Lukisan Cinta, Episode 20 (revised edition)

Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelambatan penulisan Lukisan Cinta ini 😀 Tulisan yang ini selain untuk mengingatkan kisah sebelumnya, juga untuk menunjukkan penambahan kisah yang sebelumnya belum ada 😀 Monggo silakan dinikmati 😉

BAB LIMA
KARANG

“Sesungguhnya karang marah pada samudera
Mengapa selalu mengempas dan mengikis?
Menyisakan bilur-bilur pedih siksa dera?
Namun karang menerima takdirnya tanpa tangis”

    Rini bersimpuh di depan tanah merah penuh bunga itu dengan mati rasa. Pelayat terakhir baru saja berlalu dengan sedu sedannya. Rini bahkan tak tahu lagi, siapa yang datang, siapa yang memeluknya, siapa yang terus menerus membisikkan kata penghiburan. Semua bagaikan dengungan lebah di telinganya, mengganggu namun tak bisa diusir. Ia hanya ingin berdua saja dengan Elang, meski bocah kecil itu tak lagi tampak mata.

   Elang, Elang, di mana kau, Nak? Mengapa tak kau jawab panggilan Mama? Gelapkah di dalam sana, Nak? Takutkah kau, Nak? Dinginkah? Jangan takut, Sayang, Mama di sini. Mama selalu ada untukmu, Sayang. Boboklah nyenyak, Nak, Mama sayang sekali sama Elang. Elang…Elang…

Baca lebih lanjut

Tragedi Daun Kunyit

daun kunyit
Pinjam dari Google

Kisah ini terjadi ratusan tahun yang lalu. Tapi baiklah akan kuceritakan, mana tahu bermanfaat bagi Kawan perempuan yang hendak menikah dengan orang Padang atau setidaknya yang mempunyai calon mertua pandai memasak 😛

Pada waktu itu, camer berkunjung ke rumah di Semarang, kan ceritanya mau kenalan dengan ortuku ihik…ihik… ashamed0002 Free Emoticons   Shame Nah, setelah semalaman perjalanan dengan kereta, maka paginya kami ke pasar. Ibu camer (selanjutnya kusebut Nenek) hendak memasak, weiiss, asyik dong, secara Nenek kan pandai memasak. Dan sebagai calon menantu yang baik, tentu aku ikutan sibuk (pura-pura, siy) di dapur. Bertiga dengan Ibunda sambil ngobrol ngalor ngidul kami mulai memasak. Sementara para pria ngobrol di ruang keluarga.

Nah, di dapur inilah tragedi itu bermula ashamed0002 Free Emoticons   Shame Hari itu Nenek bermaksud memasak rendang dan gulai ayam. Salah satu bumbu yang diperlukan adalah daun kunyit. (Semoga Mbakyuu Prih tidak membaca ini, pasti aku akan diketawai habis-habisan) (Gak mau dibaca kok dikasih link) (Hayah, malah ribut dewe). Tapi ternyata kami lupa membeli dun kunyit.

“Oh, ada kok, itu di kebun bawah ada tanaman kunyit. Coba kamu ambil, deh!” kata Ibunda. Oh ya, Ibunda senang sekali bercocok tanam 😀 Maka aku segera berlari turun, rumah kami dibangun mengikuti kontur tanah yang berbukit, sehingga dapur ada di atas sementara kebun ada di bawah dapur. Sampai di bawah, ternyata begitu banyak tanaman, rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Haduuhh, tiba-tiba aku baru sadar, bahwa…ternyata…aku gak tahu penampakan daun kunyit itu seperti apa! Gubrakkk!!! Dan selama aku kuliah di Yogya lalu bekerja di Jakarta, aku tak pernah tahu apa saja yang ditanam Ibunda di situ.

Maka, dengan sok taunya aku berteriak dari bawah.

“Ibundaa, gak ada daun kunyit, kok!” Lalu Ibunda dan Nenek melongok dari jendela dapur.

“Lho, ada, kok. Lha ituuu, nang cedakmu!” (Lha ituuu, di dekatmu) seru Ibunda. Aku celingukan, mau di dekat kek mau jauh kek, lha wong aku gak tahu penampakannyaaa ashamed0004 Free Emoticons   Shame

“Mana, siyy?” seruku sambil menunduk-nunduk mencari.

“Itu lho, Cho, di bawah kakimu!” seru Nenek juga. Aku melihat ke dekat kakiku.

“Ohh, yang inii,” sahutku sambil siap memetik daunnya.

“Bukaaaannnn! Yang satunya!” Sampai kaget aku mendengar mereka berdua berseru barengan. Haduuhh, mukaku ini mau ditaruh mana, ya? Maluuuu. Rupanya karena mendengar ribut-ribut, kekasihku menyusul turun.

“Ada apa?” tanyanya.

“Ssstt, aku mau ambil daun kunyit. Yang mana, sih?”

“Ooo.” Dengan tenang kekasihku memetik daun yang sedari tadi menempel di betisku, daun yang lebar dan panjang, lalu memberikannya padaku.

“Nahh, iya yang itu. Tuh, Nak Fery malah tahu,” kata Ibunda. Seketika mukaku langsung kukantongi!

Sampai di atas segera kuserahkan daun itu pada para Ibu.

“Choco, emang belum pernah lihat daun kunyit, ya?” tanya Nenek.

“Lhaa, kamu kan sarjana pertanian, mosok (masa) gak tahu daun kunyit?” goda Ibunda. Haduuhhh!!! Sungguh, aku tersipu-sipu kemaluan!

“Kan, belajarnya menanam jagung, padi, kopi, coklat, karet, bla…bla…,” kataku mencoba ngeles sementara kedua bundaku tertawa menggoda.

Sejak saat itu, aku hafalkan betul yang namanya daun kunyit! Bahkan sekarang, aku sudah tahu seperti apa penampakan kapulaga, pala, asam kandis, jinten, dll. (tapi tetep belum tahu pohonnya kayak mana hihihihihi….)

chocoStorm

Entah dulu bagaimana ceritanya, ternyata aku punya alter blog yang khusus buat fiksi 😀 Kalo gak salah karena ikutan salah satu kegiatan menulis fiksi yang dilakukan tiap minggu, akhirnya aku buat blog itu. Meskipun ternyata masiiiiiihhh juga miksi (baca: nulis fiksi) di blog ini 😛 Maklumlah Kawan, bagaimanapun blog ini sudah lebih dulu ramai sementara yang baru itu cuma dikunjungi 1 – 2 pengunjung, jadi kok kayaknya udah susah-susah nulis kok ya gak ada yang baca gitu :mrgreen:

Tapi, semenjak bergabung dalam Monday FlashFiction yang seruuuu banget, akhirnya aku memutuskan untuk miksi di sana ajah. Yeah, blog yang ini kan, isinya campur sari (meski dah jarang nulis), jadi sesuai peruntukan semula (hayah), blog yang di sana itu khusus buat miksi saja 😀

Apa sih, blog khusus fiksi itu? Nah, lha kiyee… chocoStorm …. hahahaha….

pachyderm2

Hahahaha…. mengapa bertajuk The Dark Side of Me? Waahhh, karena di sana aku berani menulis yang agak nyleneh :mrgreen: Sebut saja “Seonggok Jantung” yang hiiiiyyy…. atau “Jack The Clown” yang panjaaang… atau “Lingerie Merah” yang ehm…little bit naughty 😛 atau “Moon River” yang berkisah tentang kegilaan, hiiiyyy…. atau “Hannah” yang menggemaskan 😛 ada juga “Almanak” dongeng yang mengenaskan hahaha… Eh, ada juga cerpen seruu “The Secret Admirer” yang ber ending tak terduga (menurutku, siiy) hahaha… “Perempuan dalam Cermin” juga sebuah cerpen perpanjangan dari FF berjudul sama, yang dulu pernah kuikutkan di salah satu website yang kini entah di mana keberadaannya… hiks… Satu lagi, ada juga yang ajaib di “Baby Doll” :mrgreen:

Pokoknya dah banyak deh, tulisanku di sana 😛 Monggo bagi yang senang membaca fiksi berkunjung ke sana yaa 😛 (promo terang-terangan) dan dapatkan kejutan di tiap endingnya 😛 (padahal banyak sih, yang gak nge twist 😛 )

Rasakan “badai coklat” yang creamy, milky, crispy, and bitter also 😉 But, too much bitter over there 😛

Kutukan Eiffel

Berada di Paris adalah mimpi dalam mimpiku. Tidak terbayang sama sekali! Aku harus berterimakasih pada Adrian, putra mahkota pemilik jaringan rumah sakit besar tempat aku bekerja. Hanya karena asistennya tidak jadi ikut, maka aku yang harus mendampinginya menghadiri konferensi dokter bedah kosmetik seluruh dunia. Sayangnya, Adrian ini selain tampan, kaya raya, namun sombongnya tidak tahan! Sepanjang konferensi aku selalu menghindarinya, lebih baik berteman dengan para dokter dari seluruh belahan dunia, meski aku hanyalah dokter umum baru lulus.

Sayangnya, malam ini aku tidak bisa menghindarinya.

“Ini malam terakhir, aku mau kau ikut aku,” ujarnya. Ini bukan mengajak, tetapi bersabda.

“Ke mana, Dok?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.

“Eiffel, tentu saja! Kau belum ke Paris kalau belum mengunjungi Eiffel!”

Yeah, siapa juga yang menolak? Setelah siang kemarin kami dan beberapa dokter kabur dari konferensi dan berjalan-jalan menyusuri Champ-Elysee, hingga ke Arc de Triomphe, setelah sebelumnya mengagumi senyum Monalisa di Museum Louvre.  Dan petangnya memandangi Katedral Notre Dame yang bergaya Gothic dengan Si Bongkok nya yang melegenda. Rupanya, Eiffel, tempat terindah ini menjadi destinasi kami di malam terakhir di Paris.

“Baiklah,” sahutku berusaha menyembunyikan gairah yang meletup-letup. Eiffel, I’m coming!

Dan malamnya, tak mampu aku berkata-kata melihat keindahan Eiffel. Menara besi itu seperti berselubung cahaya. Sungguh, ini tempat kaum pencinta.

“Mira, tahukah kau, mengapa kau yang kuajak ke mari?” bisiknya. Dingin menggigit, namun tiba-tiba pipiku memanas. Aku menggeleng lalu menatap matanya.

“Karena aku cinta kamu.” Jantungku melompat sampai puncak Eiffel!

“Maukah kau menjadi istriku?”

Aku tertunduk lalu mengangguk. Biarlah, meski harus menjadi yang kedua.

******

Words: 250, ikut giveaway Pesta Flash Fiction @NBC_IPB & @novellinaapsari

Kartu Sakti

Mendung menggantung sejak siang tadi, tapi hujan gak turun juga. Wah, sumuk nian. Kalo cuaca begini memang paling seger menyantap rujak serut Yu Minah yang sudah didinginkan 😋 Maka aku membuka kulkas, tapi sayang ternyata persediaan rujakku sudah habis 😢 Aku pun meluncur ke warung Yu Minah, semoga tidak sedang ramai.

Ah, untunglah tidak ramai. Tepat berpapasan dengan dua orang ibu yang berlalu membawa bungkusan rujak Yu Minah. Wajah mereka nampak keruh bahkan terlihat kesal. Mengapa, ya?

Setelah mengucapkan salam aku segera duduk di bangku favorit. Yu Minah yang sedang membereskan cobeknya membalas salamku dengan agak jutek juga. Ini kenapa, ya?

“Buatkan rujak serut, Yu, biasa pedes tapi gak banget.”

“Iya Jeng, jangan pesen yang pedes banget kayak ibu-ibu tadi. Wong cabe lagi mahal banget!” gerutu Yu Minah sembari menyiapkan bumbu sambal.

“Lho, memangnya kenapa, Yu?” tanyaku heran.

“Pelanggan itu kadang ndak mau ngerti, Jeng. Minta dibuatkan rujak yang pedes banget. Sudah tak kasih sak genggam cabenya eehh masih minta lagi. Kan saya jadi susah, memangnya ndak tahu apa, kalo cabe harganya lagi selangit?”

“Ooo, urusan cabe, to? Ya gimana lagi, Yu, kalau BBM naik ya pasti semua naik. Jangankan cuma cabe, kangkung aja pasti ikutan naik. Tapi kan, sudah ada kartu sakti, Yu, lumayan lah bisa memperingan hidup,” kataku sembari mengudap potongan bangkuang yang seger. Meski kali ini Yu Minah menggunakan jurus “Angin Topan Menggulung Gemunung”, aku masih bisa mencomot buahnya 😀

“Lhadallahh, kartu sakti yang mana, Jeng? Kartu Indonesia Pintar? Yo saya pasti ndak bakalan dapet, anak sudah kuliah, kok. Ndak tepat kartu yang itu buat saya! Kecuali kalo berlaku sampe anak kuliah juga digratisin. Untung saja Si Tole pinter cari duit tambahan, kalo ndak, bisa mumet saya.”

“Ya klo itu emang gak banyak membantu sih, Yu. Paling gak kan, ada kartu satu lagi, Kartu Indonesia Sehat. Lumayan Yu, bisa berobat gratis!”

“Gratis sih gratis, tapi antrinyaaaaa…ampuuunn… kalo cuma batuk pilek saya mending kerokan, Jeng,” gerutu Yu Minah sembari membungkus rujakku.

“Lha, masih ada satu kartu lagi, Yu. Kartu Keluarga Sejahtera, nah yang ini mungkin paling tepat buat masyarakat, ya?”

“Bisa jadi, tapi ada pakai SIM card segala, Jeng? Lha, kalo yang ndak punya HP, gimana? Mbok ya sekalian dikasih HP nya, ya, biar semakin meringankan. Lha, nanti uang bantuannya malah buat bayar utang beli HP? Hihihi…..”

“Sik..sik..sampeyan kok GR banget to, Yu? Kartu sakti tadi itu cuma buat golongan masyarakat miskin! Sampeyan kan, gak miskin! Masih bisa hidup enak, nguliahin anak!” 🙈

“Hah? Oh iya yaa…hehehe…tapi saya mangkel, Jeng, harga-harga sudah pada naik, padahal BBM aja belum jelas kapan naiknya! Saya jadi susah matok harga!” Yu Minah masih menggerutu sembari mengangsurkan bungkus rujak padaku. Aku segera memberinya uang pas.

“Eh, maaf Jeng, harganya sudah naik,” ujarnya malu-malu.

“Lho? Masa tiap tahun naik, Yu? Mau naik jadi berapa ini?” omelku kaget.

“Cuma nambah dua ribu saja, Jeng.”

“Wah Yu, tahu gak, rujak sampeyan ini rujak paling mahal sak Bogor! Malah mungkin sak Indonesia Raya!” gerutuku kesal sambil mencari-cari uang di dompet.

“Lha, gimana lagi? Kalo harga ndak naik tapi porsi dikurangi, pelanggan ngomel. Kalo harga ndak naik, saya yang rugi, Jeng!” Aku diam saja dan menyerahkan selembar uang dua ribu. Lain kali pikir-pikir deh, mahal banget!

“Jangan cemberut, Jeng. Wis, nanti tak kasih KSYM!”

“Apa itu?” tanyaku masih kesal.

“Kartu Sejahtera Yu Minah, ada banyak diskon di situ. Khusus pelanggan setia kayak sampeyan saya kasih gratis kartunya! Nah, jangan marah lagi yaaa….”

Dih! 😤

kartu diskon YM2

Bisul

sumber

“Pokoknya akhir bulan ini bantaran sungai itu harus sudah bersih! Jangan jadi bisul di tengah kota!” Pak Kada berteriak-teriak di ruang kerjanya. Seluruh staf ketakutan.

“Tapi, Pak…rusun tak bisa menampung mereka lagi,” kata seorang di antaranya.

“Kasih duit aja buat pulang kampung! Atur, dong!”

***************

Akhirnya, cita-cita Pak Kada menjadikan bantaran sungai menjadi seindah San Antonio River Walk terwujud. Para investor pendukung memujinya. Pembangunan apartemen mewah di sekitar sungailah tujuan utama. Apapun, Pak Kada sukses. Seluruh media cetak dan elektronik memujanya.

Dan pagi ini, Bu Kada berteriak histeris melihat suaminya terbaring penuh bisul di sekujur tubuhnya. Merah, besar dan bernanah!

****************

Words: 100

Yuuk, ikutan MFF Prompt #67: On the Riverside 😉

Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha… 😛

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut 😀

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Baca lebih lanjut

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

“Aku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),” cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

“Pasti, Nduk,” jawab lelaki renta itu tersenyum.

“Mbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.”

“Iya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.”

“Ya, Mbah.” Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

“Malang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.” Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

“Aku pusing, Mbah Kung,” keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

“Agak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.” Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

“Kamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?” tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

“Iya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,” keluh sang cucu.

“Mbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,” senyum lelaki renta itu penuh rahasia, “besok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.”

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

“Nduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!” Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

“Nduk,” panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis