Perlukah Perempuan Bekerja?

Hohohoho….. tentu saja pertanyaanku ini tidak berlaku bagi para pria. Terutama pria ejaan lama yang tidak setuju istrinya bekerja. Pertanyaan ini kutujukan untuk perempuan ato setidaknya diriku sendirilah. Mengapa perempuan mesti kerja? Banyak alasan bisa diajukan tapi hanya satu alasan bagiku.

Untuk membantu perekonomian keluarga? Ah, terlalu klise walopun ada benarnya. Sebetulnya kalo mau hidup apa adanya, gak banyak tuntutan, gak banyak keinginan ini itu gaji suami sudah lebih dari cukup kok. Lihat saja mereka yang bergaji UMR masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga kok, walopun pas-pasan.

Mmm, untuk menambah wawasan? Halah, gak usah kerja juga bisa kok. Rajin nonton berita, jangan sinetron mulu! Baca koran (bukan tabloid gosip, lhoo), buka internet (ngeblog juga gak papa kok :D ) Bukankah sekarang dunia bisa dilihat dan dikunjungi tanpa meninggalkan rumah?

Trus apa, dong? Oh, mengamalkan ilmu yang didapat di sekolah? Waah, yang ini bo’ong banget! Aku ini Kawan, seorang lulusan pertanian. Tapi apa kerjaku sekarang? Hehehehe, gak ada hubungannya babar blaz sama tumbuh-tumbuhan! Tapi benar sih, ortu sudah mencurahkan segala daya upayanya untuk menyekolahkan kita, kalo gak diamalkan ya sia-sia dong. Walopun sebetulnya gak usah dengan bekerja secara formil juga bisa sih.

Masih banyak alasan lain. Dan itu hanya sedikit alasan dari yang banyak. Alasan aku kerja hanya untuk “berjaga-jaga“. What??? Berjaga-jaga dari apa? Dari banyak hal, Kawan. Perempuan itu pada dasarnya makhluk lemah (eh, aku doang kali yang begini?) tapi sekaligus makhluk terkuat (bukan fisiknya lhooo). Ada contoh kasus. Temanku, seorang dokter cantik, pandai dan terampil. Hidupnya berkecukupan dan enak. Namun tiba-tiba langit runtuh menimpanya. Suaminya tanpa kabar berita meninggalkannya bahkan meninggalkan setumpuk hutang yang harus dilunasinya. Oh, God. Tragis bukan? Pada awalnya temanku cukup down, namun segera bangkit kembali untuk menata hidupnya dan gadis kecilnya. Untunglah pekerjaannya cukup mapan dan dia pun semakin giat bekerja. Coba kalo dia gak kerja?

Lalu seorang temanku yang lain. Suaminya menderita sakit cukup lama dan akhirnya meninggal dunia. Temanku ini mempunyai dua anak gadis usia sekolah menengah yang tentu saja sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Coba kalo dia gak kerja?

Tapi aku gak punya teman yang ditinggal kawin lagi ma suaminya. Ini juga contoh bukan? Kalo dia gak mo dimadu berarti harus bercerai, berarti harus hidup sendiri, berarti harus mencukupi kebutuhannya sendiri. Coba kalo dia gak kerja?

Hiiiyyy, mudah-mudahan itu semua tidak menimpaku. Tapi bila SANG SUTRADARA berkehendak lain? Memang sih seolah-olah kok gak percaya akan pemeliharaanNya. Padahal burung pipit yang tak menanam pun bisa terus hidup  (eh, gimana tuh cuplikan Kitab Suci?). Tapi kita kan gak bisa meratapi nasib, harus bangkit kembali bukan? Kalo perempuan yang mewarisi kekayaan ampek tujuh turunan sih gak masalah. Seperti ku posting sebelumnya, keluargaku jugak kaya tujuh turunan. Sayangnya aku keturunan yang kedelapan. So, aku mesti kerja untuk berjaga-jaga bukan?

So, itulah alasanku (rada dibuat-buat sih :D ) untuk terus bekerja. Untuk berjaga-jaga. Di samping aku juga menyukai pekerjaanku :D

Lebih Baik Sakit Gigi daripada Sakit Hati…

Waaah, aku gak setuju ama lagunya Pak Megi Z ini (eh, beliau dah almarhum yak?).

daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa

Barangkali Pak Megi Z, bungsu dari 26 bersaudara ini belum pernah merasakan sakit gigi. Kalo aku Kawan, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Kalo sakit hati, lebih mudah untuk menghibur diri sendiri. Cukup dengan makan enak, jalan ke mall, ato ke salon, ato ke gramedia, ato sekedar menikmati segelas choco forest sambil mengusap cucuran air mata. Pokoke yang enak-enaklah. Ato klo lagi sakit hati banget trus males ke mana-mana, nikmati saja sebatang coklat lezat sambil nonton film yang menguras air mata (maksude biar tersamar air mata sakit hatinya).  Ato yang paling ekstrim ya telungkup di tempat tidur lalu menangis ato teriak sepuas-puasnya ampek lega. Banyak cara untuk melampiaskan sakit hati.

Tapi kalo sakit gigi??? Oooohhh, jangankan menangis, bernafas aja senut-senut. Apalagi buat makan, huwaaaa….. sakiiit!!! Mau coklat dari Swiss ato bakso Pak Kumis, tak bakal digubris! Mengatasi sakit gigi tak semudah mengatasi sakit hati. Dan inilah yang sekarang kuderita, Kawan. Gigiku sakit banget! Emang sih sedang perawatan syaraf, tapi sudah berapa kali hari Jumat aku gak kontrol. Dokter gigiku yang cantik itu hanya ada Jumat siang. Sementara sudah berapa kali hari Jumat aku disibukkan dengan dead line, meeting. Bahkan Jumat ini yang kujadualkan ketemu dokter gigi, eh ternyata The Owner and The Big Boss sidak. Huwaaaa, dokternya skarang dah pulang. Nasib…nasib…

Maka aku mo ubah lagu Pak Megi Z, ah….

daripada sakit gigi
lebih baik sakit hati ini
biar tak mengapa

rela rela relaa aku relaakan, rela rela rela aku relaaaaa….

Kok apal to? :D

Bunda, jangan lihat!!!

Sebetulnya sih tidak senonoh untuk diceritakan, tapi lucu siiih :D :D :D Kepolosan Guanteng yang membanggakan sekaligus membuat tertawa.

Semalam, menjelang tidur seperti biasa kekasihku berganti celana bobok. Aku sedang menonton TV dan Guanteng sedang iseng bermain dengan pistolnya. Tiba-tiba Guanteng berseru, “Bundaaa, jangan liat Ayah lagi ganti celana.” Aku tentu saja tertawa, yang tadinya gak liat malah jadi nengok. Guanteng menasehati Ayahnya, “Ayah, aurat laki-laki itu kan dari pinggang ke bawah sampai atas lutut. Kok Ayah gak ditutup, kan ada Bunda!”

Tentu saja aku dan kekasihku ketawa ngakak. “Oalah, Naaak, Nak, kalo Bunda gak liat ya kamu gak kan terbit!”  ujarku. “Hush! Ra nggenah!” Suamiku langsung menegurku. Guanteng tentu saja tak mengerti. “Bunda jangan liat ya, kalo Ayah lagi ganti celana,” katanya. Sambil masih mengikik geli aku iyakan.

Oh, polosnya cintaku ini. Tapi aku bangga karenanya. Dia sudah memahami mana yang boleh dipertontonkan dan mana yang tidak. Semoga hingga dewasa kelak dia akan mempertahankan keyakinannya itu. I love u, Naak…. :D

Cicak Vs Kecoak

Kok bukan cicak vs buaya? Hush, gak ikut-ikutan, ah! Gak mudeng hihihihi……

Tadinya kupikir ketakutan akan kecoax pada kedua malaikatku diturunkan secara genetik dariku. Halah! Lha iya, wong aku takut banget sama makhluk berwajah kayak penjahat itu. Pernah Cantik berteriak histeris gara-gara ada kecoax melintas di depannya. Bahkan Ganteng trauma makan di resto Amigos gara-gara ada kecoax jalan-jalan di halaman. Sementara Ibundaku juga takut ma kecoax, lalu kakakku dan adikku. So kupikir ini diturunkan.

Tapi setelah kupikir-pikir kembali, rasanya gak juga. Ketakutan pada kecoax ini lebih disebabkan ‘coz sejak kecil kita gak pernah dikenalkan pada makhluk mengerikan ini. Trus apa hubungannya dengan cicak? Oh, ada, Kawan! Aku juga takut cicak, tapi aku gak kan lari terbirit-birit liat cicak di dinding. Aku takut kalo cicak itu iseng colek-colek misalnya. Beda dengan kecoax, baru ngeliat antenenya aja dah kabur sejauh-jauhnya. Sekali lagi, why???

‘Coz sejak kecil kita sudah akrab dengan cicak. Coba kau ingat-ingat, Kawan. Bahkan sejak kau belum mengerti apa itu cicak sudah sering dinyanyikan lagu “Cicak” kan?

Cicak-cicak di dinding

Diam-diam merayap

Datang seekor nyamuk

Hap! Lalu ditangkap

Begitu sering bukan lagu itu dinyanyikan secara turun-temurun? Sehingga ketika kita liat cicak gak ada rasa takut berlebihan. Lalu ada lagu kunang-kunang, kupu-kupu, dll. Coba kalo hal itu diterapkan pada kecoax sejak dulu, aku yakin aku pun gak kan lari terbirit-birit tiap liat kecoax. Bukan begitu? Hmm, kira-kira gimana ya lagu yang cocok wat kecoax?

Kecoax kau sungguh lucu

Walaupun sedikit bau

Karna kau tak pernah disikat

Tapi sayapmu selalu berkilat

Lalala…. lilili… lalilalili….

Halah! Senengane ngeceh-ceh pikiran. Segala kecoak dinyanyiin, tetep aja takuuuuuttt…….. Gitu kok lucu??? Haah….

(Ngopo to ribut dewe? Hihihihi……)

Cita-citaku

Lho, masih punya cita-cita to? Lha iya, wong cita-citaku jadi dokter lom kesampaian. Hehehe… tentu saja bukan cita-cita seperti itu, Kawan. ‘Coz yang begitu dah gak mungkin deh! Apa sih tepatnya ya, impian mungkin ato keinginan ato obsesi? Ah, apa sajalah bagiku ini tetap cita-cita yang ingin kuwujudkan.

Sederhana saja cita-citaku ini. Mungkin bagi banyak orang bukan cita-cita tapi malah dah bagian hidup sehari-hari. Iya, iya, tapi apa cita-citanya? Mbulet aja dari tadi.  Sederhana saja…… Halah! Diulang lagi? Ya…ya… kali ini serius.

Aku ingin punya ruangan pribadi dalam rumahku. Ruang pribadi ini akan kujadikan perpustakaan dan ruang kerja. Perpustakaan? Apa saja koleksimu? Bukankah hanya fiksi dan fiksi? Hei, jangan kau rendahkan fiksi, Kawan! Hidup ini sudah sangat berat, kalo harus membaca yang berat-berat juga bukankah menambah stress? Kau mau tau koleksiku? Memang sebagian besar fiksi, namun ada juga yang setengah fiksi, ato fiksi berlatar belakang sejarah, ato fiksi berlatar belakang kisah nyata. Yaaa tetap aja fiksi! Dengan membaca kisah-kisah ini kau akan menjelajah dunia. Kau akan lihat Paris, New York, London, bahkan Banyumas ato Papua. Itu aku tau, lalu siapa aja pengarang yang kau sukai? Oo, banyak! Dari Enid Blyton sampai Sidney Sheldon, dari Ahmad Tohari sampai Eiji Yoshikawa, dari Mira W ampek Pramoedya Ananta Toer, Alfred Hitchcock ampek JK Rowling, S Mara GD ampek Agatha Christie, banyak lagi deh! Pokoke kalo kubaca ringkasannya bagus ya pasti kubaca. Sayangnya banyak buku yang kukoleksi sejak masih SD hilang. Dipinjam tak kembali ato tercecer sewaktu pindah :( Sedih bukan? Padahal sebagian besar dari buku itu tak lagi mudah dicari saat ini.

Trus, cuma itu cita-citamu? Oh, gak. Kan kubilang tadi perpustakaan sekaligus ruang kerja. Ah, mau kerja apa kau? Bukankah pekerjaanmu sekarang saja sudah merepotkan? Hohoho, bukan pekerjaan yang ini, Kawan! Kalau hidupku tlah mapan, kedua malaikatku dah besar, dan ruang perpustakaanku sudah tewujud, aku akan keluar dari pekerjaanku ini. Lho, jadi buat apa ruang kerja dan perpustakaan itu? Menulis, Kawan! Menulis! Itulah cita-citaku. Wuahahaha, menulis? Gak salah? Mau menulis apa? Kau bisa menulis? Hei, jangan dulu kau patahkan semangatku! Kau tau Kawan, dalam seumur hidupku sudah tiga kali naskahku dimuat di malajah. Pertama puisi di majalah anak, lalu cerpen di majalah remaja. Semua dapat honor, Kawan! Sekalipun semua itu kukerjakan ratusan tahun silam. Okay, lalu apa yang mau kau tulis? Laku di pasaran gak? Oh, aku akan menulis apa saja. Entah itu menghasilkan uang ato tidak. Karena cita-citaku ini lebih untuk kepuasan batinku. Tentu saja aku harus banyak belajar. Gak harus selalu dipublikasikan bukan?

Kau tau, Kawan, sering kubayangkan begini. Setelah kekasih dan kedua malaikatku memulai aktifitasnya, maka aku akan segera memasuki ruang pribadiku. Di situ aku akan membaca atau menulis. Hei, tentu saja aku gak mau direpotkan dengan urusan mengepel, jemur baju, ato menyetrika. Itu semua tetap dilakukan Mbak, so kukatakan tadi jika aku sudah mapan. Nah, setelah puas dan lelah, aku akan bersiap ke toko buku lalu menjemput malaikatku. Setelah seluruh belahan jiwaku pulang tentu aku takkan mengurung diri di perpustakaan. Aku akan kembali menemani dan mengurus mereka. Lalu setiap Sabtu dan Minggu aku juga libur, tak perlu menulis ato membaca. Demikian berulang. Enak to?

Tapiii, membosankan tidak ya? Entahlah. Jawaban itu akan kudapat setelah kugapai cita-citaku. Kalo bosan ya cari cita-cita yang lain. Belajar mbangun jembatan ato bikin kue talam sajalah :D

Hidup untuk Bertahan Hidup?

Sebetulnya tujuan hidup itu apa ya? Untuk memperbanyak keturunan, untuk beramal bakti, untuk berbuat baik pada sesama, untuk bersyukur pada Yang Memberi hidup, atau…….? Tapi bukankah hidup itu juga perjuangan untuk bertahan hidup? So simple, but right or wrong?

Kemaren malam, di tengah hujan deras mengguyur, kulihat sesuatu yang menakjubkan. Sebuah speda motor bertuliskan “Tambal Ban Bergerak” dengan segala aksesoris tambal ban di boncengannya. Tentu saja dengan tabung besar kompresorkah namanya? untuk mengisi angin. Pengendaranya seorang laki-laki yang sudah agak berumur tanpa jas hujan terus melaju dengan beban beratnya itu. Dia hanya berhenti sebentar melihat jalanan yang banjir lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Betapa air hujan itu menetes-netes melalui kacamatanya, mengguyur kepalanya yang tanpa pelindung. Oh, semoga istrinya menyambutnya dengan hangat dan anaknya memberi penghiburan.

Di benakku saat itu Kawan, tentunya setelah seharian bekerja ia ingin segera pulang untuk menemui anak istrinya. Tentu saja dengan membawa hasil yang entah cukup ato tidak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tapi perjuangannya sungguh membuat aku merenung, betapa kurang bersyukurnya aku ini pada Yang Memberi Hidup. DIA telah memberi banyak kemudahan bagiku dibandingkan bapak itu, tapi begitu banyak keinginan dalam benakku yang merasa belum terpenuhi.

Maka hari ini, aku mensyukuri semua nikmat yang telah kuterima. Terimakasih Allah, atas rejeki dan keindahan yang telah kuterima.

Dan semoga semua orang pun dapat mensyukuri apa pun yang mereka terima hari ini dan seterusnya. Khususnya bagi para korban bencana alam, percayalah  Allah takkan pernah meninggalkan kita.

Mie Ramen Super Extra Hot

Sudah beberapa kali aku makan mie nya Naruto dan Nobita ini, tapi baru sempat ku foto sekarang :D Tepatnya mie ramen di Gokana Tepan. Mie ramen di sini sangat mengerti kesenanganku makan yang hot-hot alias pedas. Ada yang cuma hot, extra hot, dan super extra hot. Nah yang terakhir ini sudah aku coba dan ternyata cukup membuat bibir terbakar dan keringat mengucur deras alias gembrobyoz! Soale beberapa kali aku makan mi ramen gak da yang pedes gini.

Kalo kau masuk angin Kawan, datang dan makanlah mi ramen super extra hot ini, dijamin langsung sembuh! Dan tanpa efek samping alias gak pake diare. Swear, aku sudah membuktikannya. Tapi kalo gak tahan pedas ya cukup pilih yang hot sajalah. Gak jaman lagi kerokan ato minum obat, cukup dengan makan enak dan panaz, bablaz angine hehehe… Ups, ntar aku dimarahin nyang punya restoran nih, wong makanan enak-enak kok wat obat masuk angin :D Gak cuman ramennya yang enak, menu lain pun boleh dicoba enak-enak kok.

Ramen extra hot tempura

Tempuranya so crispy, mie nya so hotz!

gak hot

Tenaaang, ada jugak yang gak hot kok...

Jadi ingat waktu menjamu klien beberapa tahun lalu. Kami makan di restoran Jepang di sebuah kawasan industri di mana kebanyakan yang makan di situ ya wong asli Jepang. Cuma kami yang pribumi. Begitu membuka pintu maka para pramusaji akan berteriak “Mase…mase…!” Entah nulise gimana, pokoke di kupingku terdengarnya seperti itu. Kuamati setiap pintu membuka dan ada tamu masuk maka mereka akan berteriak “mase….mase…”. Rada berisik sih, tapi mang gak seheboh makan di soto gebrak.

Nah, setelah menikmati hidangan lezat, kulihat para pramusaji berdiri berjajar di garis belakang. Siap-siap melantunkan paduan suara mase mase itu. Ketika tamuku lengah, kulambaikan tangan dan kupanggil salah seorang pramusaji wanita. Dia menghampiriku lalu kubisikkan padanya, “Mbak, lain kali kalo aku ke sini lagi jangan teriak mase-mase yaa?” Sang pramusaji bingung, dia siap-siap membuka mulut menjawab, tapi segera kupotong, “Ssst, jangan teriak mase mase, tapi mbake mbake aja, aku kan perempuan??” Sobatku langsung berdiri menuju ke kasir pura-pura gak dengar. Si mbak pramusaji menahan tawanya, tamuku menunjukkan wajah bingung. Dan aku kembali menyantap makanan penutupku.

Maka ketika lain kali aku datang kembali, mereka akan berteriak “Mbake…..mbake…..!!!” Halah, lebaaayyy….. :D :D :D

Mbak….oh….mbak….

Apa yang aku kuatirkan terjadi
Si Mbak tak kunjung kembali
Sungguh remuk redam kalbu ini
Bak ditinggal kekasih hati

Segala tlah kuberikan
Subur ku pupuk harapan
Apa daya tinggal khayalan
Si Mbak mengecewakan

Tanya ku kirim lewat bayu
Jawaban pun tlah menunggu
Kubuka dengan ragu
Oh, Si Mbak pulang tak menentu

Jumat dia janjikan
Hari ini malaikat ku liburkan
Esok ada ulangan
Maka cuti kan kulanjutkan

Mbak oh mbak
Kau tlah kuanggap sanak
Janganlah kau berlagak
Lebih enak makan martabak (lhoooo??? susah nyari blakangnya “k”)

Jumat kau brangkat
Sabtu pagi tiba janganlah telat
Datanglah dengan selamat
Kuberi nanti sebatang coklat (lhoooo, lagiiiii???)

Cutiku sudah tiada
Ini pun libur memaksa
Malaikatku pun sungguh terpaksa
Tak bersekolah seperti biasa

Mbak oh mbak, segeralah kau datang
Kuteriakkan ini dengan lantang
Biar sampai subuh menjelang
Dan kalbuku melayang-layang

Halaaah, lebay banget ditinggal si mbak….
Lagian janji senin datang kok ya mulur ampe jumat itu jugak lom jelas
ya nasib… ya nasiiibb…

Huuuuhhh!!!

Kaos Kaki

Aku tentu sudah pernah cerita tentang Guantengku yang selalu memakai baju tentaranya. Ke manapun pergi bahkan kalo baju kebesarannya itu dicuci Guanteng enggan ikut bepergian. Sudah kubelikan jaket yang lain, bukannya untuk pengganti malah dirangkapnya pula. Duh, aku sering sumuk sendiri ngeliatnya. Calon Jendral yang sudah sangat terobsesi.

Kali ini kisahnya tentang kaos kaki. Setelah rapi memakai pakaian kebesarannya, segera aku pakaikan kaos kaki. Belang-belang putih abu-abu. Dengan tegas Guanteng menolaknya. Maunya pakai kaos kaki yang putih beralas hitam. Lho, ini kan sama aja, Kakak, gak kiatan juga kok, kataku. Tapi Guanteng tetap menolak, Gak mau, Bunda, itu kan kaos kaki anak-anak. Masa tentara pake kaos kaki anak-anak? Duh, sedangkan kami buru-buru untuk segera pergi. Maka segera kukatakan padanya, Enggak, ini kaos kaki tentara juga. Tuh, belang-belang, tentara waktu masih kecil kaos kakinya juga begini, macem-macem kok, malahan warna-warni. Dengan setengah memaksa kupakaikan juga kaos kaki itu. Guanteng pun setengah gak percaya menurut juga. Oh Kawan, segitu terobsesinya dia tuk menjadi tentara. Padahal sungguh aku takut kalo benar kelak Guanteng jadi tentara. Mbok ya jadi arsitek aja, ato dokter, ato pengusaha, ato insinyur. Tapi, terserahlah, jadi apapun semoga menjadi yang terbaik.

DSC02476

Kaos kaki belang-belang

DSC02479

Duh, gayanyaaa....

DSC02475

Menanti panggilan tugas

Es Brasil Mirama

Pada jaman dahulu kala, ketika aku masih kecil ada jajanan yang uenak, namanya Es Brasil. Bentuknya kotak seperti bantal, paling enak pada waktu itu rasa es dawet. Wuih, sueger banget! Nah Kawan, pada suatu hari aku menemukan kembali es yang segar itu! Dalam wujud yang berbeda siy, klo skarang bentuknya kayak es mambo biasa bulat panjang. Tapi variannya makin banyak, es ketan item ni paling enak, es kelapa, kopyor, nangka, strawberry, coklat, kopi, kacang ijo, wah banyak deh. Cuman mengkudu yang gak ada, halah lebay :D

es brasil

Hmmm, sueger tenaaan

Menariknya lagi Kawan, di toko ini benar-benar menjual jajanan masa lalu. Ada permen coklat yang bentuknya kayak rokok. Ingat semasa kecil dulu ikut-ikutan gaya orang dewasa merokok hehehe…. padahal ampek skarang benci banget ma rokok. Trus ada permen Davos. Kau tau permen itu, Kawan? Permen pedas yang bentuknya bulat putih. Dulu alm. Mbah Tie senang banget ma permen ini, padahal kalo makan permen ini pasti bersin-bersin. Pernah kutanyakan pada Mbah Tie ku itu. Mbah Tie, kok seneng ma permen davos sih? Padahal kan bersin-bersin? Lalu Mbah Tie menjawab sambil terus merenda, Iya buat rame-rame daripada sepi. Hehehe, dulu semasa kuliah mang hanya aku dan Mbah Kakung dan Mbah Tie yang tinggal, setelah kakakku lulus.

permen rokok

Merokok ini aja, lebih aman

davos

Hatsyiiii.....

Kalo kau merindukan jajanan masa lalu, Kawan datanglah ke toko ini. Toko Mirama di Bekasi Square, pokoknya kalo parkir di halaman pasti kliatan. Jangan lupa, beli es brasil yaaa…. Maniiiiis rasanya….

mirama

Masuk sini dipriksa dulu ma densus 88