Iseng Aja

chocoStorm

Entah dulu bagaimana ceritanya, ternyata aku punya alter blog yang khusus buat fiksi ๐Ÿ˜€ Kalo gak salah karena ikutan salah satu kegiatan menulis fiksi yang dilakukan tiap minggu, akhirnya aku buat blog itu. Meskipun ternyata masiiiiiihhh juga miksi (baca: nulis fiksi) di blog ini ๐Ÿ˜› Maklumlah Kawan, bagaimanapun blog ini sudah lebih dulu ramai sementara yang baru itu cuma dikunjungi 1 – 2 pengunjung, jadi kok kayaknya udah susah-susah nulis kok ya gak ada yang baca gitu :mrgreen:

Tapi, semenjak bergabung dalam Monday FlashFiction yang seruuuu banget, akhirnya aku memutuskan untuk miksi di sana ajah. Yeah, blog yang ini kan, isinya campur sari (meski dah jarang nulis), jadi sesuai peruntukan semula (hayah), blog yang di sana itu khusus buat miksi saja ๐Ÿ˜€

Apa sih, blog khusus fiksi itu? Nah, lha kiyee… chocoStorm …. hahahaha….

pachyderm2

Hahahaha…. mengapa bertajuk The Dark Side of Me? Waahhh, karena di sana aku berani menulis yang agak nyleneh :mrgreen: Sebut saja “Seonggok Jantung” yang hiiiiyyy…. atau “Jack The Clown” yang panjaaang… atau “Lingerie Merah” yang ehm…little bit naughty ๐Ÿ˜› atau “Moon River” yang berkisah tentang kegilaan, hiiiyyy…. atau “Hannah” yang menggemaskan ๐Ÿ˜› ada juga “Almanak” dongeng yang mengenaskan hahaha… Eh, ada juga cerpen seruu “The Secret Admirer” yang ber ending tak terduga (menurutku, siiy) hahaha… “Perempuan dalam Cermin” juga sebuah cerpen perpanjangan dari FF berjudul sama, yang dulu pernah kuikutkan di salah satu website yang kini entah di mana keberadaannya… hiks… Satu lagi, ada juga yang ajaib di “Baby Doll” :mrgreen:

Pokoknya dah banyak deh, tulisanku di sana ๐Ÿ˜› Monggo bagi yang senang membaca fiksi berkunjung ke sana yaa ๐Ÿ˜› (promo terang-terangan) dan dapatkan kejutan di tiap endingnya ๐Ÿ˜› (padahal banyak sih, yang gak nge twist ๐Ÿ˜› )

Rasakan “badai coklat” yang creamy, milky, crispy, and bitter also ๐Ÿ˜‰ But, too much bitter over there ๐Ÿ˜›

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Kutukan Eiffel

Berada di Paris adalah mimpi dalam mimpiku. Tidak terbayang sama sekali! Aku harus berterimakasih pada Adrian, putra mahkota pemilik jaringan rumah sakit besar tempat aku bekerja. Hanya karena asistennya tidak jadi ikut, maka aku yang harus mendampinginya menghadiri konferensi dokter bedah kosmetik seluruh dunia. Sayangnya, Adrian ini selain tampan, kaya raya, namun sombongnya tidak tahan! Sepanjang konferensi aku selalu menghindarinya, lebih baik berteman dengan para dokter dari seluruh belahan dunia, meski aku hanyalah dokter umum baru lulus.

Sayangnya, malam ini aku tidak bisa menghindarinya.

“Ini malam terakhir, aku mau kau ikut aku,” ujarnya. Ini bukan mengajak, tetapi bersabda.

“Ke mana, Dok?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.

“Eiffel, tentu saja! Kau belum ke Paris kalau belum mengunjungi Eiffel!”

Yeah, siapa juga yang menolak? Setelah siang kemarin kami dan beberapa dokter kabur dari konferensi dan berjalan-jalan menyusuri Champ-Elysee, hingga ke Arc de Triomphe, setelah sebelumnya mengagumi senyum Monalisa di Museum Louvre.ย  Dan petangnya memandangi Katedral Notre Dame yang bergaya Gothic dengan Si Bongkok nya yang melegenda. Rupanya, Eiffel, tempat terindah ini menjadi destinasi kami di malam terakhir di Paris.

“Baiklah,” sahutku berusaha menyembunyikan gairah yang meletup-letup. Eiffel, I’m coming!

Dan malamnya, tak mampu aku berkata-kata melihat keindahan Eiffel. Menara besi itu seperti berselubung cahaya. Sungguh, ini tempat kaum pencinta.

“Mira, tahukah kau, mengapa kau yang kuajak ke mari?” bisiknya. Dingin menggigit, namun tiba-tiba pipiku memanas. Aku menggeleng lalu menatap matanya.

“Karena aku cinta kamu.” Jantungku melompat sampai puncak Eiffel!

“Maukah kau menjadi istriku?”

Aku tertunduk lalu mengangguk. Biarlah, meski harus menjadi yang kedua.

******

Words: 250, ikut giveaway Pesta Flash Fiction @NBC_IPB & @novellinaapsari

Dongeng insomnia · Serial Yu Minah

Kartu Sakti

Mendung menggantung sejak siang tadi, tapi hujan gak turun juga. Wah, sumuk nian. Kalo cuaca begini memang paling seger menyantap rujak serut Yu Minah yang sudah didinginkanย ๐Ÿ˜‹ Maka aku membuka kulkas, tapi sayang ternyata persediaan rujakku sudah habisย ๐Ÿ˜ข Aku pun meluncur ke warung Yu Minah, semoga tidak sedang ramai.

Ah, untunglah tidak ramai. Tepat berpapasan dengan dua orang ibu yang berlalu membawa bungkusan rujak Yu Minah. Wajah mereka nampak keruh bahkan terlihat kesal. Mengapa, ya?

Setelah mengucapkan salam aku segera duduk di bangku favorit. Yu Minah yang sedang membereskan cobeknya membalas salamku dengan agak jutek juga. Ini kenapa, ya?

“Buatkan rujak serut, Yu, biasa pedes tapi gak banget.”

“Iya Jeng, jangan pesen yang pedes banget kayak ibu-ibu tadi. Wong cabe lagi mahal banget!” gerutu Yu Minah sembari menyiapkan bumbu sambal.

“Lho, memangnya kenapa, Yu?” tanyaku heran.

“Pelanggan itu kadang ndak mau ngerti, Jeng. Minta dibuatkan rujak yang pedes banget. Sudah tak kasih sak genggam cabenya eehh masih minta lagi. Kan saya jadi susah, memangnya ndak tahu apa, kalo cabe harganya lagi selangit?”

“Ooo, urusan cabe, to? Ya gimana lagi, Yu, kalau BBM naik ya pasti semua naik. Jangankan cuma cabe, kangkung aja pasti ikutan naik. Tapi kan, sudah ada kartu sakti, Yu, lumayan lah bisa memperingan hidup,” kataku sembari mengudap potongan bangkuang yang seger. Meski kali ini Yu Minah menggunakan jurus “Angin Topan Menggulung Gemunung”, aku masih bisa mencomot buahnya ๐Ÿ˜€

“Lhadallahh, kartu sakti yang mana, Jeng? Kartu Indonesia Pintar? Yo saya pasti ndak bakalan dapet, anak sudah kuliah, kok. Ndak tepat kartu yang itu buat saya! Kecuali kalo berlaku sampe anak kuliah juga digratisin. Untung saja Si Tole pinter cari duit tambahan, kalo ndak, bisa mumet saya.”

“Ya klo itu emang gak banyak membantu sih, Yu. Paling gak kan, ada kartu satu lagi, Kartu Indonesia Sehat. Lumayan Yu, bisa berobat gratis!”

“Gratis sih gratis, tapi antrinyaaaaa…ampuuunn… kalo cuma batuk pilek saya mending kerokan, Jeng,” gerutu Yu Minah sembari membungkus rujakku.

“Lha, masih ada satu kartu lagi, Yu. Kartu Keluarga Sejahtera, nah yang ini mungkin paling tepat buat masyarakat, ya?”

“Bisa jadi, tapi ada pakai SIM card segala, Jeng? Lha, kalo yang ndak punya HP, gimana? Mbok ya sekalian dikasih HP nya, ya, biar semakin meringankan. Lha, nanti uang bantuannya malah buat bayar utang beli HP? Hihihi…..”

“Sik..sik..sampeyan kok GR banget to, Yu? Kartu sakti tadi itu cuma buat golongan masyarakat miskin! Sampeyan kan, gak miskin! Masih bisa hidup enak, nguliahin anak!” ๐Ÿ™ˆ

“Hah? Oh iya yaa…hehehe…tapi saya mangkel, Jeng, harga-harga sudah pada naik, padahal BBM aja belum jelas kapan naiknya! Saya jadi susah matok harga!” Yu Minah masih menggerutu sembari mengangsurkan bungkus rujak padaku. Aku segera memberinya uang pas.

“Eh, maaf Jeng, harganya sudah naik,” ujarnya malu-malu.

“Lho? Masa tiap tahun naik, Yu? Mau naik jadi berapa ini?” omelku kaget.

“Cuma nambah dua ribu saja, Jeng.”

“Wah Yu, tahu gak, rujak sampeyan ini rujak paling mahal sak Bogor! Malah mungkin sak Indonesia Raya!” gerutuku kesal sambil mencari-cari uang di dompet.

“Lha, gimana lagi? Kalo harga ndak naik tapi porsi dikurangi, pelanggan ngomel. Kalo harga ndak naik, saya yang rugi, Jeng!” Aku diam saja dan menyerahkan selembar uang dua ribu. Lain kali pikir-pikir deh, mahal banget!

“Jangan cemberut, Jeng. Wis, nanti tak kasih KSYM!”

“Apa itu?” tanyaku masih kesal.

“Kartu Sejahtera Yu Minah, ada banyak diskon di situ. Khusus pelanggan setia kayak sampeyan saya kasih gratis kartunya! Nah, jangan marah lagi yaaa….”

Dih! ๐Ÿ˜ค

kartu diskon YM2

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Bisul

sumber

“Pokoknya akhir bulan ini bantaran sungai itu harus sudah bersih! Jangan jadi bisul di tengah kota!” Pak Kada berteriak-teriak di ruang kerjanya. Seluruh staf ketakutan.

“Tapi, Pak…rusun tak bisa menampung mereka lagi,” kata seorang di antaranya.

“Kasih duit aja buat pulang kampung! Atur, dong!”

***************

Akhirnya, cita-cita Pak Kada menjadikan bantaran sungai menjadi seindah San Antonio River Walk terwujud. Para investor pendukung memujinya. Pembangunan apartemen mewah di sekitar sungailah tujuan utama. Apapun, Pak Kada sukses. Seluruh media cetak dan elektronik memujanya.

Dan pagi ini, Bu Kada berteriak histeris melihat suaminya terbaring penuh bisul di sekujur tubuhnya. Merah, besar dan bernanah!

****************

Words: 100

Yuuk, ikutan MFF Prompt #67: On the Riverside ๐Ÿ˜‰

Dongeng insomnia · Serial Yu Minah

Ksatria Kuda Putih

Jika kau berkantor di Jakarta, Kawan, maka sebaiknya hari ini gak usah ngantor dulu. Karena hari ini adalah hari besar bangsa Indonesia. Kau tahu, kan? Wong aku saja yang berkantor di Jababeka ikutan gak masuk hahahaha… ๐Ÿ˜›

Daripada bengong di rumah, dan kebetulan sehubungan dengan acara dietku yang gak makan nasi, maka aku ngabur ke warung Yu Minah. Panas-panas gini enaknya nyruput rujak serut ๐Ÿ˜€

Setelah meneriakkan salam, aku langsung memilih bangku favorit dekat cobek Yu Minah yang segede Gaban itu.

“Lho, tumben ndak ngantor, Jeng?” tanya Yu Minah setelah membalas salamku.

“Mau ikut pesta rakyat, Yu. Biasa ya, buatkan rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Lanjutkan membaca “Ksatria Kuda Putih”

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Rinai telah berganti gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung, khas iklim tropis. Namun lelaki renta itu tak peduli, meski basah bajunya karena hujan dan keringat, ia kembali menuntun sepedanya yang sarat dengan rumput. Senyum terukir di wajahnya, semakin mempertegas keriput yang merata di seluruh wajah, seperti ombak yang menjilat bibir pantai. Teringat celoteh cucunya yang selalu menerbitkan bahagia.

โ€œAku pasti cantik pakai baju itu, Mbah Kung*),โ€ cerianya ketika melewati toko baju di pasar. Tangan mungilnya menunjuk baju pink dari bahan kaus, bergambar lima orang putri terkenal dari negeri dongeng.

โ€œPasti, Nduk,โ€ jawab lelaki renta itu tersenyum.

โ€œMbah Kung, belikan baju itu buatku, ya.โ€

โ€œIya, nanti kalau Mbah Kung dah punya uang, ya.โ€

โ€œYa, Mbah.โ€ Percakapan itu seperti kaset rusak yang berhenti pada satu lirik saja, setiap ada pinta selalu ada janji yang tak pernah bisa ditepati. Namun sang cucu tak pernah menuntut kembali. Entah lupa entah mengerti.

Tapi kali ini lelaki renta itu telah menyisihkan pendapatan untuk mewujudkan keinginan cucu semata wayangnya. Hari ini, ia membawa sebanyak mungkin rumput untuk sapi-sapi sang juragan. Setidaknya uang yang didapatnya akan lebih dari biasa. Sedih bila mengingat nasib cucu cantiknya. Ibunya mati ketika melahirkannya. Bapaknya sudah pergi sejak ia masih bayi merah. Hanya lelaki itu dan istrinya yang ada. Tapi setahun lalu istrinya pun telah pergi untuk selamanya.

โ€œMalang nasibmu, Nduk. Mbah Kung akan menjagamu sampai habis umur Mbah mu ini.โ€ Sering ia ucapkan kata itu ketika mengusap dahi cucunya yang lelap di malam hari. Terkadang lelaki itu menangis tanpa air mata.

Semakin berat terasa sepedanya, namun entah mengapa semakin ringan hati membayangkan cucunya bahagia.

โ€œAku pusing, Mbah Kung,โ€ keluh gadis kecil yang selalu ceria itu seminggu lalu. Lelaki renta itu memegang dahi cucunya.

โ€œAgak panas, Nduk. Kamu ndak usah ikut Mbah Kung, ya. Istirahat saja di rumah.โ€ Cucu penurut itu hanya mengangguk lalu berbaring di atas dipan tanpa kasur. Esoknya gadis kecil itu telah sembuh dari demam, meski dua hari kemudian demam lagi, lalu sembuh lagi.

Mungkin karena ia mendamba baju itu, demikian pemikiran sederhana sang kakek. Baju itu berharga empat puluh lima ribu. Hampir cukup uang ia kumpulkan, esok ia akan mengajak cucunya ke pasar.

โ€œKamu ingin sekali baju yang di pasar itu, Nduk?โ€ tanyanya tadi pagi sebelum pergi. Demamnya sudah turun tapi masih lemas untuk ikut berkelana mencari rumput.

โ€œIya, Mbah, tapi udah ndak terlalu, kok. Aku ingin Mbah Kung di rumah saja hari ini, aku bosan sendirian,โ€ keluh sang cucu.

โ€œMbah Kung harus kerja, Nduk Cah Ayu,โ€ senyum lelaki renta itu penuh rahasia, โ€œbesok, kamu ikut Mbah Kung, ya. Nah, nanti makanlah bubur dan kecap di meja.โ€

Gubuk reyot dekat kandang sapi itu sudah di depan mata. Senyum semakin sumringah, menambah kerut-kerut indah di seluruh wajah. Ia menurunkan rumput di kandang lalu segera menemui juragan. Uang dua puluh ribu ia terima dengan kebahagiaan sepenuh hati.

โ€œNduk Cah Ayu, Mbah Kung pulang!โ€ Dengan tertatih ia menghambur ke satu-satunya dipan di gubuk itu. Ah, cucunya tentu tertidur, lelah menunggunya.

โ€œNduk,โ€ panggilnya lembut. Tangan keriputnya meraba pipi halus sang cucu. Dingin.

**********

Words: 499

Catatan:

*) Mbah Kung = Mbah Kakung = Kakek (bahasa Jawa)

Tulisan ini untuk Manday FlashFiction Prompt #65 Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Purnama

sumber

Senja semakin larut, penuh rasa bersalah aku mengikuti Gilang yang berjalan tergesa melewati jalan setapak.

Sorry, Lang, gara-gara aku kita tertinggal rombongan,” ujarku di antara napas memburu.

“Tenang saja,” sahutnya kalem.

Yeah, kami berdelapan bermaksud mendaki Merapi. Seharusnya sesore ini sudah tiba di pos pendakian dan mulai mendaki agar tepat terbit mentari kami sudah tiba di puncak. Tapi gara-gara perutku sakit, terpaksa aku ditinggal ditemani Gilang, kekasihku yang pendiam, ganteng, tapi baik hati. Heii, ini bukan modus! Memang perutku sakit sekali, mana sangka tiba-tiba aku mengalami dysmenorrhea?

Kini, malam benar-benar sempurna. Gilang menyalakan senternya, berusaha menembus malam.

“Untunglah malam ini purnama,” gumamku. Tiba-tiba Gilang menghentikan langkah sehingga aku menabraknya.

“Kita kembali saja, Liz, sudah jauh pula tertinggal,” katanya mengejutkan. Tentu saja aku protes.

“Heii, sudah sepertiga jalan begini. Ayo, ah!” Tanpa mengindahkan Gilang aku memimpin jalan di depan.

“Liz, berbahaya!”

“Apanya yang berbahaya?”

“Purnama!”

“Memangnya kenapa? Kau takut werewolf?” candaku. Dari kejauhan aku melihat tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Nah, rupanya teman-teman meninggalkan tanda supaya kami tidak tersesat. Belum sempat melompati tumpukan kayu itu, aku terpana memandang cahaya yang menyerbu melewati pepohonan di atas kami.

Tiba-tiba tubuhku terasa aneh. Mataku tak lagi fokus, jalanku sempoyongan. Tumpukan kayu di depanku seperti berjalan-jalan. Samar, kulihat Gilang menyambar kayu paling besar dalam tumpukan itu.

“Jangan bergerak, Liz!” desisnya. Aku ketakutan. Aku merasa air liurku menetes-netes dan tubuhku panas. Demamkah? Belum sempat berpikir, kulihat Gilang mengayunkan kayu itu ke kepalaku.

“Maafkan aku, Liz.” Sempat kudengar Gilang berbisik sebelum aku jatuh berdebam. Aku merasa tubuhku begitu berat dan berbulu.

*********

Words: 260

Fiuuhh, wajar bila akan menuai kritik :mrgreen:

Yuukk, mareeee Prompt #64 Pile of Wood Stick di Monday FlashFiction ๐Ÿ˜‰

 

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Risalah Cinta

Namanya Nurlela, pindahan dari Batavia. Cantiknya, amboi… tak tahan setiap pemuda dibuatnya. Ke mana-mana selalu membawa kucing lucu bernama Mia. Mengapa tak Si Manis atau Si Belang? Entahlah, coba saja kau tanya padanya. Layaknya pejantan, aku pun terpesona akan moleknya. Tapi seperti pungguk merindukan bulan tentu saja. Coba kau bayangkan, Nurlela begitu cantik, suaranya mendayu bila berkata-kata. Sementara aku bujang lapuk, tak pula bisa bicara. Seringkali aku iri hati pada Mia. Andai saja aku yang dipeluknya, dielusnya, dikecupnya.

Sore ini, seperti biasa kulihat Nurlela dan Mia duduk di beranda. Ragu kudekati pagar rumahnya. Lihat, Nurlela tengah berdendang dengan Mia pada pangkuannya. Iri, sungguh iri hati aku jadinya. Kucoba curi perhatian dengan berdiri pada tengah pagar. Ahai, tak sia-sia! Nurlela mendongak dan berseri wajahnya.

“Rahul, mari singgah,” serunya melagu. Berdebar dadaku namun segera kuhampiri pujaan hatiku. Nurlela menepuk-nepuk sebelahnya, tanda aku boleh duduk di sisinya. Ini yang kutunggu-tunggu, maka tanpa ragu segera aku menerima tawarannya.

“Ahai, Rahul…Rahul, mengapa engkau bernama demikian? Lucu nian terdengar di telinga, seperti orang India,” kikiknya geli. Biar saja, aku tak tersinggung justru senang membuatnya gembira. Andai aku bisa bicara. Melihatnya begitu riang, aku dekatkan tubuhku padanya sehingga sedikit menyentuh lengannya yang halus laksana sutera. Terdengar Mia menggerung marah. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Sedikit kugeser tubuhku dengan kesal. Mengapa Mia marah sementara Nurlela tak keberatan?

“Mengapa engkau menggeram, Mia? Dia Rahul, kita sering jumpa dengannya, kan?” rayu Nurlela pada Mia. Kesal sekali aku dibuatnya. Mia memejam-mejamkan matanya nikmat karena elusan tangan Nurlela. Baiklah, aku harus bergerak cepat. Malam nanti, aku akan melagukan risalah cinta untuk Nurlela, tentu saja di bawah jendela kamar tidurnya, seperti kulihat Bang Zulham merayu Soraya. Dan kau, Mia, bersiaplah untuk menjadi yang kedua!

**********

Maka Kawan, seperti janjiku, malam ini aku mendatangi rumah Nurlela. Biar aku tak pandai bicara, tapi aku masih bisa bersuara. Setelah berdehem, aku mulai melagukan risalah cinta untuk Nurlela.

Aduhai, Nurlela kekasihku
Elok parasmu, elok budi bahasamu
Membuatku mabuk kepayang, jatuh hati tiada kepalang
Sudikah engkau menerima cintaku
Yang setinggi gunung dan seluas angkasa?
Aduhai…

ย Belum selesai aku melagu, sepasang sandal jepit melayang, diiringi sumpah serapah.

“Husy! Pergi kau, Kucing Garong! Suaramu buruk tak terkira!” Ayah Nurlela berteriak dari jendela.

*****

Words: 370

Tulisan ini untuk Monday FlashFiction Prompt #63 Si Mata Hijau

๐Ÿ˜‰

Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

The Wedding

Prompt 62“Segera ganti gaunmu, Nat,” ujar Carol, pengiring pengantin yang paling muda.

“Biarkan sebentar, dia kan baru saja menikah,” gumam Jane, pengiring pengantin yang paling tua dari ketiganya. Natasha -sang pengantin- mendesah lirih.

“Mereka curiga tidak?” bisiknya.

“Gak akan! Usianya sudah delapan puluh tahun lebih, wajar kena serangan jantung!” gusar Carol, “segeralah ganti gaunmu dengan yang hitam!”

“Besok, setelah pemakaman, akan ada pembacaan wasiat. Kau yakin, aku ahli waris tunggal?” tanyanya.

“Seyakin jantung Paul sudah berhenti berdetak. Minggu lalu aku tidur dengan pengacaranya.” Jane mengikik geli.

“Baiklah, ayo kita ganti baju, Sisters!”

Setelah menarik napas panjang, Natasha membuang pot kecil yang tadinya berisi serbuk sianida ke sungai deras di bawah mereka.

 

********************

Words: 110

Edited (tanpa mengubah jumlah words) atas saran Vanda Kemala, thank youuu ^-^

Tulisan ini untuk Monday FlasFiction: Prompt #62: Hey Girls!

Sumber gambar: Monday FlashFiction