Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

S*xophone

Semalam aku mengerjakan tugas yang harus segera di email. Seperti biasa, TV dalam kamar tentu saja tak pernah mati, harus selalu menemani meski seringkali akunya sudah lelap :mrgreen: Rada aneh memang, aku sama sekali gak bisa tidur kalo suasana sepiiiiiii nyenyet! Pokoknya harus ada suara, entah musik, TV, keramaian di luar, bahkan suara dengkur kekasihku πŸ˜› Nek sepi malah gak isa bobok. Payah ya?

Eh, tapi bukan itu yang mau aku ceritakan πŸ˜€ Tugas selesai kukerjakan sekitar jam dua belas malam, tapi gak langsung bobok, nonton Love Eat and Pray nya Mbak Julia Robert dulu di Trans TV. Filmnya lamaaa ndak abis-abis, biasa sih ceritanya tapi penasaran ama setting Bali nya itu πŸ˜€ Diselingi ngantuk karena iklan yang lama, akhirnya film tuntas kutonton. Dan tentu saja happy ending. Payahnya, karena udah terlanjur telat bobok, akhirnya aku malah jadi kancilen gak isa bobok. Maka mata yang gak mau terpejam ini sekali lagi mantengin TV yang gak kupindah saluran karena males cari remote nya πŸ˜›

Dan tahukah Kawan, apa acara lewat tengah malam itu? S*xophone! Diiringi alunan suara dari alat musik itu, ternyata acaranya ra mutu blaz! Presenternya Mbak Chantal de La Conceta yang setahuku tuh dulu pembawa acara berita ya? Kok sekarang bawain acara m*sum gini sih? πŸ˜•

Acaranya ternyata seputar “itu” yang dibawakan dengan gaya-gaya njelehi. Tema malam itu adalah *** toys 😦 Ada mbak-mbak menor dengan busana kemben nyaris mlorot yang hampir-hampir memperagakan penggunaan alat itu. Hiks…ngopo coba hal-hal kayak gitu mesti dibahas di TV? Emang sih ditayangkannya lewat tengah malam, di mana anak-anak tentunya sudah pada bobok. Tapi kan masih ada kemungkinan emak-emak polos kayak diriku ini yang nonton kan? (awas, jangan muntah :mrgreen: ). Sebetulnya sih tinggal pindah saluran aja ato merem sekalian, tapi kan penasaraaan 😈

Menurutku Kawan, acara seperti ini tidak layak tayang meski tengah malam sekalipun. Karena dari segi etika dan moral sungguh jauh dari kepribadian bangsa kita (duluuu kali yaa? 😦 ) Jika yang menonton bukan orang-orang yang bisa mencerna dengan baik, tentu bisa menimbulkan inspirasi yang tidak bermoral. TV adalah media yang paling bisa memengaruhi penontonnya, karena selain ada suara juga ada visualisasinya. Dan biasanya justru visualisasinya inilah yang dibesar-besarkan apalagi dengan pose menantang untuk digebuk gitu 😦

Seperti adalagi satu acara lewat tengah malam juga, aku lupa TV apa kayaknya Trans 7 deh, ato apa ya? Aku nonton gak sengaja juga, lagi-lagi karena lembur sampai subuh πŸ˜€ Kalo gak salah “Mata Lelaki” ato apaaa gitu. Masa mbak presenternya pakai bikini yang nyaris gak menutupi apa-apa dengan latar belakang kolam renang! Wuidiiihhh, opo gak masuk angin berenang malam-malam gitu? Udah gitu ngomongnya dibuat-buat dengan melet-melet dan mulut monyong-monyong gitu. Haiyaa! Mumes banget deh!

Coba Kawan renungkan, penting gak sih acara-acara gitu? Ra mutu to? Merusak dan meracuni remaja, mahasiswa, ato emak-emak yang insomnia bukan? (ato bapak-bapak yang emang sengaja nungguin :mrgreen: ) Duhaiii para pengusaha TV, mbok dipikirkan lagi untuk tidak membuat acara-acara macam gini. Bukannya sok suci, tapi aku ini seorang ibu yang mempunyai anak yang tentu sangat kuatir dengan tontonan yang tak beretika seperti ini. Kalau sekarang aja udah begini, gak tertutup kemungkinan kelak akan semakin berani bukan? Gak ada lagi filter untuk menyaring tayangan, karena ini TV yang ditonton wong sak Indonesia Raya dengan segala lapisan usia 😦

Aku gak nonton sampai selesai, karena geli melihat barang-barang yang diperlihatkan itu 😦 (padahal sih ketiduran karena kebanyakan iklan :mrgreen: ). Dan tentu saja aku gakkan menceritakannya pada Yu Minah, karena pasti dia akan kuliah panjang lebar dan bakalan nyembur-nyembur mengenai rujakku.

Iseng Aja · Tak Enak

Buta Huruf :(

“q cuma bz trsenyum”
“qlian gx ad tau dgan aph xg sbnarnya”
“lG seNdriaN di koNtrkN…”
“l491 n94p41N?”
“g da y9 mw n93rT1 prsanqh”
“cp d parah beud luw”

Ternyata aku sudah tua meski gigi masih tiga puluh dua 😦

Dan untunglah aku bukan guru bahasa Indonesia, karena aku pasti akan murka 😦

Mungkinkah mereka ngetik pakai kalkulator? Atau malah sambil naik motor?

Beda generasi, ternyata dipisahkan jurang tak bertepi.

Namun semoga budi pekerti mereka, tak separah tulisannya πŸ™‚

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah · Tak Enak

Terimakasih, Pak Camat

Mendung menggantung, udara justru panas seperti berada dalam termos. Aneh. Maka daripada keringat menetes sia-sia mendingan menyambangi warung Yu Minah yang sejuk, karena halaman depannya ada satu pohon mangga, satu pohon jengkol, dan satu mengkudu.

Sesampai di sana seperti biasa menyerukan salam dan langsung duduk di bangku kecintaan.

“Jeeng, sampeyan kok sekarang jarang ke mari to? Kan aku jadi rinduuu,” sambut Yu Minah. Aku sedikit gebes-gebes menerima rindunya yang menggebu itu. Idih banget kan? Aku segera mencium minyak kayu putih yang selalu kubawa.

“Capek Yu, kalo udah di rumah ya pengennya langsung santaiii gitu. Buatkan rujak serut satu, ulek satu. Biasa ya, pedes tapi gak banget,” sahutku seraya mengambil koran langganan Yu Minah. Baru saja membaca halaman depan, ponselku berdering. Walah, sore gini kok ya adaaa aja yang menelpon. Staf kantor, sebut saja namanya Ani (Sst, jangan bilang-bilang ya, ini nama sebenarnya).

“Yellooww,” sapaku dengan suara diberat-beratkan. Yelloow = Yes, hello πŸ˜›

Maka aku segera mendengarkan laporan Ani yang semakin menaikkan suhu, baik di luar maupun di dalam diriku.

“Gak bisa! Kan sudah dibilang, cek itu harus diajukan dulu ke Big Boss. Itu kan bukan uang kecil!” Seruku gak sabar. Yu Minah yang sedang menggerus bahan sambal melirikku. Ah, aku dah males pindah, dah PW. Biar saja dia mendengar obrolanku.

“Ya kamu bilang dong, masa dia gak mau ngerti? Ini kan perusahaan, bukan duit pribadi yang bisa keluar kapan saja?” Aku masih saja mengomel.

“Bilang minggu depan. Kalo dia maksa ancam saja laporin! Ya…ya…gak…gak bisa…oke. Rabu ya. Oke, thanks, An.”

Akhirnya aku menutup telepon dengan gemas. Dan sudah kuduga sebelumnya, naluri mau tahu Yu Minah langsung terbit.

“Ada apa to, Jeng? Kok sepertinya mengesalkan gitu?” Tanyanya dengan lagak sambil lalu, padahal mau tahuuu. Tapi anehnya aku kok ya mauu aja cerita padanya.

“Gini Yu, ceritanya kantorku itu mau memperluas jenis usaha, nah mesti ngurus ijin ke dinas terkait to. Ceritanya rekomendasi dari Kepala Desa sudah ada. Sekarang lanjut ke Pak Camat,” ceritaku sambil mencomot sepotong nenas segar.

“Terus?”

“Nah, Si Pak Camat ini minta biaya sekian juta. Dinego sama temanku. Tau Yu, negonya itu di dalam mobil Pak Camat dan di pom bensin! Dia gak mau di kantornya. Singkat cerita mentok di segitu juta plus 30 sak semen buatΒ dana bedah rumah miskin (kok kayak acara TV manaaaa gitu ya?). Semen harus diantar ke kantor, uang harus masuk kantong.”

“Ediyan!” Sela Yu Minah gemas. Ketrampilannya mengiris buah dengan kecepatan seorang master Kung Fu itu tetap saja membuatku deg degan.

“Temenku gak berani mutusin dong, dia bilang mau diajukan dulu ke big boss. Eh, besoknya si Pak Camat telpon ke stafku yang lain, bilang kalo surat rekomendasi sudah jadi dan siap diambil. Berangkatlah si Ani ini ke kantor kecamatan dan dia mengambil surat rekomendasi itu! Blaik to?”

“Yo jelas blaik tenan itu!” Seru Yu Minah. Nah! That’s the point! Yu Minah yang bakul rujak saja mengetahui bener arti blaik itu. Mengapa Ani tidak? Dan boss juga tidak. Karena Ani mendapat restu dari boss untuk mengambil surat itu πŸ˜₯

“Dan sekarang Pak Camat marah-marah, gak mau tahu pokoknya uang harus sudah ada sekarang! Kayaknya mau buat beli sapi tuh. Sementara boss belum ngomong sama big boss dan tentu saja belum turun ceknya. Aduuuuh, mumet aku, Yu!”

“Jelas sampeyan ada di pihak yang salah. Kalo surat sudah diambil, itu berarti sampeyan sudah menyetujui semua syarat yang diajukan Pak Camat, termasuk waktu pembayarannya,” ceramah Yu Minah, “Emangnya bisa ngebon dulu kayak belanja di Engkoh hehehehe…”

“Tapi Pak Camatnya juga gak mutu. Kalo kantor itu kan gak bisa sak deg sak nyet mengeluarkan uang, Yu. Harus bikin payment voucher, form investasi, belum lagi cek yang tandatangan dua orang, baru dicairkan. Ribet, gak mungkin hari ini pengajuan besok turun duitnya,” kataku kesal.

“Lagipula gak malu banget sih? Minta-minta duit untuk pekerjaan yang memang sudah menjadi pekerjaannya. Dan dia sudah digaji untuk itu kan? Itu uang buat apa coba? Minta semen pula, kok jadi beban pengusaha ya?” Cerososku.

“Kalau ada acara bedah rumah miskin segala itu sampeyan berhak minta proposalnya, Jeng. Kayak kalo minta sumbangan tujuh belasan gitu. Sekian juta untuk itu, segini juta untuk ini, segitu juta untuk anu. Nah, sudah ada dana berapa, sisanya dilempar ke pengusaha. Silakan menyumbang sesuai kemampuan.” Seperti biasa Yu Minah yang keminter itu mulai ceramah sembari membungkus rujakku.

“Terus yang sekian juta untuk Pak Camat itu gimana?” Tanyaku.

“Yo itu terserah sampeyan. Jangankan Pak Camat, wong boss nya Pak Camat aja pasti minta kok, bossnya boss teruuus sampe mana ya?Β  Hiihihihi…..”

Aku membayar rujakku dan segera berlalu.

“Woiii Jeng, sebentar…” Panggil Yu Minah. Aku berbalik.

“Ada apa , Yu?

“Ehh…hehehe…minta nomer hape Pak Camat nya, doong,” katanya kemayu.

“Hah? Buat apa, Yu?”

“Nganu, saya mau minta supaya rumah saya dibedah gitu, hihihihi….”

Halah! 😑

Cari Solusi · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Selayang Pandang Demo Pekerja 03 Okt 2012

@Mulia Keramik, pic sent by OmEdo
@Jababeka II, pic taken by Me
@Jababeka I, pic taken by Me
@Jababeka I, terpaksa parkir di gedung yang belum jadi itu trus jalan 😦

Semoga, apa yang kalian perjuangkan benar-benar membawa kebaikan bagi semua. Jangan sampai apa yang kalian perjuangkan berhasil namun kelak akan ada masalah baru 😦 Entahlah. Wish all the best for you, guys πŸ™‚

Selamat berjuang dengan damai!

(sik…sik… trus ntar pulangnya gimana iniiii huwaaaaa…… sad0049 Free Sad Emoticons)

(ssst, aku juga foto sama mereka lho, pegang bendera pulak, sayangnya gak jelaaassss 😳 )

(tadi gak isa keluar tol karena tutup, semoga pulang nanti sudah lancar)

Iseng Aja · Tak Enak

Situasi Sulit

Semua orang pasti pernah berada pada situasi sulit. Hanya saja kadar kesulitannya berbeda-beda πŸ˜€ Nah, Sabtu kemaren aku juga mengalami situasi sulit yang membuatku tertunduk malu dan tak bisa berbuat apa-apa.

Berawal dari si Mbak yang memberi tahu bahwa aku diundang syukuran menempati rumah baru di pojok gang. Memang penghuni lama sudah pindah dan sudah ada penghuni barunya. Berhubung waktu halal bihalal bulan lalu aku gak datang karena ada acara di sekolah kedua malaikatku, maka aku memutuskan untuk datang. Kan gak enak ama tetangga πŸ˜€ Maka Sabtu pagi aku mengajak bareng tetangga sebelah. Sayangnya dia gak ada, sedang mengantar anak sekolah. Waduh, aku kan pemalu banget kalo datang sendirian. Tengah aku bimbang, dari arah berlawan ada seorang ibu yang mengajakku bareng. Dandanannya rapi sekali.

“Waduh, kok cantik banget, Bu?” Sapaku sembari melihat bajuku yang hanya blouse merah membara dan celana panjang.

“Ah, bisa aja. Ibu pakai kerudung aja,” jawabnya. Aku mulai curiga. Waduh, acaranya apa nih?

“Wah, aku gak punya jilbab, Bu,” sahutku. Si Ibu tersenyum.

“Pakai selendang aja, gak apa. Yuk, aku tungguin.”

Akupun segera masuk ke dalam. Sempat kutanya Mbak apa nih acaranya? Si Mbak bilang cuma syukuran kok. Untunglah aku punya pasmina oleh-oleh sobatku dari Turki. Dengan manis kupakai begitu saja pasmina berwarna pink obar-abirΒ  itu.

Lalu kami pun berangkat bersama. Dan sesampai di tujuan, kecurigaanku terbukti. Kawan, ternyata acaranya pengajian! Dan sudah terlambat pula! Aku duduk di luar bersama tetangga. Namun si tuan rumah segera menyuruh kami masuk ke dalam. Dan di sinilah situasi sulit itu membuatku tak berkutik!

Semua ibu yang ada di situ melafalkan surat Yasin (eh, bener kan?) sementara aku diam seribu bahasa sambil sesekali mengheningkan cipta seolah sedang melafal juga. Mana baju lengan pendek pula dengan kerudung yang terus menerus melorot. Sementara ibu-ibu yang lain rapi dan serasi antara busana dan kerudungnya 😦 Melihat aku yang diam saja, seorang ibu menawariku meminjami bukunya. Aduh, dengan senyum merona dan bisikan halus aku menolak. Lha piye, dipinjami juga aku buta huruf hiks…hiks…

Akhirnya situasi sulit berdurasi 1 jam itu selesai sudah. Kami semua bersalaman dan menyalami tuan rumah. Beberapa ibu yang satu RT memaklumi kehadiranku yang salah kostum ini 😳  Memang gak semua tahu kondisiku sih 😦

Sampai rumah aku langsung berteriak, “Mbaaaaaaak, acaranya pengajiaaaaan, duhhh malu deh akyuuu!”

Si Mbak cengengesan melihatku ngomel sambil menikmati nasi kotak dan snack pemberian tuan rumah :mrgreen:

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

S*laria

Sebetulnya makan di S*laria buatku sudah agak membosankan ya. Hanya saja memang resto ini menyediakan aneka menu yang cukup variatif dan cukup murmer lah. Juga ada menu kesukaan malaikatku. Maka Sabtu kemaren, paska lebaran dan mbak lom pulang πŸ˜› kami memutuskan maksi di S*laria Metropolitan Bekasi. Semua meja penuh, untunglah kami mendapatkan satu meja kosong namun masih penuh piring dan gelas sisa makan pengunjung terdahulu.

Nah, di sinilah kisah ini berawal. Dengan halus (aku orangnya cukup halus lho πŸ˜› ), kuminta seorang pramusaji membereskan meja. Namun dia pura-pura tak mendengar. Memang sih di tangannya ada nampan penuh makanan siap disajikan. Tak lama dia kembali dan mengangkati piring dan gelas. See, berarti dia mendengar kan? Setelah itu dia memberikan daftar menu. Sampai kami selesai memilih menupun meja tak juga dilap. Kekasihku bilang, “Tuh ada lap, apa mo ngelap sendiri aja?” Hampir saja aku melakukan itu, tapi pas kutengok lapnya susah gak ada πŸ˜€

Tak lama kemudian seorang pramusaji berseragam putih hitam (masih training) kupanggil. Tahukah apa jawabnya?

Ya, ya, ya!” Dengan nada tak sabar seperti berbicara pada anak kecil. Tapi dia tak datang, malah ke meja di belakangku. Kulihat wajah kekasihku sudah memerah, ini alamat gak bener ini! Maka aku memutuskan untuk pindah. Kekasihku segera ngeloyor keluar setelah aku bilang, “Udah, biar nanti aku yang marahin.”

Dan, begitu si mbak trainee ini ke mejaku, aku langsung menegurnya (pertama kali dalam hidup aku memarahi seorang pramusaji).

“Mbak, lain kali kalo menjawab yang sopan ya. Masa kamu jawab ‘ya, ya, ya’ dengan ketus begitu? Seperti ngomong dengan anak kecil saja.”

“Maaf Bu, soalnya sedang rame sekali,” potongnya. Wah, makin marah aku.

“Lho, saya tahu itu. Tapi kamu harus jawab dengan sopan dong, saya di sini bayar lho bukannya minta-minta! Kamu masih training kan? Nama kamu siapa, sorry ya tapi saya terpaksa melaporkan kamu ke manajer kamu (belagak liat name tag, padahal sekarang pun dah lupa πŸ˜› ). Kamu harus belajar sopan, sabar, bukan malah ketus begitu. Nih, saya gak jadi makan di sini, dan mungkin gak akan pernah datang ke sini lagi!” kataku sambil menyobek lembar pesanan hingga kecil-kecil dan meletakkannya di meja. Kuajak anak-anakku pergi. Si mbak pucat dan nyaris menangis serta berkali-kali meminta maaf. Sudah kumaafkan, tapi untuk kembali ke sana? No, thanks! Dan kamipun makan di Gokkana Teppan yang lebih profesional πŸ™‚

Aku tau kondisi di sana sangat ramai dan mungkin kekurangan tenaga. Tapi itu tidak berarti harus ketus bukan? Memang kulihat semua wajah-wajah pramusaji itu kelelahan, bahkan seorang pramusaji dengan cueknya membereskan piring lalu melempar-lempar sendok di bak cucian dengan nyaring, prang…prang… Duh, nyaman gak sih makan di tempat seperti itu?

Pelanggan adalah raja, itu duluuuu. Buatku pelanggan tak perlu diperlakukan sebagai raja, cukup diperlakukan dengan ramah dan sopan itu sudah membuahkan nilai plus! Nah, S*laria, sepertinya kau harus mendidik para karyawan dengan budi pekerti dan sopan santun πŸ˜‰ Atauuu, perlu nambah karyawan?

Iseng Aja · Tak Enak

Seperti Anak Sekolah

Karena kantorku bergerak di bidang jasa, maka libur lebaran hanya pada tanggal merah saja. Tidak ada cuti bersama seperti kantor-kantor lainnya. Nah, tentu saja cuti pun segera diatur. Sudah kutetapkan bahwa tiap departemen harus bergiliran cuti. Ada yang sebelum hari raya,Β  ada juga setelah hari raya. Sehingga ada perwakilan di tiap departemen. Pengaturannya disepakati bersama dan dikoordinir oleh para koordinator. Selesai.

Pada suatu hari, sehari setelah hari raya, ada nomor asing menghubungi ponselku. Sebetulnya aku malas, tapi kuatir dari klien maka diangkatlah. Suara seorang Bapak yang sudah berumur terdengar. Rupanya beliau ayah dari salah satu staf, sebut saja Miss. R. Ngapain telpon? Meminta ijin agar anaknya boleh memperpanjang cuti sampai hari Minggu karena masih sakit. Kutanya, apakah dirawat di RS? Ternyata tidak, hanya di rumah saja. Gubrak bin gedebruk deh! Padahal seharusnya dia sudah masuk hari Kamis kemaren. Lha nambahnya banyak amat πŸ˜†

Bukannya berpikiran negatif, tapi memang ini adalah modus operandi beberapa staf di kantor πŸ˜† Gak brani nelpon sendiri, maka ortunya yang diminta menelpon. Sesakit apakah dia sehingga tak sanggup menelpon? Atau sekedar sms? Jadi ingat semasa sekolah dulu, jika gak masuk sekolah maka ortu menitipkan surat πŸ˜† Atau sekarang ini, kalau anakku sakit maka segera menelpon sekolah mengabarkan tidak dapat masuk.

Jiyan! Wong sudah dewasa, seharusnya bersikap profesional bukan? Aku malah jadi tidak bersimpati pada anak ini (meski andai sakit beneran) dan yang pasti mengurangi nilainya bukan? Kukatakan saja pada ayahnya, semoga lekas sembuh dan nanti potong cuti tahunan saja πŸ˜†

Nah, Miss. R, selamat menambah liburan ya. Jika nanti cutimu sudah habis, yaaah terpaksa deh cuti di luar tanggungan πŸ˜›

Cintaku · I feel blue · Tak Enak

Lebaran di Rumah Sakit

Mengawali bulan puasa, Papa sempat dirawat di RS. Dirawat selama satu minggu akhirnya Papa sembuh dan boleh pulang. Tentu saja kami semua lega, terlebih aku yang menemani keluarga berpuasa jadi tidak terlalu repot lagi mondar-mandir πŸ˜€ Dan kami pun merencanakan untuk berbuka bersama di rumah Papa pada tanggal 17 Agustus lalu. Yah, meski yang berpuasa hanya aku dan keluargaku, tapi Papa ingin sekali berbuka bersama πŸ˜€

Tapi apa daya, sebelum rencana terlaksana, Papa kembali masuk RS. Bahkan kali ini harus menjalani operasi ringan. Tentu saja sedih sekali. Jika biasanya setelah kekasihku dan kedua malaikatku shalat Ied dan kami berlebaran di rumah Ibu mertua, aku mengirim ketupat, gulai ayam dan rendang ke rumah Papa, maka kali ini kami tak lakukan itu. Aku hanya membawakan untuk Ibundaku saja untuk makan di rumah 😦 Padahal Papa paling senang ketupat dan gulai buatan Nenek πŸ˜€ Apalagi katupek sipuluik πŸ˜›

Maka di hari raya, kami juga Nenek menjenguk Papa. Idul Fitri ini tentu saja agak sedih, karena tak bisa berlebaran bersama, saling megunjungi Papa Ibu dan Nenek. Tapi tak apa, saat ini harapan terbesar kami adalah kesembuhan Papa. Agar kami bisa berkumpul lagi di rumah, makan-makan seluruh keluarga, dan tentu saja Ibu jadi tak takut sendirian di rumah πŸ˜€

Cepat sembuh ya Pa, doa kami selalu menyertaimu. We love you so much…..

Iseng Aja · Tak Enak

Protected Post

Lukisan Cinta (LC) episode 13 sudah terbit. Sayangnya dengan terpaksa sekali aku protect πŸ˜€ Tidak bermaksud apa-apa hanya saja untuk episode ini memang harus demikian demi keamanan anak cucu kita πŸ˜› Yah, seperti kita tahu anak-anak sekarang mempunya akses yang begitu mudah di dunia maya. Selain karena memang difasilitasi oleh ortu juga karena rasa ingin tahu mereka yang luar biasa. Ini akan menjadi berbahaya bagi pembaca yang berbagi komputer dengan buah hati.

Halah…halah…memangnya ada ada sih di LC episode 13? Hehehehe…hmm…entahlah πŸ˜› πŸ˜‰ Bagi para sahabat yang aku tahu setia mengikuti kisahku (aku tahu karena mereka selalu meninggalkan jejak), sudah aku kirimi password untuk membukanya lewat e-mail. Namun bagi para silent reader atau pembaca yang enggan meninggalkan jejak (astopiluloo, GR puooolll ck…ck…ck…), tidak usah berkecil hati. Jika ingin ikut membaca silakan request di kolom komentar ini, nanti aku kirimi password nya πŸ˜€

Dan tentu saja kalo postingan sudah terbuka, maka akan terbuka terus (ada cookies di tiap komputer, eh bener gak ya? πŸ˜› ). Untuk itu setiap dua hari sekali aku akan ganti password nya yaa, sekali lagi demi keamanan πŸ˜€ Dan mungkin akan ada 1 -2 postingan LC yang akan terpaksa aku password lagi. Yah, ini kan pura-puranya mau jadi novel (baca: e-book), jadi masalah harus kompleks dan tentu saja dibumbui biar lazzattt… tongue0022 Free Emoticons   Sticking Out Tongue

Baiklah, sekian saja. Maafkan atas ketidaknyamanan ini dan tentu saja atas ke-GR-an ku πŸ˜›

Iseng Aja · Ketawa dulu · Tak Enak

Perpisahan

Kisah ini terjadi ratusan tahun yang lalu. Saat itu aku mengikuti pesta perpisahan SMA. Cuma teman sekelas sih, kalo gak salah cukup satu bus. Acaranya pun sederhana, nginap di villa murah meriah. Namanya anak SMA yang lagi lutju-lutjunya, bobok di tenda pun jadilah. Namun pada waktu itu ada kejutan besar dari Ayahandaku. Sehingga akhirnya kami gak usah berdesakan dan berebutan di penginapan. Karena kami diminta pindah di tempat yang lebih luas, lebih indah, dan tentu lebih dekat ke tempat wisata. Horeeeeee……. (makasiy Pah, walopun galak dan suka memingitku namun ternyata dikau baik hati dan perhatian yaa hiks…sad0118 Free Sad Emoticons )

Nah, seperti biasa acara di tempat dingin gitu pastilah kambing guling love0062 Free Emoticons   Love dan api unggun.Β  πŸ˜† HIhihihihihi…belum-belum wis ngguyu dewek. Jadi gini, Kawan, ketika acara api unggun itu (ya ampoon, jadul yak? maklumlah SMA th. 1918 πŸ˜› ), semua teman saling bergandengan tangan. Lalu si Mantan Ketua Kelas yang pandai berpuisi dan berorasi mulai berkata-kata. Berbicara masa-masa kelas III yang lutju, menyenangkan, menyedihkan, menyebalkan, dll. Dia pandai sekali berbicara hingga kulihat teman di kiri kananku mulai menyedot hidung, mengusap air mata, bahkan ada yang nangis gegerungan.

Sumpah! Aku bingung banget! Oya, waktu itu kami semua diminta menunduk dan menutup mata, tapi diam-diam aku melirik jelalatan ke sana ke mari. Waduh, gak lanang gak wedok semua mewek! sad0049 Free Sad Emoticons sad0140 Free Sad Emoticons Kecuali…kecuali diriku 😦 Entah mengapa, waktu itu aku kok gak ikutan nangis ya? Padahal perkataan ketua kelas begitu menyentuh dan mengharukan. Entahlah, mungkin karena aku sibuk mikirin takut bobok di tempat asing.

Semakin malam, semakin mengharukan. Akhirnya akupun mulai ikutan menunduk, memejamkan mata lalu…mulai membayangkan yang sedih-sedih! Kubayangkan ibuku adalah ibu tiri, sehingga ketika pulang nanti aku pasti digebukin gara-gara ngilangin rautan. Lalu, kubayangkan cowok yang kutaksir ternyata jadian sama sahabatku sendiri. Sampai akhirnya ku bayangkan aku gak pernah menikah karena sedih, dan ketika cowok itu datang, umurku sudah 100 th hingga tak mungkin lagi kawin. Semua hal yang menyedihkan dan menyakitkan kubayangkan, sampai akhirnya mataku mulai panas. Air mata mulai merembes melalui bulu mataku dan akhirnya menetes turun ke pipi. Hidungku mulai berair dan akhirnya akupun terisak-isak. Deras air mataku mengalir, ditambah lagi udara yang sedingin es, membuat hidungku mulai mampet.

Dan ketika akhirnya kubuka mataku, semua temanku memandang padaku. Wajah mereka keheranan, tangan teman di sebelahku rupanya sudah lepas dari genggamanku. Aku menghapus air mataku dan hidungku. Lalu si ketua kelas mendekatiku dan menepuk bahuku.

“Kok kamu nangisnya telat, Cho?”

Huwaaaaa, rupanya orasi dan penyedihan massal sudah selesai! Digantikan kesan dan pesan masing-masing anak. Lhadalah! Berarti aku sudah hanyut dengan alam pikiranku sendiri hingga tak memperhatikan sekelilingku. Waaaa, maluuuuuu…. Kulihat semua teman nyengir. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ikutan nyengir. ashamed0002 Free Emoticons   Shame ashamed0004 Free Emoticons   Shame

PS. Semoga kelakuanku ini tak menurun pada kedua malaikatku 😦