I feel blue · Iseng Aja · Tak Enak

SMS

Suatu malam aku ber sms dengan mantan staff rumah tanggaku. Begini sms nya.

Aku          : Gimana kabarnya, Mbak?

Eks mbak : Ooh, baik, Bu.

Aku          : Mbak, barangkali ada temen yang mau ikut aku, dong

Eks mbak : Lho, mmg mbaknya ke mn, Bu?

Aku          : Ah, minta lbur mulu. Skrg lg pulkam.

(Gak dibalas. Lama kemudian)

Eks mbak : Bu, kl sy balik lg gmn?

(Aku berteriak kegirangan, tapi pura-pura nanya lagi)

Aku          : Lho, bkn km dah kawin, Mbak? Suamimu gmn nanti?

Eks mbak : Sy dah putus, Bu. Gak jd nikah.

Aku          : Walaaah, yo wis kpn mo dtg?

Eks mbak : Hr minggu yach

Aku          : Yo wis, tak tunggu ya, mbak.

Eks mbak : Ya, Bu.

Sayang sungguh sayang…. kau ada yang punyaaaa.… ini hanya sms imajinasi, alias khayalanku saja. Mengharap mbak tak jadi kawin kembali setelah yang baru tak ada yang setiaaa 😥 hiks….hiks….hiks….

 

Catatan: Maaf, postingan tak bermutu blaz! ‘Coz ini ingin sekali kulakukan tapi takut akan jawabannya 😦

(Opo to yoooo??? Mbuh ah! Mumet dewek!)

Iseng Aja · Tak Enak

Bunting

Pada suatu pagi kudapati ban belakang Xenita kempes pes, abis bis! Waduh, mana aku di rumah seorang diri, buru-buru mo ngantor lagi. Maka segera kupanggil Pak Satpam dan kuminta ganti dengan ban cadangan. Setelah itu berangkat. Keluar tol Cikarang segera kucari tambal ban terdekat. Dan terjadilah percakapan ini.

Tukang tambal : Wah, ini ban bocor kecil-kecil, Teh. Kawatnya udah pada keluar.

Aku                : Wah, kok bisa gitu, Bang? Masih bisa ditambal gak?

Tukang tambal : Susah sih, tuh liat gelembung-gelembung air, ini bocor kecil-kecil. Bannya juga udah nggelembung. Kalo istilah kita ini ban udah “bunting”

Aku (kaget)    : Waks! Bunting? Waduh, sumpah Bang, bukan suami saya yang mbuntingin, lho!

Tukang tambal : $@^&^(*&)(@)(*&&^$%%$@&

 

Catatan: Percakapan ini benar terjadi, dan si tukang tambal ban ketawa ampek kepingkel-pingkel :mrgreen:

Padahal kan garing yak? 😦

Cari Solusi · Iseng Aja · Tak Enak

Benalu

Sebetulnya agak terlalu kasar sih menurutku. Tapi susah sekali mencari padanan kata yang tepat untuk tipe seperti ini. Hmm, coba Kawan simak percakapan di suatu pagi di bawah ini.

Pak Vijay : Choco, ini ada proyek baru. Kamu bisa kerjakan kan? Nilainya cukup besar lho. Bla…bla…bla…

Aku         : Bisa aja, Pak. Yang penting harga sesuai ya.

Pak Vijay : Oya, jangan lupa ya, success fee buat saya 10% seperti biasa.

Aku          : Oh, tenang aja, Pak.

Pak Vijay ini adalah seorang konsultan .  Relasinya terbentang luas di seluruh Indonesia. Memang beliau sering memberi proyek ke kantorku. Dan tentu saja ada fee seperti yang beliau sebut itu. It’s okay, saling menguntungkan bukan? Sekarang Kawan simak percakapan lain lagi di bawah ini, setengah hari kemudian.

Pak Sanjay : Mbak Choco, tadi sudah dihubungi oleh Pak Vijay ya mengenai proyek akhir Maret nanti?

Aku            : Oh, yang itu ya? Sudah, Pak. Ini saya sedang buat penawarannya, nanti sore saya email.

Pak Sanjay : O ya, perlu Mbak Choco ketahui, Pak Vijay sekarang sudah resmi bekerja di kantor kami. Sudah full time, yah saya kan gak bisa urus semuanya sendiri. Jadi yaa saya menawarkan ke beliau dan ternyata setuju.

Aku (kaget) : Ooo, sudah resmi bergabung ya, Pak? Saya kira masih sebagai konsultan di kantor Bapak.

Pak Sanjay : Sudah per Januari lalu. Bla…bla…bla…

Pak Sanjay ini direktur sebuah perusahaan relasi kantorku. Kami sudah bekerja sama lama, sudah teken kontrak. Jadi kalo ada proyek pasti lari ke kantorku, tidak ke tempat lain. Dengan kata lain, tanpa bantuan Pak Vijay pun proyek ini akan jatuh ke tanganku. So?

Itulah yang menjadi ganjalanku saat ini. Andai proyek itu bernilai 100 juta. Maka aku harus menjual 110 juta untuk fee Pak Vijay. Padahal mestinya harga segitu bisa masuk semua ke kantorku kan? Memang sih harga 100 juta itu sudah profit, tapi kan bisa lebih besar lagi kalo yang 10 juta juga masuk kantor. Ato yang lebih mengerikan kalo setiap kali ada proyek dari Pak Sanjay si Pak Vijay ini minta 10% kan lama-lama harga jualku jadi makin meningkat. Ini bukan masalah under-table seperti biasa kita berikan pada key person, tapi aku merasa seperti kecurangan ya? Gak tertutup kemungkinan Pak Sanjay akan melirik provider lain setelah kontrak selesai karena punyaku kemahalan.

Sementara untuk membatalkan fee itu juga gak enak, karena aku sudah terlanjur menyetujui. Lagipula sewaktu menelponku aku lom tau kalo beliau dah jadi karyawan Pak Sanjay. Kalo proyek lain sih aku rela memberi fee itu. Tapi kalo proyek dari Pak Sanjay, yang sudah jelas-jelas menjadi mitraku masih minta juga? Etis gak sih yang begitu? Trus gimana caranya aku bilang ke Pak Vijay agar tidak mengambil fee dari situ? Ato biarin aja seperti itu?

😦 Aku hanya bisa menatap sendu wajah Sahruk Khan yang ganteng di majalah temanku.

 

 

 

 

Jalan-jalan yuuuk.... · Tak Enak

Tarif Tol Merata

Kali ini aku mo ngomel-ngomel tentang tarif tol merata yang mulai berlaku sejak tanggal 2 Maret lalu. Bukan soal harganya, tapi dampak yang ditimbulkannya. Naiknya sih gak seberapa cuma 500 rupiah dari tarif lama. Tapiiii, muaceeeetnyaaaaa……..

Kantorku Kawan, terletak di Kawasan Industri Jababeka. Nah, jarak dari Jababeka ke pintu tol itu gak jauh, paling sekitar 5 – 7 km lewat jalan normal. Tapi karena puadatnya lalin di hari kerja maka mesti mutar melalui Jababeka 2. Oleh karena itu Kawan, jarak yang begitu dekat harus ditempuh dalam waktu 40 – 45 menit. Itu kondisi normal sehari-hari. Nah, setelah berlaku tarif merata itu, di mana kita harus membayar di pintu masuk, astaganagaaaa antrinyaaaaaaa…….

Hari pertama waktu yang kutempuh 1 jam lebih! Believe or not! Dari kantor 16.35 sampai di pintu tol 17.50. Capek gak sih? Sikile nganti pan pedhot. Mana binatangnya gede-gede lagi, segala bus, trailer, tronton, truk, kapal selam, traktor, wis aneka jenis ada di sini semua. (Mending jalan kaki aja ampek pintu tol baru nyegat angkot). Dah gitu antri mbayarnya puanjaaaang buanget! Pasti mereka mbayarnya pake uang 200 ribuan semua. Huh! Mbok ya uang pas gitu biar cepet.

Jababeka ini Kawan, gak usah pake mbayar dulu, cuman ngambil tiket aja udah muacete puoll lha kok pake diganti-ganti kayak gini? Dah gitu gak cuman Cikarang, rupanya di MM2100, Cibitung, juga mengalami hal yang sama. Emang sih pas keluar di Bekasi Barat gak semacet biasanya.

Hari kedua gak terlalu parah, karena aku ngabur lebih cepat dari kantor :mrgreen: (semoga boss tak pernah tau aku punya blog). Semoga ini hanya karena penyesuaian saja. Semoga ke depannya lebih lancar lagi.

Ini baru lolos mutar Jababeka2
Harus mutar lagi di bawah fly over
Antrian gak jelas 😦
Binatangnya besar-besar kan?

Bagaiman dengan Jumat sore ini? Semoga gak macet parah. Atoo…. ngabur sekarang aja? :mrgreen:

 

I feel blue · Tak Enak

Edelweiss dari dan untuk Pak Louis…

Edelweiss….. edelweiss…

Every morning you greet me

Small and white, clean and bright

You look happy to meet me

 

Blossom of snow may you bloom and grow

Bloom and grow forever

Edelweiss…edelweiss….

Bless my homeland forever

Aku masih ingat lagu itu, Pak Louis, lagu yang kau ajarkan. Aku pun sering menyanyikannya untuk kedua malaikatku. Film “The Sound of Music” yang kau tunjukkan. Menangis, menangis kala aku menyaksikan  film itu. Dan sekarang aku kembali menangis, karena kau telah pergi untuk selamanya.

Terimakasih Guruku, berkat engkau, bahasa Inggrisku selalu mendapat nilai terbaik. Bahkan kau pernah memintaku untuk tidak tunjuk tangan setiap kali ada pertanyaan dalam bahasa Inggris kau ajukan (sayangnya kini aku hanya pengguna pasif 😦 ) .  Dan terimakasih, karena kau juga memberiku kesempatan untuk ikut lomba paduan suara tingkat propinsi…. solasih… solasih solandono…. Belum lagi keterlibatanku pada choir yang luar biasa indah di bawah pimpinanmu. Haec dies quam fecit atau silent night atau gloria in exelcis deo… Ah, Pak Guru yang bersuara merdu.

Aku beruntung, karena masih sempat mengunjungi engkau di masa dewasaku. Bapak begitu kurus dan sepuh. Dan sekali lagi kita bertemu di rumah sakit. Betapa bahagianya engkau melihat bekas muridmu ini. Bagi seorang guru, hal yang membahagiakan tentu ketika bertemu lagi dengan para murid dalam keadaan berbeda di masa dewasanya.

Kau bukanlah hanya sekedar guru buat kami, namun sudah seperti saudara, keluarga layaknya.

Terimakasih, Pak Louis. Selamat jalan. Doa kami menyertai kepergianmu, semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi Bapa. Selamat jalan, we loves you…. 😥

Lanjutkan membaca “Edelweiss dari dan untuk Pak Louis…”

Iseng Aja · Mbuh Ah ! · Tak Enak

Beruang vs Tak Beruang

Ini bukan beruang grizzly, Kawan ato beruang kutub apalagi beruang madu. Maksud beruang ini adalah ber”uang”, seseorang yang mempunyai uang. Kau tau Kawan, betapa enaknya menjadi orang yang beruang banyak. Lihat saja contoh ini.

Bila kau beruang dan sekaligus seorang pesakitan…….

Maka kau bisa masuk keluar penjara kapanpun kau mau. Jangankan cuma pulang ke rumah, wisata ke Raja Ampat pun bukan masalah. Coba kalo kau tak beruang? Yah, nikmati saja hidupmu dalam bui. Boro-boro mo keluar pagar, baru liat pintu saja sudah dicurigai.

Bila kau beruang dan sekaligus pemain cinta ulung……..

Maka kau akan aman bercinta di hotel bintang lima. Tak seorangpun berani mengetuk pintumu walo hanya sekadar mengantar koran pagi. Coba kalo kau tak beruang? Yah, nikmati saja permainan cintamu di hotel melati. Dan siap-siaplah digrebek aparat setiap saat. Karena kau hanya warga kelas tiga.

Bila kau beruang dan sekaligus politikus…….

Maka kau akan dikelilingi orang-orang yang tiba-tiba selalu ada untukmu. Melayanimu dengan harapan kelak kau akan ingat padanya dan memberinya “cipratan” kekuasaan. Coba kalo kau tak beruang? Ohh, nyamuk pun enggan menghinggapimu!

Bila kau beruang dan karenanya jadi anggota dewan…….

Maka kau bisa wisata ke dalam negri, ke luar negri tanpa harus keluar biaya sepeserpun. Toh sudah kau peras orang-orang dari golongan tak beruang itu untuk membiayai perjalanan wisatamu bukan? Coba kalo kau tak beruang, hahaha….. ke Taman Mini sajalah, lewat pintu yang tak dijaga petugas, gratis!

Bila kau beruang dan sekaligus pengusaha besar (tentu saja kau beruang!)…….

Maka tak perlu pusing membayar pajak. Tidurlah dengan nyenyak. Sudah ada  “tukang sulap”, sehingga kekayaanmu bahkan takkan berkurang satu persenpun. Coba kalo kau tak beruang. Oohh, siap-siap saja telingamu dijejali dengan jargon-jargon pajak. Bayarlah pajak! Dengan membayar pajak berarti bla…bla…bla…

Bila kau beruang dan sekaligus pejabat (haruskah pejabat beruang? Ato beruang setelah menjadi pejabat?)……..

Maka kau bisa menandatangani cek pengeluaran-pengeluaran fiktif tanpa harus ada buktinya sedikitpun. Cek perjalanan dinas, walo kau tak kemana-mana. Pembangunan taman kota, walo hanya sekedar lahan kecil ditanami rumput Jepang dan sansivera. Coba kalo kau tak beruang? Tentu saja kau takkan jadi pejabat, bodoh!

Tapi tak usah sedih, Kawan kalo kau masuk golongan tak beruang. Karena uang itu godaan. Berbahagialah kau bila hidupmu pas-pasan tapi kau jujur, ikhlas dan selalu berikhtiar. Karena sesungguhnya kerajaan surga dekat padamu.  Dan bagi orang-orang yang beruang namun didapat dengan keculasan, kecurangan, dan dengan menindas orang lain maka nerakalah yang menanti (ahaiiii, suit….suit….) 😀 Sok tauuuuuu………. 😆

I feel blue · Tak Enak

Derita Filicium

Angin murka lagi
Guntur menggelegar kembali
Sudah kucoba meliukkan tubuhku
Tuk mengimbangi amarah sang bayu
Telah kuayunkan dedaunanku
Tuk coba meredam gemuruh seram itu

Dahsyat… mengerikan…
Tak tahukah mereka
Aku ini hanya sebatang filicium
Betul akarku kokoh menembus bumi
Betul batangku tegak menopang rimbunku
Namun hempasan itu mampu meluruhkanku
Tamparan itu tega mematahkanku

Angin…guntur…
Hentikan amarahmu
Ijinkan aku tetap hidup
Tuk meneruskan keturunanku
Tuk melestarikan hijauku
Dan….
Untuk terus menaungi dari panas dan gersang
Sepotong kata yang sesungguhnya tak bermakna untukku
MANUSIA!

Pedih seluruh tubuhku
Angin, hentikan murkamu
Mentari, sibaklah gelap ini

I feel blue · Tak Enak

Dilema

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan… sungguh aku mewek 😥

Sudah delapan hari aku gak masuk kerja sejak libur Lebaran lalu. Masalahnya klasik dan membosankan. Pembantu tak pulang, padahal janjinya mo balik. Hari ini aku masuk tapi akibatnya kedua malaikatku bolos sekolah dan kutitipkan Yang Tie. Terpaksa, ‘coz hari ini ada tender bernilai lumayan besar.

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Besok aku bolos lagi, karena anak-anak harus masuk sekolah. Jumat nanti aku kembali kerja dan anak-anak bolos. Aku terjebak dalam dilema. Haruskah aku memilih? Sebetulnya untuk apa sih aku kerja? Untuk keluarga? Untuk anak-anak? Tapi apa artinya jika akhirnya keluarga terbengkelai? Anak-anak terabaikan?

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Oke, jujur, sebagian aku kerja memang untuk diriku sendiri. Aku masih punya ambisi yang ingin kukejar. Aku masih punya mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku masih punya cita-cita yang ingin kuraih. Haruskah aku berhenti sampai di sini?

Hiks…hiks… aku menangis, Kawan. Aku tak bisa memilih. Apa yang harus kulakukan? Mengapa hidupku begitu tergantung pada pembantu? Aku sebal! Aku benci! Tapi aku bisa apa? Memang begitu adanya. Haruskah aku berhenti sampai di sini? Haruskah kupendam ambisiku? Haruskah kubangun dari mimpiku? Haruskah  kukubur cita-citaku?

Hiks…hiks… sungguh aku menangis, Kawan. Aku tak tau harus bagaimana 😥  😥  😥

I feel blue · Tak Enak

Insomnia

Aku terus berlari dan berlari dan berlari. Sesekali kutoleh ke belakang, ahh benar, dia masih mengejarku. Semakin cepat kuberlari. Keringat dingin mulai menetes-netes, kuyup sudah seluruh tubuhku. Dan malam ini mengapa tak kunjung berakhir?? Detak jantungku menggemuruh bak kuda pacu. Pagi, cepatlah datang! Ramai, cepatlah tiba!

Lelah sudah ragaku. Ku berhenti di ujung jalan, dia pun ikut berhenti. Kudengar napas beratnya mendengus laksana banteng luka. Kulihat bayangan tanduk yang melingkar tajam di kepalanya. Kulihat kaki besarnya kokoh menapak bumi. Tapi aku tak berani menatap mata dan wajahnya. Aku tak tau siapa atau apakah dia? Tapi dia selalu mengejarku hingga ku lelah, hingga napasku nyaris berhenti, hingga tak kuat ku membawa diriku lagi.

Malam kian menggantung dan mataku nyalang tak berkedip. Aku masih tercekam ketakutan. Sunyi dan sunyi, tak ada melodi yang menghibur sayup sekalipun, bahkan hantu malam pun telah terlelap. Aku benci malam! Karena malam seperti tak pernah berujung. Karena dia yang entah siapa atau apa itu selalu mengejarku. Membuatku lelah jiwa dan raga.

Aku benci malam!

Hahahaha…. itu duluuuuuu….!!! Sebelum kawin aku memang penderita insomnia, Kawan. Entah apa yang aku takutkan, tapi aku gak pernah bisa tidur awal. Menjelang subuh, ketika sudah ada tanda-tanda kehidupan baru aku bisa terlelap. Ato kalo kawan satu kosku pindah ke kamarku, langsung aku lelap. Biasanya sih selalu denger kaset, tapi gitu lagu abis ya langsung melek lagi. Tersiksa banget. Apalagi kalo ditambah acara mati lampu, huwwaaaaa……. bisa gak tidur semalaman!

Tapiiii, setelah kawin, lha kok baru nyentuh bantal langsung lelap?? Hahahaha…. apalagi sejak ada kedua malaikatku, jadi kebluk pol! Maka kekasihku gak percaya blaz kalo dulu aku insomnia, lha wong sekarang pulez teruz 😆

So, berbahagialah orang yang selalu bisa nyenyak tidur. Karena tidur nyenyak berarti mengistirahatkan jiwa dan raga. Dan ketika bangun bahagia yang menanti. Selamat tidur, Kawan 😀