dan ketika rinai berubah menjadi rintik, aku menyambangi warung Yu Minah dengan payung berumbai-rumbai. Sepi warungnya. Siapa pula yang akan berkunjung di antara gerimis dan basah? character00292 Free Emoticons   Characters

Salam kuteriakkan dengan merdu bernada dasar A minor dan Yu Minah tergopoh-gopoh keluar.

“Eeee, Jeeeeng, lha kok lama sekali ndak mampir sini to? Lha ini ndak kerja? Kok tumben jam segini udah nongol?” Sapanya riuh rendah. Aku langsung duduk di bangku kecintaanku sambil sedikit mengibaskan sisa gerimis di gerai rambutku (halah…halah…).

“Bolos, Yu. Katanya mau ada demo besar-besaran, daripada terjebak kayak waktu itu mendingan bolos aja deh. Rujak ulek ya Yu, pedes,” sahutku. Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan rujak.

“Walaaah, sampeyan ini, dikit-dikit bolos, wong demo aman-aman aja kok?”

“Cuti, Yu, bukan bolos. Lagipula apa sampeyan berani jamin kalo aman? Tuh di beberapa kota di luar udah rusuh,” ujarku, “Apalagi katanya ada yang bawa senjata rahasia segala.”

“Heh? Senjata apa tuh? Apa kayak senjatanya Naruto gitu, Jeng?” Tanya Yu Minah dengan heran. Goyangannya membuatku ikut bergetar dari bangkuku. Aku tengok kiri kanan takut ada yang mendengar.

Tinja, Yu!” Bisikku.

“Heehhh???” Nyaris saja ulekan segede Gaban itu terlempar ke arahku. Untung aku sigap dan segera berkelit dengan kuda-kuda yang kokoh.

“Sampeyan ni ngawur, Jeng? Lha dapet tinja darimana sebanyak itu? Mbawanya pake apa?” Tanyanya takjub.

“Iihh, ya gak tau, Yu. Sampeyan ini kok nggilani temen to, segala mbawanya gimana ditanyain?” Perutku nyaris bergolak karenanya sick0022 Free Sick Emoticons

“Kok sekarang aneh-aneh ya, demo kok bawa gituan. Menurut saya gak eleikhan itu, gak mencerminkan intelektual! Meskipun gak berbahaya tapi itu merupakan penghinaan luar biasa. Njijiki, siapapun jika kena barang keramat itu pasti akan terhina dan justru memicu kemarahan,” kata Yu Minah dengan gemas. Kata-kata eleikhan itu mengingatkanku pada seorang Om-om yang baru saja patah giginya innocent0009 Free Emoticons   Innocent

“Katanya senjata rahasia itu paling aman, Yu, gak kena pasal hukum karena gak melukai, jadi masih sah,” jelasku setelah tadi membaca berita di inet.

“Kalo gitu harus segera dibikin UU baru, ndak boleh pake barang-barang yang njijiki dan nggilani gitu!” Sergah Yu Minah. Dengan emosi yang sedikit membara itu aku jadi ngeri rujakku terlalu pedas. Maka kuawasi dengan seksama berapa cabai yang telah diuleknya.

“Lagian menurut saya BBM naik itu wajar saja yo, Jeng? Lha daripada gak boleh beli sama sekali, disuruh beli pertamax kan harganya malah makin mahal.”

Wah, nek Yu Minah sudah ngajak debat gini males aku. Banyak pendapat tentang perlu gak naiknya BBM, dengan data dan angka yang rakyat macam aku ini apa mudheng? Males! Males! Semua punya kepentingan dengan tiap argumennya. Rakyat ketjil macam aku ni tinggal menikmati dampaknya saja. BBM naik maka ongkos naik, beras naik, listrik naik, yang gak naik paling-paling dasterku saja, malah makin panjang karena makin kurus badanku (Kuruuss? Dari Hongkong??) Dibilang apatis yo wis ben. Emang udah muak semuak-muaknya melihat data yang entah akurat atau hasil menyulap.

“Wah, nek soal gituan aku gak ngikutin, Yu. Males! Mestinya kalo mo naikin harga itu pemerintah gak usah ngomong-ngomong. Bilang aja mau naik, kapannya gak usah kasih tau. Kan gak perlu ada demo gini,” umpatku kesal. Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Weeh, ya ndak bisa gitu, Jeng. Memangnya sampeyan gak protes kalo tiba-tiba beli bensin harganya naik tanpa pemberitahuan?” Sergah Yu Minah. Aku merogoh dompet untuk menyiapkan uang.

“Lha kan sudah diberitahu mau naik. Kalo diumumkan per tanggal segini naik nanti malah pada nimbun, isyu macem-macem bertebaran gak jelas, dan tentu demo heboh kayak sekarang,” sahutku sambil menerima rujakku.

“Tetap aja gak boleh, Jeng. Kalo ada kenaikan BBM, listrik, PAM dll harus disosialisasikan dulu, kan menyangkut hajat orang banyak. Jangan tiba-tiba mak jegagik harga naik, lha apa ndak malah menuai protes?”

“Ah, buktinya rujak sampeyan naiknya tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Dan biar diprotes harganya tetap segitu kan?” Sahutku lalu ngeloyor pergi.

“Welhadalaaah, wong sudah lama kok sampeyan masih dendam aja to, Jeeeng?”

tongue0003 Free Emoticons   Sticking Out Tongue

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Cita-Cita Si Tole

Siang hari nan cerah, saat yang tepat menikmati rujak Yu Minah sebelum hujan turun seperti biasa di sore hari. Tumben-tumbenan ada Si Tole di warung. Setelah mengucap salam aku duduk di bangku kesayangan.

“Ibumu ke mana, Le? Kok tumben gak ada?” Tanyaku heran sambil mencomot sebatang timun yang nampak segar.

“Lagi ke warung sebentar, Tante. Gak lama kok, Tante, permisi,” jawab Tole ramah. Lalu remaja menjelang dewasa itu masuk ke dalam. Rupanya ia diminta ibunya menjaga warung. Tak lama kemudian Yu Minah datang.

“Ee, sudah lama, Jeng?” Tanya Yu Minah. Di tangannya ada tas plastik yang entah apa isinya.

“Barusan kok, Yu. Buatkan rujak ulek pedes ya,” sahutku. Yu Minah meletakkan bawaannya dan segera meracik bumbu.

“Repot juga ya, Jeng, punya anak kelas tiga SMU begini. Mau lanjutkan sekolah kok ya susah bener. Perguruan tinggi sudah pada buka pendaftaran, tapi lihat uang sekolahnya kok saya jadi migrain begini,” keluh Yu Minah sambil ngulek bumbu rujak.

“Oh iya, Si Tole tahun ini ujian akhir ya?” Tanyaku.

“Iya, Jeng. Sudah dapat undangan dari Univeritas Masa Muda Masa Bergelora, masuk tanpa tes. Tapi uang masuknya 10 juta. Duit darimana? Kalo diterima trus gak jadi masuk, uang melayang,” Yu Minah masih berkeluh kesah.

“Mana undangannya di fakultas hukum pula,” lanjut Yu Minah.

“Lho, bagus itu, Yu. Jadi pengacara itu balik modalnya cepet, Yu. Lihat para pengacara yang sering nongol di TV itu. Mobilnya mewah, jamnya aja Rolex, jari sepuluh pake cincin berlian semua. Kalung emas kayak rantai gembok. Apalagi Tole kan pinter, otaknya encer, pasti cepet karirnya, cepet kaya!” Celotehku panjang lebar.

“Eeehh, amit-amiiiit, Jeng! Jangan sampai Tole jadi kayak mereka. Aduuh, bisa remuk jantungku, mengkeret ususku kalo Tole kayak mereka itu!” Seru Yu Minah sambil mengelus dadanya, lupa kalo tangannya belepotan gula Jawa. Kotor deh dasternya :mrgreen: Aku heran sekali mendengar ucapannya. Orang tua mana yang gak mau melihat anaknya sukses seperti mereka?

“Memangnya kenapa, Yu? Sampeyan gak suka Tole jadi pengacara sukses kayak mereka? Lihat tuh Hot Perancis, Elsa Surip, Ruh Simpul, kaya semua mereka, Yu!”

“Ndak, Jeng! Saya ndak suka melihat cara mereka membela klien. Pekerjaan mereka itu cenderung menghalalkan cara-cara yang tidak etis,” geram Yu Minah sambil mengupas kedondong yang nampak asam. Air liurku mulai terbit.

“Gak etis gimana to, Yu?”

“Sampeyan lihat tuh Si Elsa Surip. Belum lama ini ia membuka “kisah pribadi” tersangka Enjel Sendok. Dia mendongeng kisah rumah tanggal Anjel dan almarhum suaminya Eji. Tau to? Itu kan ndak etis namanya! Ngapain coba ia menceritakan kalo Mbak Enjel dan Mas Eji mau bercerai gara-gara hobi belanja Mbak Enjel. Mana ada yang tau kisah itu bener ato ndak, lha Mas Eji udah ndak bisa ditanyain to?” gerutu Yu Minah kesal.

“Itu namanya membentuk opini publik. Terlepas Mbak Enjel bersalah ato ndak, korup ato ndak, nerima apel ato ndak, kan ndak perlu mengungkit-ungkit kisah rumah tangganya? Apa hubungannya coba? Saya kok masih ndak ngerti sampai sekarang?” Yu Minah masih menggerutu sambil mengiris-iris timun dengan lincahnya.

“Err, mungkin untuk mengarahkan bahwa Mbak Enjel itu hobi belanja sampai duitnya gak keitung. Dari situ kan bisa kelihatan kalo dia gak tahan ama duit dan mau menerima uang panas,” ujarku sok tau. Bingung juga mau menanggapi apa kalo Yu Minah sudah emosi begini.

“Nah itu! Itu namanya menggiring publik untuk memvonis sebelum tersangka diadili. Itu cara-cara yang ndak etis menurut saya! Sekarang setelah publik menghujat Enjel dengan enaknya Si Surip itu bilang ‘Saya sudah tidak mau lagi menceritakan kisah itu. Sudah tutup‘ Lha iya jelas sudah tutup! Mission accomplished! Publik sudah mencap Enjel perempuan ndak bener, pembohong, sok mesra, sok cinta suami, menelantarkan anak, dan lain-lain yang ndak ada hubungannya sama apel Malang itu!”

Aku sampai terlompat mendengar Yu Minah mengatakan Mission accomplished. Wedeh, jago juga bahasa Inggris. Diajarin Tole barangkali?

“Ya sudah, Yu, barangkali begitulah cara para pengacara membela kliennya,” ujarku menenangkan Yu Minah.

“Ndak bisa gitu. Kalo sampeyan hobi baca novelnya Mas John Grisham pasti sampeyan akan tau, banyak cara untuk membela klien.”

Sekali lagi aku terlompat. Kenal John Grisham juga si Yu Minah ini?

“Sebenernya apa sih Yu, cita-cita Si Tole?” Tanyaku mengalihkan amarah gak jelasnya Yu Minah ini. Yu Minah langsung berseri-seri kalau membicarakan Tole.

“Dia pengen jadi hakim Jeng, hakim yang bijak yang ndak mempan suap, yang adil bijaksana,” jawab Yu Minah dengan mata berbinar-binar sambil membungkus rujakku. Aku sampai terbengong-bengong.

“Ya kalo gitu dah bener Yu, masuk ke fakultas hukum,” ujarku kebingungan. Yu Minah melongo.

“Lho, bukan Fakultas Kehakiman yo, Jeng?” Tanyanya.

Ealaaaaah, tak pikir pinter Yu Minah ini, bisa bahasa Inggris, kenal John Grisham segala. Gak taunyaaaa?

😈

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Valentine Digrebek

Sudah lebih seminggu aku gak singgah di warung Yu Minah, padahal kan masih punya utang enam ribu hihihihihi…. Meski tambah mahal tapi rujaknya memang membuat kecanduan πŸ˜€ Maka sore ini aku mendatangi warungnya. Seperti menjalani ritual, aku mengucap salam lalu duduk manis di bangku kebangsaan.

“Tumben lama ndak kemari, Jeng? Sampai kangen saya,” celotehnya begitu melihatku.

“Gak mau sering-sering, Yu, wong rujaknya sekarang mahal,” sahutku agak ketus. Alih-alih tersinggung Yu Minah malah cekikikan.

“Hihihihi….sampeyan ni lho, wong naik cuma tiga ribu kok ndak ikhlas to, Jeng?” godanya.

“Rujak ulek satu aja, Yu. Pedes tapi gak banget,” pesanku tanpa menanggapi godaannya. Kuambil surat kabar langganan Yu Minah. Heran, Yu Minah seneng banget baca koran gak jelas begini. Eh, lebih heran lagi kok ya aku ikutan baca hihihihihi…..

Tertulis headline “MENYAMBUT VALENTINE SEJUMLAH HOTEL MELATI DIGREBEK.” Aku tengok kanan kiri, ah sepi, langsung kulalap berita itu hihihihihi….. :mrgreen:

“Sampeyan dah baca sampe abis, Jeng?” tegur Yu Minah tiba-tiba. Tentu saja aku kaget.

“Sudah, Yu,” jawabku sambil buru-buru cari berita lainnya.

“Kok menurut saya ndak adil yo, Jeng,” ujar Yu Minah, tentu saja dengan goyangan ulekan yang hot. Aku terheran-heran.

“Gak adil gimana to, Yu?”

“Lha iya, itu hotel melati pada digrebek. Pasangan bukan suami istri pada ditangkepin, ada yang masih belia, ada yang sudah bau tanah, ada yang selingkuh,” gerutu Yu Minah semakin hot menggerus sambal. Aku malah bingung.

“Lha bagus kan? Di mana gak adilnya, Yu?”

“Sampeyan ini piye to, Jeng? Ya jelas gak adil! Kenapa kok cuma hotel-hotel melati yang digrebek? Lha yang hotel-hotel berbintang itu gimana? Di sana lebih buanyaaaak yang berbuat maksiat!” Cerocos Yu Minah sambil mengiris buah dengan gemas. Aku deg degan, takut kepotong jemarinya. Tapi aku diam saja.

“Itulah hidup di negara tercinta ini, Jeng. Kalo punya duit, ya slamet aja mau ngapain juga. Mau selingkuh di hotel bintang lima, mau pesta narkoba, wis pokoke kalo punya duit dijamin aman! Kalo mlarat ya siap-siap aja masuk bui kalo berbuat maksiat!”

Waduh, aku cuma garuk-garuk kepala gak tau mau ngomong apa. Ada benarnya juga ocehan Yu Minah ini. Uang bisa bicara.

“Mungkin kalo di hotel berbintang ada aturannya, Yu. Gak boleh nggrebek sembarangan, harus pake ijin kali,” akhirnya aku bicara meski ngasal aja. Sumpah, aku gak tau aturan mengenai perhotelan ini.

“Lha mau pake ijin mau enggak, kalo mau menegakkan tata krama, membersihkan penyakit amoral, ya harus adil. Yang mlarat digrebek yang kaya juga digrebek. Kalo harus pake ijin ya urus ijinnya. Berantas tuntas tas, gak usah pilih-pilih! Saya juga sebel kok sama orang-orang itu. Wong kiamat sudah dekat (kata Bang Deddy Mizwar) kok ya masih pada berani berbuat maksiat! Memangnya merayakan valentine harus dengan cara itu? Kasih sayang itu beda jauuuuh dengan syahwat, lho! Gak insap-insap, huh!”

Kalo Yu Minah sudah emosi dan ngelantur gini aku berharap rujaknya cepat-cepat selesai. Untunglah sudah tahap pembungkusan. Aku segera mengeluarkan uang.

“Nih Yu, sama utangku dulu.”

Melihat aku mengulurkan uang Yu Minah kembali tersenyum. Timbul keisenganku.

“Hati-hati Yu, warung sampeyan juga bakal digrebek lho.”

“Weh? Apanya yang mau digrebek, Jeng? Saya kan baik-baik saja?” tanya Yu Minah bingung.

“Rujaknya kemahalan!” sahutku sambil berlalu.

“Welhadalaaaah, sampeyan ini, Jeng, kok masih dendam aja siiiiiih?”

:mrgreen:

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Wajah-wajah Itu…

Siang yang panas, cuaca antara terik dan mendung. Hawa-hawa begini paling enak makan rujaknya Yu Minah yang sedep dan pedes itu. Maka dengan berjalan kaki tentu dengan payung berumbai-rumbai aku menyambangi warung Yu Minah. Sempat bertemu beberapa pengunjung yang menenteng bungkusan rujak nan lezat itu πŸ˜€ Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku kesayangan.

“Buatkan rujak serut dua Yu, satu pedas datu sedang,” ujarku.

“Kok tumben Jeng, week end gini ndak pergi mana-mana?” tanyanya sambil mulai menyiapkan bumbu sambal.

“Iya Yu, mau istirahat aja. Badan pegel semua gara-gara macet kemaren. Masa berangkat kena macet 3 jam lha pulangnya malah lebih parah, 4,5 jam!” keluhku.

“Ooo, gara-gara demo buruh kemaren ya, Jeng? Saya nonton beritanya di tipi, wuidddihh segitu banyak orang ck..ck..ck..”

“Saya sempat terhenti di gerbang tol, yo wis matikan mesin dan nonton demo bareng-bareng sopir truk dan pengguna jalan lainnya. Semua pada motret tapi saya gak brani keluar, Yu, lha wong emak-emak sendiri,” ceritaku sambil menimang-nimang kedondong yang mencurigakan asemnya.

“Kalo saya mendukung para buruh itu, Jeng, lha sekarang gini. Kalo pabrik itu keuntungannya misal seratus juta, trus dengan adanya kenaikan upah keuntungan jadi 60 juta. Mereka bilang rugi, padahal kan sebetulnya tetep untung, cuma berkurang. Gitu kan, Jeng? Apalagi kalo pabrik-pabrik besar yang harga jual produknya bisa gak ketulungan mahalnya, lha untungnya kan besar to?” tanya Yu Minah dengan penuh perasaan, sehingga nguleknya pun membuat tubuh montoknya bergoyang kian kemari. Sungguh, aku gak ngerti yang beginian. Maka aku diam saja.

“Coba sampeyan bayangkan, Jeng, UMK yang mereka ajukan itu sebetulnya masih masuk akal, lha wong pendapatan saya sebulan aja kadang bisa melebihi upah minimum yang golongan tiga itu kok. Coba dengan pendapatan mereka yang minimum itu mereka harus menghidupi istri dan anak, apa cukup? Belum biaya yang semakin tinggi, sekolah, ini itu. Kasihan to?” oceh Yu Minah. Digerusnya gerombolan kacang itu dengan gemas sampai lumat mat! Aku masih diam.

“Mestinya ikutin aja, tapi harus seimbang. Kalo upah udah naik ya karyawan harus disiplin, kerja keras, karena pasti target jadi naik. Dah gitu tingkatkan kualitas sehingga perusahaan juga senang mempekerjakan mereka,” lanjut Yu Minah.

Soal ini sungguh aku gak mengerti. Seandainya Yu Minah kenal dengan Le’Ndor atau Mastein tentu mereka akan bisa menjelaskan dengan lebih baik.

“Sepertinya gak segampang itu, Yu. Tapi kemaren emang aku lihat wajah-wajah pendemo yang kelelahan, mungkin juga terbersit kekuatiran di hati mereka akan nasib mereka nanti. Sebetulnya gak semua pabrik gak memenuhi tuntutan, Yu. Banyak yang sudah menerapkan, malah di wilayah kantor saya banyak pabrik yang sudah pasang spanduk |Kami mendukung sepenuhnya UMK 2012| gitu.”

“Lha ndak semua to?”

“Ya gak, Yu. Kalo semua ya gak perlu unras dong! Kan gak semua pabrik mampu, terutama yang padat karya ato yang modalnya pas-pasan. Aku malah kuatir kalo unras yang sampe nutup jalan gitu malah bikin investor pada kabur. Atau malah jadi PHK besar-besaran,” keluhku sedih.

“Jadi sebetulnya sampeyan ini mihak sapa to, Jeng? Katanya kasihan sama wajah-wajah lelah itu? Lah kok sekarang kayaknya lebih berat ke pabrik?” tanya Yu Minah dengan nada mengancam sambil mulai membungkus rujakku.

“Aku gak mihak siapa-siapa, Yu. Aku gak ngerti yang beginian, aku cuma pengen semua berakhir dengan baik. Tak ada pihak yang dirugikan atau dikecewakan. Bisa mengambil jalan tengah yang masuk akal. Itu saja,” sahutku seraya mengeluarkan uang dua puluh ribuan.

Yu Minah menyerahkan rujakku yang segera kubayar dan siap berlalu.

“Eh, Jeng, maap…hehehehe…. rujaknya sekarang naik, lho. Sebungkus tiga belas ribu, Jeng hehehehehe…..,” ujar Yu Minah sambil cengengesan. Lhah?

“Lho kok naik, Yu? Kan masih boleh beli premium to? Katanya pendapatan sampeyan melebihi UMK?” tanyaku kaget.

“Ehehehehe…iya sih, tapi harga gula merah naik, Jeng, ndak nutut saya hehehehe….”

“Walah, ini menaikkan sepihak, Yu, Harusnya kan diumumkan dulu to,” omelku sambil merogoh kantong celana. Gawat, aku gak bawa dompet, cuma bawa pas-pasan!

“Hehehehe… tapi ndak usah demo Jeng, wong cuma naik tiga ribu kok hehehhe.” Yu Minah masih cengengesan.

“Aku gak mau demo tapi ngutang dulu, Yu. Gak bawa dompet je, makanya mesti kesepakatan dulu tadi jadi aku kan gak perlu ngutang!” omelku sambil berlalu.

“Welhadalah, yo wis, sampeyan ngutang enam ribu lho, Jeng!” serunya.

Sial, kenceng banget! Dua orang ibu yang baru datang melirikku dengan aneh! 😑

Rujaknya bikin ketagihan, meski yang juwal bawel 😦

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Amnesia

Hujan-hujan begini sebetulnya paling enak makan yang anget-anget, kayak bakso, soto, ato tumis kompor. Tapi entah mengapa kok aku malah pengen rujak yang pedes, dikit asem, mungkin karena pengaruh kepala yang sedikit mumet ini. Maka meluncurlah aku ke warung Yu Minah. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung duduk manis di bangku favorite.

“Rujak ulek aja, Yu, pedes yaa, satu bungkus aja,” kataku lalu meraih surat kabar yang ada di meja.

“Eh, Jeng, dementia itu apa to?” Tanyanya mengejutkan. Waduh, nanya kok enjel benjet (angel banget) begini?

“Memangnya kenapa, Yu? Sampeyan menderita demensia?”

“Hush! Sembrono! Bukan saya, mbok dibaca itu lho korannya. Tuh, ada ibu-ibu yang kena amnesia, trus sekarang malah menjurus ke demensia,” sahut Yu Minah setengah kesal. Goyang ulekannya semakin hot. Sementara Yu Minah ngomel aku langsung browsing mengenai demensia ini lewat ponsel.

“Ojo nesu to, Yu. Nih, yang namanya demensia itu:

Demensia (bahasa Inggris: dementia, senility) merupakan istilah digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak.[1] Demensia bukan berupa penyakit dan bukanlah sindrom.

Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia. Orang-orang yang menderita demensia sering tidak dapat berpikir dengan baik dan berakibat tidak dapat beraktivitas dengan baik. Oleh sebab itu mereka lambat laun kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dan perlahan menjadi emosional, sering hal tersebut menjadi tidak terkendali.

gitu, Yu.”

“Wuih, sampeyan kok pinter banget to, Jeng?” puji Yu Minah sambil memotong-motong buah. Aku tersenyum dengan hidung kembang kempis. Padahal aslinya nyontek WikipediaΒ  :mrgreen:

“Jadi kalo orang amnesia itu bisa berlanjut ke demensia itu ya, Jeng?”

Walah, kok makin susah nanyanya. Buru-buru aku browsing lagi. Lhadalah, inetnya lemot, huwaaa….. Untunglah Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Barangkali, Yu. Wong amnesia itu kan daya ingat yang mengalami gangguan gitu. Lha demensia kan penurunan fungsional pada otak, ditandai pikun. Yo wis kira-kira nyambung lah,” elakku bergegas menerima bungkus rujak lalu segera berlalu. Kuatir Yu Minah bertanya macam-macam lagi.

“Eeee, Jeeeeng, rujaknya belum dibayar lhooo!” Tiba-tiba Yu Minah berseru memanggilku.

“Eh, hahahaha… hihihihi… hehehehe…. maap, Yu, kelupaan,” sahutku malu dan segera berbalik kembali.

“Sampeyan ini, Jeng, wong cuma sepuluh ribu kok ya mendadak amnesia. Lha nek milyaran rak yo bisa demensia to!”

Sial!!! 😑

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

2012

Hari pertama tahun 2012 aku langsung menyambangi warung Yu Minah. Dan tentu dengan hebohnya ia menyalamiku.

“Eeee, Jeeeng, met tahun baru ya? Kok ndak pergi liburan to? Muah…muah….” Dan kecupannya mendarat di pipi kanan kiri. Basah, wekkss! Begitu dia menoleh langsung kuusap dengan kertas tissue.

“Lha sampeyan sendiri kok gak tutup warung, Yu?” Aku langsung mendarat di bangku favorit.

“Wah boro-boro. Lha wong kemaren sore aja masih buat pesanan 100 bungkus je.”

“Weits, mantap tenan! Buatkan saya enam bungkus, Yu. Tiga serut tiga ulek. Pedesnya sedeng aja.”

“Tumben pesen banyak, mau dibawa kemana, Jeng?” tanyanya sambil mulai mengulek sambal.

“Biasa, mau ngumpul di rumah orang tua, Yu. Lumayan buat iseng-iseng,” sahutku lalu mencomot sepotong bangkuang.

“Oya, Kamis minggu lalu saya liat mobil sampeyan lewat sini, Jeng. Kok tumben pulang siang, gak mampir sini pula?” tanya Yu Minah. Dahiku berkerut berusaha mengingat-ingat.

“Ooo, Kamis kemaren. Iya Yu, aku ngabur, pulang cepet,” jawabku setelah teringat.

“Hihihihihi….sampeyan ini seneng banget ngabur. Nonton pilem lagi ya?”

“Gak, Yu. Itu aku ada meeting di Jakarta. Nah, pas denger radio, ediyan! Arah ke Jababeka Cikarang muacet ndedhet! Emang betul, pas aku tengok tol sebelah, wuidih gak jalan mulai dari tol Pondok Gede Timur!”

“Lho? Memangnya ada apa kok sampai macet gitu?”

“Mbuh, Yu. Katanya sih demo. Ada ribuan orang menuju ke Cikarang, katanya sih demo soal rencana pembangunan gereja terbesar se Asia Tenggara di Cikarang. Ada juga yang bilang demo buruh, ampek ribuan gitu. Tapi aku juga gak tau persis dan males cari tau,” sahutku.

“Ooo, emang sampe sore macetnya?”

“Ya gak tau, pokoknya pas selese meeting aku langsung keluar tol Bekasi Barat. Pulang. Lha kalo nekat ngantor bisa sampai jam empat, trus duduk sebentar pulang lagi. Berjuang lagi, ha mending pulang aja to?”

“Hihiihihihihi….. Ngomong-ngomongΒ  resolusi untuk 2012 ini apa, Jeng?”

Lhadalah, bakul rujak saja bisa ngomongin resolusi? Lha wong aku aja gak mudeng-mudeng amat je :mrgreen:

“Kalo sampeyan, Yu?” Aku balik bertanya.

“Yo ndak ada, Jeng. Masak bakul rujak kayak saya ini pake resolusi-resolusian. Saya cuma pengen tahun ini Si Tole lulus SMU dengan nilai bagus, jadi bisa dapat beasiswa nerusin sekolah,” ujar Yu Minah lirih, “Biar masa depannya cerah ndak kayak saya gini.”

Aku jadi terharu. Yu Minah mengusap setitik air mata yang mengalir di sudut matanya lalu meneruskan meracik rujakku.

“Moga-moga tercapai ya, Yu,” hiburku. Yu Minah mengangguk.

“Lha kalo resolusi sampeyan apa, Jeng untuk tahun ini?” tanyanya mencoba mengalihkan kegalauannya πŸ™‚

“Walah, banyak, Yu. Gak tau deh ini resolusi apa bukan, belum tentu terlaksana, lha wong duitnya gak ada. Pengen renovasi rumah, pengen ganti mobil,pengen liburan yang jauuuuhh gitu, pengen…..”

“Ssst, ndak usah aneh-aneh, Jeng,” potong Yu Minah, “Kalo boleh usul, resolusi sampeyan itu satu saja dan dijamin sampeyan bisa mewujudkan semua keinginan sampeyan.”

“Hah? Apa itu?”

“Jangan ngabur di jam kerja lagi….!”

Sial!!! 😑

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah · Tak Enak

Mandi Lumpur

Sudah lama sekali aku tak menyambangi warung Yu Minah. Selain karena perut sedang bermasalah, pulangnya pun malam terus. Maka Sabtu ini sengaja aku datang ke warungnya. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku favorit.

“Lhadalah, tak pikir sudah pindah rumah sampeyan, Jeng. Lama banget ndak main sini,” sambut Yu Minah antusias. Untung gak pake cipika cipiki segala deh.

“Iya, Yu, kangen juga sama rujak sampeyan ini. Buatkan rujak ulek Yu, pedesnya sedeng aja.”

“Baru pulang jalan-jalan, Jeng? Kok kayaknya capek gitu?” tanya Yu Minah sembari meracik bumbu sambal.

“Bukan habis jalan-jalan, Yu. Aku ini memang lagi kesel banget! Pokoke kalo tak umpamakan, diriku ini bagai gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas kemana-mana. Belum lagi kan kutiupkan wedus gembel segembel-gembelnya! Kan kulibas segala yang merintangi jalanku! Agar segera lapang dadaku dan sejuk jiwaku!”

“Qiqiqiqiqiqi…….” Lho? Kok Yu Minah yang montok semlohay ini malah cekikikan sambil ngulek?

“Sampeyan ini, Yu, wong aku lagi marah kok malah diketawain?”

“Saya baru tau, Jeng, rupanya amarah itu bisa membuat seseorang jadi putis jugak ya? Memangnya marah sama siapa to?”

“Sama PDAM! Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor!”

“Walah? Kenapa memangnya, kok sampe segitu marahnya sampeyan ini?”

Maka aku segera mengutak-atik ponsel pintarku.

“Nih, Yu, sebelum tak jelaskan mengapa aku marah lihat dulu foto ini.”

Lanjutkan membaca “Mandi Lumpur”

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Supporter Bayaran

Dukung Indonesia!

Sudah seminggu gak menikmati rujak Yu Minah, maka sepulang kantor aku mampir ke warungnya. Kelebihan Yu Minah adalah membuka warungnya hingga malam, jadi perempuan sok berkarir kayak aku ni masih bisa menikmati rujaknya sepulang kerja. Seperti biasa setelah mengucap salam aku segera bertengger di bangku favorit. Yu Minah segera menutup korannya melihat aku datang.

“Wah, sudah lama ndak main sini to, Jeng. Mau pesan apa nih?” tanya Yu Minah manis.

“Rujak serut aja, Yu. Pedesnya sedeng aja. Barusan baca berita apa, Yu?” tanyaku iseng lalu mengambil koran yang barusan dibaca Yu Minah.

“Itu lho, Jeng, berita SEA Games. Soal supporter itu, saya baru tau kok ada anak sekolah yang dibayar buat mendukung negara-negara yang lagi bertanding itu.”

“Maksudnya? Mendukung Indonesa to? Ya memang harus gitu to, Yu? Di mana salahnya?”

“Wee, mbok dibaca yang bener, nih yang ini beritanya. Dah, sampeyan mbaca dulu baru nanti komentar.”

Maka sementara Yu Minah bergoyang hot yang terkenal dengan julukan “Goyang Ulekan“, aku membaca berita yang ditunjuknya tadi. Sebentar saja alisku sudah bertaut dan pipiku mengerut serta mulutku mengerucut. Sementara Yu Minah mulai menyerut.

“Ediyan, bener, Yu! Jadi rupanya anak-anak SMP dan SMA itu diuutus oleh sekolahnya untuk mendukung negara-negara yang sedang bertanding. Dikasih kaos Maleysa, Thailand ato negara-negara lainnya, bendera, trus dikasih duit 20 ribu sama makan. Brangkat disewain bus segala. Lha piye to ini?” tanyaku tak mengerti.

“Lha ya itu. Rupanya pemerintah setempat memang mengajak kerjasama sekolah-sekolah itu untuk mendukung negara sahabat yang bertanding. Katanya supaya mereka merasa dihargai, tetap bersemangat, dan mengenal negri kita sebagai negri yang ramah dan bersahabat. Toh mereka ini kan “sahabat” Indonesa!” jelas Yu Minah mengutip berita di koran tadi.

“Sik to, menurut saya gak bener itu, Yu. Anak-anak ini kan masih piyik, masih labil-labilnya, lha harusnya kan kita tanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Supaya mereka ndak dikit-dikit luar negri dan lebih mencintai negri sendiri. Ini kok malah dibayar untuk mendukung negara lain, lha gimana cara njelasinnya ke anak-anak ini coba?” omelku mulai emosi.

“Itu, sampeyan baca…nah…yang ini. Tuh, anak-anak itu bilang ‘biar mulut mendukung Maleysa tapi hati tetap Indonesa‘. Gitu katanya,” sanggah Yu Minah.

“Halah! Tau apa anak-anak ini. Sekarang aku nanya, kalo sebaliknya kita yang jadi tamu dan bertanding di negara mereka, apa mereka memperlakukan hal yang sama? Anak-anak sana disuruh pakai kaos merah putih, melambaikan bendera kita trus bertepuk tangan untuk kita? Belum tentu, Yuuu.”

“Ya jangan berpikir negatif gitu to, Jeng. Kan kita ndak tau. Sampeyan kan belum pernah ngeliat tim kita bertanding di sana trus dielu-elukan bangsa sana? Sapa tau sambutan di sana malah lebih hangat.”

“Eeeh, ya ndak mungkin, Yu! Orang Indonesa yang di luar negri itu pada kompak. Kalo ada tim kita main di sana, maka orang-orang rantau inilah yang rame-rame mendukung bersorak untuk kita. Ini di negri sendiri kok malah mendukung negara lain. Kalo yang bertanding asing sama asing sih silakan aja mau dukung yang mana. Lah kalo tim kita yang main masa iya mau dukung lawan. Aneh ini!”

“Ya sudah, jangan emosi to, Jeng. Itu kan kebijakan pemda sana, kan dibilang kapan lagi jadi tuan rumah pertandingan bergengsi begini? Ya niat mereka kan baik, menurut saya sih ndak papa, Jeng, selama hati tetap Indonesa berarti masih nasionalis,” ujar Yu Minah sambil membungkus rujakku.

“Huh, ya gak bisa gitu. Masih banyak cara lain untuk menunjukkan pernghargaan kita buat mereka. Bersikap ramah dan sopan, beri service yang ok, jaga mutu dan kebersihan tempat mereka menginap. Masih banyak cara, Yuuu!”

Yu Minah mengulurkan rujaknya padaku. Aku pun segera merogoh tas untuk mencari dompet.

“Wah, tasnya bagus banget, Jeng. Seneng ya kalo perempuan kerja kayak sampeyan, bisa beli tas bagus-bagus gitu,” ujar Yu Minah. Aku tersipu-sipu, tasku ini emang bagus dan sering dipuji teman kantor atau relasi.

“Ooo, ini beli di Italy, Yu, nitip teman yang habis liburan dari sana. Bagus kan?”

“Bagus bangeeet. Mm, kalo pake produk luar itu masih tergolong nasionalis kan, Jeng? Soalnya di Tajur kan banyak yang mirip, buatan lokal dan murah lagi.”

Sial!!! Kesindir terus!!! 😑

PS. Akibat membaca koran di tukang soto tadi pagi, kalo gak salah Warta Kota ya? Lupa 😦

Oh ya, semua gambar diambil dari Google πŸ™‚