Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Serial Yu Minah · Tak Enak

Nggilani!!!

Tumben sekali setelah sekian hari Bogor panas membara dengan temperatur 33 – 35° C, hari ini hujan turun dengan indahnya. Sueger, adem, meski diiringi geluduk yang membahana. Dan ketika rinai berubah menjadi rintik, aku menyambangi warung Yu Minah dengan payung berumbai-rumbai. Sepi warungnya. Siapa pula yang akan berkunjung di antara gerimis dan basah? character00292 Free Emoticons   Characters

Salam kuteriakkan dengan merdu bernada dasar A minor dan Yu Minah tergopoh-gopoh keluar.

“Eeee, Jeeeeng, lha kok lama sekali ndak mampir sini to? Lha ini ndak kerja? Kok tumben jam segini udah nongol?” Sapanya riuh rendah. Aku langsung duduk di bangku kecintaanku sambil sedikit mengibaskan sisa gerimis di gerai rambutku (halah…halah…).

“Bolos, Yu. Katanya mau ada demo besar-besaran, daripada terjebak kayak waktu itu mendingan bolos aja deh. Rujak ulek ya Yu, pedes,” sahutku. Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan rujak.

“Walaaah, sampeyan ini, dikit-dikit bolos, wong demo aman-aman aja kok?”

“Cuti, Yu, bukan bolos. Lagipula apa sampeyan berani jamin kalo aman? Tuh di beberapa kota di luar udah rusuh,” ujarku, “Apalagi katanya ada yang bawa senjata rahasia segala.”

“Heh? Senjata apa tuh? Apa kayak senjatanya Naruto gitu, Jeng?” Tanya Yu Minah dengan heran. Goyangannya membuatku ikut bergetar dari bangkuku. Aku tengok kiri kanan takut ada yang mendengar.

Tinja, Yu!” Bisikku.

“Heehhh???” Nyaris saja ulekan segede Gaban itu terlempar ke arahku. Untung aku sigap dan segera berkelit dengan kuda-kuda yang kokoh.

“Sampeyan ni ngawur, Jeng? Lha dapet tinja darimana sebanyak itu? Mbawanya pake apa?” Tanyanya takjub.

“Iihh, ya gak tau, Yu. Sampeyan ini kok nggilani temen to, segala mbawanya gimana ditanyain?” Perutku nyaris bergolak karenanya sick0022 Free Sick Emoticons

“Kok sekarang aneh-aneh ya, demo kok bawa gituan. Menurut saya gak eleikhan itu, gak mencerminkan intelektual! Meskipun gak berbahaya tapi itu merupakan penghinaan luar biasa. Njijiki, siapapun jika kena barang keramat itu pasti akan terhina dan justru memicu kemarahan,” kata Yu Minah dengan gemas. Kata-kata eleikhan itu mengingatkanku pada seorang Om-om yang baru saja patah giginya innocent0009 Free Emoticons   Innocent

“Katanya senjata rahasia itu paling aman, Yu, gak kena pasal hukum karena gak melukai, jadi masih sah,” jelasku setelah tadi membaca berita di inet.

“Kalo gitu harus segera dibikin UU baru, ndak boleh pake barang-barang yang njijiki dan nggilani gitu!” Sergah Yu Minah. Dengan emosi yang sedikit membara itu aku jadi ngeri rujakku terlalu pedas. Maka kuawasi dengan seksama berapa cabai yang telah diuleknya.

“Lagian menurut saya BBM naik itu wajar saja yo, Jeng? Lha daripada gak boleh beli sama sekali, disuruh beli pertamax kan harganya malah makin mahal.”

Wah, nek Yu Minah sudah ngajak debat gini males aku. Banyak pendapat tentang perlu gak naiknya BBM, dengan data dan angka yang rakyat macam aku ini apa mudheng? Males! Males! Semua punya kepentingan dengan tiap argumennya. Rakyat ketjil macam aku ni tinggal menikmati dampaknya saja. BBM naik maka ongkos naik, beras naik, listrik naik, yang gak naik paling-paling dasterku saja, malah makin panjang karena makin kurus badanku (Kuruuss? Dari Hongkong??) Dibilang apatis yo wis ben. Emang udah muak semuak-muaknya melihat data yang entah akurat atau hasil menyulap.

“Wah, nek soal gituan aku gak ngikutin, Yu. Males! Mestinya kalo mo naikin harga itu pemerintah gak usah ngomong-ngomong. Bilang aja mau naik, kapannya gak usah kasih tau. Kan gak perlu ada demo gini,” umpatku kesal. Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Weeh, ya ndak bisa gitu, Jeng. Memangnya sampeyan gak protes kalo tiba-tiba beli bensin harganya naik tanpa pemberitahuan?” Sergah Yu Minah. Aku merogoh dompet untuk menyiapkan uang.

“Lha kan sudah diberitahu mau naik. Kalo diumumkan per tanggal segini naik nanti malah pada nimbun, isyu macem-macem bertebaran gak jelas, dan tentu demo heboh kayak sekarang,” sahutku sambil menerima rujakku.

“Tetap aja gak boleh, Jeng. Kalo ada kenaikan BBM, listrik, PAM dll harus disosialisasikan dulu, kan menyangkut hajat orang banyak. Jangan tiba-tiba mak jegagik harga naik, lha apa ndak malah menuai protes?”

“Ah, buktinya rujak sampeyan naiknya tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Dan biar diprotes harganya tetap segitu kan?” Sahutku lalu ngeloyor pergi.

“Welhadalaaah, wong sudah lama kok sampeyan masih dendam aja to, Jeeeng?”

tongue0003 Free Emoticons   Sticking Out Tongue

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Kecelakaan!

Pada suatu hari, Ibunda menelponku dan mengabarkan kalo kakakku, Mbakayune, kecelakaan! Mobilnya tertabrak truk tronton saat hendak menuju kantor. Tentu saja jantungku berlompatan tak karuan, bahkan air mata sudah mulai mengembang, terbayang nasib para keponakanku yang lutju-lutju itu sad0144 Free Sad Emoticons

Tapi aku berusaha tetap tenang, jangan sampai Ibunda ikutan panik (padahal emang udah panik). Aku meminta Ibunda tetap tenang dan segera aku mencoba menelpon Kangmase, kakak iparku. Tapi telpon sibuk semua gak isa dihubungi. Maka kutinggalkan pesan di semua nomor telponnya. Bahkan akupun mencoba menelpon Mbakayune siapa tahu masih bisa dihubungi. Tapi telpon bernada sambung terus dan tak diangkat sad0144 Free Sad Emoticons Kali ini aku benar-benar panik level 137! Sesekali kutelpon kembali namun hanya ada nada sibuk ndak brenti-brenti.

Tapi lalu aku tersadar, Ibunda tahu kabar itu dari siapa? Kembali aku menelpon Ibunda.

“Dari dr. Sugiyono,” jawab Ibunda.

“Hah? Siapa itu?” Tanyaku mulai curiga.

“Dokter yang mengoperasi Mbakayune. Dia butuh obat dan Ibu harus transfer sekian juta. Piye to, Nduk, Ibun kan ndak bisa kemana-mana,” jawab Ibunda mulai panik, “Ini Ibun sudah siapkan ATM tapi siapa yang mau mengantar? Aduh, piye Mbakyumu?”

Aku langsung berteriak bak jagoan silat yang udah di dubbing.

Mother, don’t go to anywhere! Just stay at home, pray and don’t cry! I’ll handle it! Ceritakan kronologisnya.” mad0257 Free Emoticons   Anger

Lalu Ibunda bercerita bahwa si dr. Sugiyono ini menelpon kalo Mbakayune yang kebetulan bekerja di luar kota kecelakaan. Saat ini membutuhkan obat yang hanya bisa dibeli di apotek X dengan harga berjuta-juta dan harus segera. 15 menit lagi si dr. Sugiyono ini akan menelpon kembali. Kebetulan Mbakayune adalah seorang dokter gigi yang bekerja sebagai pimpinan di RS di kota itu. Si dr. Sugiyono ini bahkan menyebutkan nama kakakku, dr. Mbakayune! Tapi karena kejadian kecelakaan di dekat RS tempat dr. Sugiyono ini maka dirawatlah di situ. Separuh hatiku mendesah lega, meski yang separuh lagi masih panik. Ini jelas modus penipuan. Namun mengapa Mbakayune gak bisa ditelpon?

Akupun segera menelpon RS tempat Mbakayune berkerja. Dan tahukah Kawan, apa jawaban sekretarisnya?

“Dr. Mbakayune sedang meeting, bisa Ibu telpon kembali sekitar setengah jam lagi?”

Aku setengah menangis karena lega dan meyakinkan si sekretaris.

“Tapi betul kan dr. Mbakayune baik-baik saja? Saat ini masih meeting ya?”

“Iya Bu, beliau sedang memimpin meeting sekarang ini.”

Legaaaaa!!! Aku segera menelpon Ibunda dan mengabarkan keadaan Mbakayune. Papa dan Ibu menangis lega (terutama Papa). Tak lama Kangmase menelpon bahwa semua baik-baik saja. Dan sesaat kemudian Mbakayune menelpon. Kuceritakan semuanya. Dan ternyata telponnya di silent karena meeting, namun memang beberapa kali ada telpon masuk tapi ketika diangkat tak ada suara apa-apa (si penipu sengaja membuat telpon korban sibuk terus agar tak bisa dihubungi).

Nah Kawan, ini adalah modus penipuan yang mungkin Kawan sudah pernah mendengar atau bahkan mengalami. Sungguh penipuan yang kejam! Bahkan ternyata Mbakayune juga pernah tertipu, dikabarkan bahwa anaknya kecelakaan di sekolah. Padahal ketika menghubungi ke sekolah Si Anak baik-baik saja, bahkan sedang main basket.

Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu jika Kawan mengalami hal yang sama.

  1. Jangan panik! Berusahalah untuk tetap berpikir jernih.
  2. Bila si penelpon tak menyebutkan nama anggota keluarga yang kecelakaan (nama suami/istri/anak, dll), tanyakanlah! Dan jangan sekali-sekali menyebut nama anak/suami/istri terlebih dahulu.
  3. Segera hubungi sekolah, kantor, atau teman yang mungkin saat itu sedang bersama anak/suami/istri, karena biasanya si penipu akan membuat nomor ponsel anak/suami/istri sibuk.
  4. Jika memungkinkan, pasang caller ID di telpon rumah (meski biasanya no tel si penelpon akan susah dihubungi)
  5. Jangan mentransfer atau mengirim apapun sebelum semua jelas
  6. Biasanya si penipu mendapat nomor dari buku telepon atau tempat isi ulang elektronik (maka jangan menulis no hp di tempat penjual pulsa elektronik)
  7. Jika memungkinkan mempunyai satu no tel yang hanya keluarga saja yang tahu, tak usah publish
  8. Lapor polisi, biasanya si penipu akan meminta Anda menghubungi no ponselnya untuk urusan transfer
  9. Sebarkan modus ini agar kerabat atau teman lain tidak tertipu

Oh ya, kembali ke kasus Mbakayune. Karena si penipu meninggalkan no ponsel ke Ibunda, maka Mbakayune meminta temannya menelpon ke nomor itu. Dan dijawab!

“Eh, nape lo bikin berita bohong kalo dr. Mbakayune kecelakaan? Dosa lo!” kata teman Mbakayune mad0222 Free Emoticons   Anger.

Dan tahukan apa jawaban si penipu? Dia menyebutkan banyaaaak sekali nama hewan yang telah Tuhan ciptakan di dunia fana ini 😆

Kawan, kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Maka, waspadalah…waspadalah….animal0017 Free Emoticons   Animals

Minjem Bang Napi hihihihihihihihi…… evilgrin0039 Free Emoticons   Evil

PS. Dan tadi pagi dengar di radio kabarnya komplotan ini telah tertangkap. Syukurlah 🙂

Iseng Aja · Tak Enak

Naik Ojek

Sesungguhnya naik ojek adalah sebuah pilihan bagiku. Kalo mau cepat keluar kompleks atau menghindari angkot kompleks yang hobi ngetem di tiap gang, ya naik ojek. Kalo mo santai jalan kaki tentu lebih sehat. Tapi kalo waktu banyak, gak terburu-buru naik angkot tentu lebih nyaman (meski siap maboks 😦 ).

Dan setelah kurenungkan, ternyata selama ini aku lebih sering naik ojek karena harus cepat dan selalu terbirit-birit takut terlambat 😦 Meski banyak hal yang membuatku tak suka naik ojek 😦 Jelas karena tukang ojek bukan mukhrim (lebaaay :mrgreen:  ), jadi duduknya harus 2,5 spasi. Sebetulnya hal ini bisa diantisipasi, tapi yang menyebalkan adalah ketika jok motornya itu yang modelnya nungging! Jadi jok belakang lebih tinggi dari depannya. Ada kan yang begitu?

Nah, ketika melewati polisi tidur ato ngerem mendadak menghindari lubang, maka dengan serta merta posisi akan langsung melorot ke depan. Dan tentu saja spasi berubah jadi 1 – 1,5 bukan? Nah, ini yang menyebalkan! Paling sebal kalo dapat motor yang begini. Masalahnya kita gak bisa memilih, Kawan. Mereka itu ada antriannya, jadi yang dapat giliranlah yang akan membawa kita ke tempat tujuan 😦

Belum lagi kalo tukang ojeknya gak pake helm. Mending kalo rambut cepak, kadang rambut gondrong ato gundul sekalian. Ih, aku kok gilo ya mbonceng ama yang beginian. Nek gondrong berkibar-kibar tapi nek gundul kok kayaknya gimanaaaa gitu 😦 Maka seringkali aku suruh abangnya pake helm.

Resiko naik ojek gak sampai di situ saja, Kawan. Kalo tiba-tiba hujan. Wekss, Si Abang yang sudah sejak tadi pakai ponco langsung menawarkan diri untuk tandem. Ampyuun, dah! Tapi mo gimana lagi? Berhenti gak mungkin, karena gak ada juga tempat berteduh. Mau terus tanpa jas hujan jelas bakal basah. Maka terpaksa deh, ngumpet di balik punggung abangnya. Hiks…hiks…

Maka untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, aku selalu liat-liat. Kalo sekiranya bakal hujan, lebih baik naik angkot deh! Dengan resiko ngetem di tiap gang dan maboks darat lautan udaraaaaa….. Namun tak dipungkiri, jasa tukang ojek ini juga luar biasa. Merekalah solusi di kala kita terbirit-birit ato angkot gak lewat-lewat. Yah, semua adalah pilihan. Tinggal kita mau pilih nyaman ato cepat tentu dengan segala resikonya.

Kalo aku sih milih yang jadi tukang ojeknya Mas John Travolta 😳 Biar jauhnya ampek ke Krawang ya gak papa, malah maunya makin jauuuuh 😳

Kalo ojeknya Mas JohnTra, aku mau langganan 😳

(ngumpet dulua aah, siap-siap digebuk Bapaknya Jendral G 😛 )

PS. Gambar pinjam dari Google

Nimbrung Mikir · Tak Enak

Jangan Panggil Dia Mama!

Sesungguhnya aku tak ingin menuliskan kisah sedih ini. Karena sungguh membuatku hancur, hiks… Bahkan baru nulis judulnya saja hatiku sudah teriris-iris. Andai kau bisa melihatku sekarang Kawan, maka kau akan melihat air mataku menetes-netes, lalu berderai-derai, lalu bocor hingga kemana-mana, pedih, perih, hancur…. (maaf Kawan, kalo lagi sedih, bahagia, marah, bahkan lagi gak ngapa-ngapain aku emang suka lebay).

Kisah ini bermula ketika Jendral G masih bayi dan aku kembali bekerja. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang trampil, meski bukan baby sitter tapi dia punya pengalaman melebihi seorang nanny 🙂 Namanya Karti. Pokoknya sama dia aku percaya 100%. Hingga Jendral G berumur 7 bulan ternyata aku kembali hamil. Bahagia sekaligus bingung tentunya. Menyesal? Ouh, tentu tidak. Aku justru bersyukur diberi anugerah kesuburan olehNya yang saking suburnya cuma dilempar handuk suami aja bisa hamil (lebay lageeeeee).

Seperti umumnya wanita hamil tentu mengalami morning sickness, afternoon sickness hingga night sickness. Alias mabuk terus 😦 Nah, karenanya ketika pulang kerja, dimana baby Jendral G selalu mengulurkan tangan padaku karena rindu, kadang hanya aku ajak canda sebentar lalu aku terkulai lemas. Setelah aku  mandi baru aku susui dan mengajaknya kembali. Kadang aku melupakan ajaran Ibundaku yang berbunyi seperti ini:

Selelah apapun kau bekerja, sesumpek apapun pikiranmu, seberat apapun beban kerjamu, kalau sudah sampai rumah anak adalah prioritas! Biarkan pembantu istirahat setelah seharian mengurus anakmu, maka anakmu akan selalu dekat padamu.

Apalagi ketika kehamilanku semakin membesar, aku tak sepenuhnya menjalankan nasehat Ibunda. Bahkan atas kemauan Karti sendiri dia selalu memegang Jendral G.

“Biar sama Karti aja, Bu. Ibu istirahat saja.” Demikian kata Karti setiap kali aku hendak menimang Jendral G. Dan entah pake hipnotis ala Uya Kuya atau Romi Rafael, aku menurut saja. Setelah Jendral G bobok baru diberikan padaku. Sering aku memintanya sebelum bobok, tapi dengan banyak alasan Karti tak memberikan.

Hingga pada suatu hari, ketika Baby G sudah mulai berkata-kata dan memanggilku “nDa”, aku dibuat terkejut setengah mati. Karena selain memanggilku “nDa” dia memanggil Karti…oh, tak sanggup ku mengatakannya, tak sampai hati. Menangis aku, remuk jantungku, hancur hatiku, sesak napasku, bengkak tubuhku, tipis dompetku 😥 (yaa terus manggilnya apaaa???). Simaklah percakapan di bawah ini, Kawan.

“Eeeh, Kakak Guanteng, sini Nak, Bunda punya mainan lucu,” rayuku agar Jendral G mau bersamaku. Maka tertatih-tatih bayiku mendekatiku. Diambilnya mainan dari tanganku lalu segera kembali lagi ke pelukan Karti (sedih gak sih?).

“Bagus ya mainan, Kakak. Coba kasih Bunda lagi, Nak,” kata Karti menyuruh Jendral G kembali padaku. Tapi Jendral G tetap duduk di lantai di pangkuan Karti sambil bermain-main. Aku pun merayu-rayu tapi rupanya Jendral G sudah begitu lengketnya dengan Karti. Sampai terpaksa kuhampiri dan akan kugendong dia. Namun apa yang terjadi?

Baby G menangis dan mengulurkan tangannya pada Karti sambil berkata, “Mamaa.”

Ooohhhh, remuk gak sih? Hancur gak sih? Aku begitu shock nya hingga ingin rasanya membeli Ferrari saat itu juga (sayangnya gak punya uang). Ingin ku teriak AAAAAAAAAAAAArrrrrrggggghhhhhh….. Coba kau dihadapkan pada situasi seperti itu. Apa yang akan kau lakukan, Kawan? Karti nampaknya gak enak juga dan langsung menggendong Jendral G dan membawanya ke teras. Aku terduduk lemas di kursi. Ingin marah tapi marah sama siapa? Aku yakin itu pasti ajaran Karti. Tak mungkin Jendral G yang baru bisa ngomong kok memanggilnya Mama. Pasti Karti yang ajarin kan?

Aku segera tersadar. Langsung kuambil Jendral G dari pelukan Karti. Nangis biarin. Ini anakku, cintaku, bayiku. Kubawa masuk kamar dan kami berdua menangis bersama. Aku berkata-kata pada bayiku entah mengerti atau tidak, bahwa akulah ibunya, mamanya. Tak ada orang lain yang boleh dipanggil dengan sebutan itu. Aku merasa bersalah tak menuruti nasehat Ibundaku. Aku merasa bersalah karena tak menghabiskan banyak waktu untuk bayiku. Hiks… hiks… 😥

Sejak saat itu, Kawan, sesampai di rumah pulang kerja aku langsung mandi dan ku minta Jendral G dari gendongan Karti. Mau capek kek, ngelih kek, lemes kek, aku harus bersama anakku! Tak kuberi kesempatan Karti menguasai cintaku lagi. Meski kerjanya sempurna, anakku sehat dan montok serta wangi, dia hanyalah pengasuh. Akulah Ibunya!

Dan ketika Cantik lahir, aku tak mengulangi kesalahan yang sama. Hingga kini Kawan, kedua belahan jiwaku dekat sekali denganku. Tentunya aku juga berterimakasih pada Karti tidak saja atas pengabdiannya namun juga karena memberi pelajaran yang sangat berharga untukku. Hingga akhirnya Karti pun mengundurkan diri karena menikah.

Semoga para ibu muda kini tak mengalami apa yang kualami. Pengasuh biarlah menjalankan perannya sebagai pengasuh, ketika kita sudah di rumah, ambil alih, karena kitalah Ibunya.

Baiklah, akan kuteruskan dulu tangisanku karena membuka luka lama ini. Hiks…hiks… 😥

*********************************

Setelah menghabiskan 1 kotak tissue, 2 helai handuk dan 1 lembar serbet, maka aku putuskan untuk mengikutkan tulisan ini pada kontes Emak Kecebong 3 Warna 😀

chocoVanilla berpartisipasi dalamSaweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck, again 😉

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Mama Vira

Sesungguhnya aku ini termasuk dalam golongan emak-emak kurang pergawulan 😦  Namun saking takutnya aku dibilang gak gaul, tiap keluar rumah ada ibu-ibu lewat pasti aku senyumin. Padahal mbuh ini ibu dari blok mana rumahnya mana. Kadang si ibu membalas senyumku, ada juga yang membalas dengan ragu ‘coz merasa gak kenal, bahkan ada yang lari ketakutan ketika kuajak senyum. Kemaren malam malah ada ibu-ibu berteriak histeris ketika kuberi senyum manis. Lah aku tersinggung to?Aku langsung masuk kamar dan bercermin, segitu menyeramkankah wajahku? Ouh, ternyata masih maskeran :mrgreen:

Meski demikian aku wajib rajin ikut arisan RT lho. Nah, kendalanya adalah aku tak hafal nama ibu-ibu tetangga itu hiks… Untunglah kebiasaan di kompleks kalo saling memanggil memakai nama anaknya. Mama Hani, Ibu Guruh, Bunda Kesia, dll. Kadang malah hanya menyebut nama anaknya saja tanpa embel-embel “Mama”. Itu yang sebaya. Kalo yang udah berumur biasa dipanggil dengan nama suami. Bu Agus, Bu Dani, Bu Haji. Nah, parahnya aku bahkan tak tau nama anak atau suaminya hiks…hiks… keterlaluan banget! Tau sih, paling yang sekitar rumah 😦

Di situlah awal kisah ini. Pada suatu hari aku datang arisan ke salah satu ibu. Tentu saja aku berangkat bareng tetangga sebelah rumah, maklum takut salah rumah. Pernah aku berfikir pokoknya cari rumah yang banyak sandalnya, itu pasti arisan. Eh, bener itu emang arisan tapi ternyata arisan RW! Untung baru assalamualaikum langsung sadar 😀 Kembali ke kisahku. Biasalah saat arisan pasti banyak rumpi dan obrolan bahkan ada yang juwalan. Dan seperti biasa aku sok akrab ngajak ngobrol meski hanya teman sebelah menyebelah.

Kebetulan di sebelahku ibu yang wajahnya sangat familiar, karena sering lewat depan rumahku kalau mengantar anaknya. Dia ramah dan tidak sombong. Hanya saja aku gak tau namanya! Busyet deh! Tapi sekilas tadi aku dengar seseorang memanggilnya “Vira”. Ah, ini pasti Mamanya Vira. Maka aku ngobrol tanpa kuatir menyebut namanya.

“Mama Jendral, mau gak tuh ambil bajunya? Tiga kali bayar lho,” ujar Mama Vira ini sembari memberiku beberapa potong pakaian.

“Bagus sih, tapi kayaknya gak muat deh,” sahutku halus. Padahal aku emang gak tertarik, lha wong bajunya loreng-loreng.

“Eh, ini melar lho. Dicoba dulu aja,” desaknya. Padahal bukan dagangan dia juga sih. Maka aku pura-pura mematut-matut di badan.

“Ngomong-ngomong, Jendral sekarang ikut jemputan sekolah ya, Ma? Masih di *sensor* kan sekolahnya?” tanya Mama Vira padaku.

“Masih, iya aku ikutkan jemputan. Udah lama sih, sejak mbaknya yang momong dari kecil keluar,” sahutku.

“Ooh, gak papa, biar mandiri juga,” imbuhnya. Saat itu Ibu RT sudah mulai mengumumkan pengocokan arisan.

“Kalo Vira udah kelas berapa sekarang?” tanyaku berbasa-basi. Mama Vira menatapku heran. Maka aku ulangi pertanyaanku.

“Kalo gak salah udah SMP ya? Saya sering ngeliat kalo Vira berangkat pagi-pagi. Rajin banget ya, seneng juga kalo anak udah besar. Cantik lagi Si Vira itu, pasti banyak yang naksir ya hihihihihi…..,” ocehku. Mama Vira makin melongo menatapku. Sementara Ibu RT sudah mengumumkan nama yang keluar arisan.

“Waah, Bu Vira nih yang dapat,” seru Bu RT. Semua bertepuk untuk….untuk…Ibu yang selama ini ngobrol denganku!!! Wajahku pucat, merah, pucat lagi, biru, pink dan terakhir ungu!!

“Vira itu nama saya, anak saya namanya Putri,” bisiknya padaku. Aaaahhhhh, andai aku bisa nyungsep mblesek ambles ke dalam tanah. Maluuuuu….. 😥 😦 Bisikannya lirih, tapi dalem banget! Hiks….

*******************************************

Horeeee…. kisah memalukan ini aku ikutkan kontes Diajeng Kecebong 3 Warna nan cantek-cantek dan menik-menik 😀 Sebenar-benarnya aku bingung mau dimasukkan di katagori cerita lucu atau cerita sedih ya. Tapi berhubung hanya air mataku yang keluar maka aku ikutkan CL aja deh 😀

chocoVanilla berpartisipasi dalamSaweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck 😉

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah · Tak Enak

Mandi Lumpur

Sudah lama sekali aku tak menyambangi warung Yu Minah. Selain karena perut sedang bermasalah, pulangnya pun malam terus. Maka Sabtu ini sengaja aku datang ke warungnya. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku favorit.

“Lhadalah, tak pikir sudah pindah rumah sampeyan, Jeng. Lama banget ndak main sini,” sambut Yu Minah antusias. Untung gak pake cipika cipiki segala deh.

“Iya, Yu, kangen juga sama rujak sampeyan ini. Buatkan rujak ulek Yu, pedesnya sedeng aja.”

“Baru pulang jalan-jalan, Jeng? Kok kayaknya capek gitu?” tanya Yu Minah sembari meracik bumbu sambal.

“Bukan habis jalan-jalan, Yu. Aku ini memang lagi kesel banget! Pokoke kalo tak umpamakan, diriku ini bagai gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas kemana-mana. Belum lagi kan kutiupkan wedus gembel segembel-gembelnya! Kan kulibas segala yang merintangi jalanku! Agar segera lapang dadaku dan sejuk jiwaku!”

“Qiqiqiqiqiqi…….” Lho? Kok Yu Minah yang montok semlohay ini malah cekikikan sambil ngulek?

“Sampeyan ini, Yu, wong aku lagi marah kok malah diketawain?”

“Saya baru tau, Jeng, rupanya amarah itu bisa membuat seseorang jadi putis jugak ya? Memangnya marah sama siapa to?”

“Sama PDAM! Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor!”

“Walah? Kenapa memangnya, kok sampe segitu marahnya sampeyan ini?”

Maka aku segera mengutak-atik ponsel pintarku.

“Nih, Yu, sebelum tak jelaskan mengapa aku marah lihat dulu foto ini.”

Lanjutkan membaca “Mandi Lumpur”

Cintaku · Tak Enak

Bobok, yuuuk…..

Masih belum punya asisten rumah tangga. Maka sepulang kerja aku harus membereskan rumah. Suatu malam,

Aku     : Kakak, Adeek, ayo belajar udah malam nih. Nanti selesai Bunda ngepel ditanya-tanyain
Anak2 : Yaa, Buun

Dan akupun melanjutkan ngepel. Tak lama kemudian Si Cantik menyusulku keluar.

Cantik : Bundaaa, kata Kakak biar gak ditanya-tanyain Bunda, Adek disuruh bobok aja
Aku     : Eeeeeh, gak boleeh. Kakaaaak, ayo belajar!
Guanteng: Hehehehe…ini lagi belajaaar, Buuun!

Maka kedua malaikatku kembali belajar di kamar. Selesai ngepel kusempatkan menjemur baju yang sudah seharian di dalam mesin cuci. Baru aku masuk kamar. Kira-kira sudah hampir pukul 21.30. Dan apa yang kutemui?

Kedua malaikatku telah terlelap dengan buku terbuka di samping mereka 😦 hiks…hiks… Padahal esoknya ujian bahasa Sunda dan TIK. Kalo TIK aku gak kuatir tapi bahasa Sunda?  Aku tau bukan karena akal Guanteng mereka bobok, tapi karena memang sudah terlalu larut untuk menungguiku.

Maafkan Bunda, Nak. Bukan maksud Bunda lebih mementingkan pekerjaan rumah, Bunda hanya gak tahan kalo rumah kotor 😦

Aku hanya bisa menatap wajah indah kedua malaikatku. Semoga nilai ujian mereka bagus.

Iseng Aja · Tak Enak

Makan Malam

Pembicaraan di ruang periksa.

Dokter A : Hmmm, ini saya kasih obat untuk satu bulan ya, Bu. Oya, masih suka makan malam tidak?

Aku        : Masih, Dok.

Dokter A : Owh (sambil tersenyum gimanaa gituu), baiklah ini obat diminum malam setelah makan malam ya, dua tablet sekaligus.

Satu bulan kemudian. Kontrol ke dokter lain karena internis langganan lagi gak ada.

Dokter B : Hasil labnya bagus ini. Saya kasiih obat yang sama ya. Oya, kalo malam masih makan gak, Bu?

Aku        : Eerr, masih, Dok.

Dokter B : Oh, mm porsinya banyak mana, makan siang atau malam?

Aku        : Mmm, siang, Dok 😳

Dokter B : Okay, tabletnya diminum siang aja ya sebelum makan, masih sama sih, sekaligus dua.

Bulan depannya lagi. Kembali ke dokter A.

Dokter A : Wah, hasilnya bagus nih, Bu. Masih makan malam?

Aku        : Masih, Dok.

Bla…bla…bla…

Heiii, apa salahnya sih dengan makan malam? Memangnya perempuan “manis” sepertiku, yang montok ginak-ginuk gini gak boleh makan malam? What’s the problem? Huh! 😡

Bagiku, makan malam itu masih penting. Karena saat itulah bisa makan bareng-bareng. Kalo pagi jelas gak bisa, ‘coz semua grabak-grubuk. Malaikatku cuma sarapan cereal, aku dan kekasihku sarapan di kantor klo sempat. Siang? Sudah pasti makan sendiri-sendiri. Naah, kalo malam baru deh bisa dinner bareng-bareng. Walaupun gak selalu harus duduk manis di meja makan. Dan kedua malaikatku kadang dah maem duluan, tapi moment makan malam itu selalu ditunggu-tunggu. apalagi kayak sekarang, gada pembantu, kadang makan di luar, kadang makan bareng-bareng Yangkung dan Yangti. So, moment yang menyenangkan bukan?

Tapiiii, semi kesehatanku dan demi rasa maluku, mulai nanti malam mencoba untuk tidak makan malam. Padahal kalo nemenin yang lain makan pasti jadi pengen 😦

So, bulan depan kalo kontrol lagi dengan bangga aku akan berkata sebelum ditanya “Saya udah gak makan malam, Dok. Puasss???”