Terjebak

Unras hari ini membuatku tak berdaya. Tadi di pintu tol Cibitung semua kendaraan dibuang keluar. Tol ditutup. Bodohnya aku selepas keluar kawasan MM2100 malah lewat kali malang, coz gak tau jalan. Dan inilah aku, terjebak gak isa maju gak isa mundur apalagi muter :cry:

Belum cukup deritaku sekarang kebelet pipis huwaaaa… Ini memang jam biologisku :(

Semoga unras ini segera berlalu dengan win-win solution. Meski info dari teman unras akan berlangsung sampai sore jika APINDO tak juga mau penuhi tuntutan.

Trus sampai kapan aku harus bertahan? Huwaaaaaaaaa

Cinta Rasa Rendang

Cintaku Padamu Seperti Rendang

tahukah kau, bahwa cinta itu seperti rendang
pertama melihat mungkin tak begitu terasa
karena bentuk dan rupa yang mbleketek
namun sekali kau merasakan, kau akan ketagihan
dan kau ingin menikmatinya lagi dan lagi

mengapa seperti rendang?
karena cinta tidak datang tiba-tiba dan begitu saja
cinta harus diolah dengan bumbu yang rumit
diaduk berulang kali dengan penuh perasaan
sesekali dengan api besar namun sesekali dengan api kecil
kadang kau lelah dan ingin menyerah
namun bila terbayang kenikmatannya kau takkan berhenti
semakin lama kau masak akan semakin nikmat

mengapa seperti rendang?
karena cinta itu sedap dan lezat
ada pedas, gurih, sesekali bersemu pahit, sesekali liat dan menantang
namun terasa memikat bila kau sesap dengan memejamkan mata

tapi, mengapa rendang?
karena kekasihku urang Minang :oops:
dan semakin aku mengolah dan memasaknya
semakin aku menikmatinya
dan semakin aku cinta padanya :oops:
karena dia lezat seperti rendang :P

“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“.

Fitting Room

Bagus ya? Foto minjem dari Google.

Akhir tahun adalah masa-masa yang penuh godaan buat para wanita. Mengapa? Karena eh karena sale in everywhere! Yups, dan seperti kebanyakan wanita ato wanita kebanyakan akupun ikutan mericuhkan suasana :D Bersama Cantik mencari-cari sesuatu yang menarik. Dan kau tentu tahu, Kawan, dalam suasana seperti ini pasti kamar pas ngantre luar biasa. Demikian juga ketika aku dan Cantik hendak mencoba blouse. Fitting room segitu banyak tak ada yang terbuka satupun! Bahkan satu pintu bisa diantri oleh beberapa orang. Sungguh berat perjuangan seorang wanita dalam membeli baju!

Tapi aku punya siasat, Kawan. Aku antri di satu pintu dan Cantik kusuruh antri di pintu lain. Nanti siapa yang terbuka duluan kami masuk bareng :D Demikianlah pada suatu hari aku ngantri di ujung gang dan Cantik di ujung lainnya. Suasana tentu mencekam. Jika kau lihat wajah para wanita yang sudah kebelet mencoba baju, jangan sekali-sekali kau rebut antriannya. Bakal terjadi cakar-cakaran dan jambak-jambakan! Serius!

Karena suasana sepi dan mencekam itu aku berusaha mencairkan suasana dengan menggoda Cantik. Kulihat dia sudah mulai bosan tapi tentu saja aku harus mencoba 2 helai blouse ini! Discount 30% boo! Tanpa memedulikan wanita lain yang sedang mengantri dengan tegang aku mulai melancarkan serangan menggoda Cantik.

“Eeh, sendirian ya, Dek? Mamanya mana?” godaku. Cantik menjulurkan lidahnya menanggapi godaanku.

“Iih, hebat yaa, berani nyoba baju sendiri. Sudah kelas berapa sih?”

Cantik mulai malu dengan godaanku, mengingat para wanita nan garang tadi mulai memerhatikan kami dengan senyum geli.

“Bundaaaaa!” tegur Cantik.

“Oh, mana Bundanya, Dek?” godaku semakin menjadi sambil pura-pura menengok. Para wanita tadi sudah mulai tertawa kecil. Dan Cantik yang malu pun meninggalkan antriannya dan mendekatiku.

Tepat pada saat Cantik mendekatiku pintu terbuka. Aaarrrgghhhhh, wanita tak tahu malu yang di sebelah Cantik ngantri tadi langsung menyerobot masuk.

“Yaaaah, Adek siy pake pindah dekat Bundaaaa,” desahku tak berdaya.

“Salah Bunda sendiri godain Adek, kan malu?”

Gara-gara godain Cantik ngantrinya gak jadi cepet deh :( Dan sejak saat itu akupun akan berwajah garang di depan fitting room :mad:

Jangan Panggil Dia Mama!

Sesungguhnya aku tak ingin menuliskan kisah sedih ini. Karena sungguh membuatku hancur, hiks… Bahkan baru nulis judulnya saja hatiku sudah teriris-iris. Andai kau bisa melihatku sekarang Kawan, maka kau akan melihat air mataku menetes-netes, lalu berderai-derai, lalu bocor hingga kemana-mana, pedih, perih, hancur…. (maaf Kawan, kalo lagi sedih, bahagia, marah, bahkan lagi gak ngapa-ngapain aku emang suka lebay).

Kisah ini bermula ketika Jendral G masih bayi dan aku kembali bekerja. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang trampil, meski bukan baby sitter tapi dia punya pengalaman melebihi seorang nanny :) Namanya Karti. Pokoknya sama dia aku percaya 100%. Hingga Jendral G berumur 7 bulan ternyata aku kembali hamil. Bahagia sekaligus bingung tentunya. Menyesal? Ouh, tentu tidak. Aku justru bersyukur diberi anugerah kesuburan olehNya yang saking suburnya cuma dilempar handuk suami aja bisa hamil (lebay lageeeeee).

Seperti umumnya wanita hamil tentu mengalami morning sickness, afternoon sickness hingga night sickness. Alias mabuk terus :( Nah, karenanya ketika pulang kerja, dimana baby Jendral G selalu mengulurkan tangan padaku karena rindu, kadang hanya aku ajak canda sebentar lalu aku terkulai lemas. Setelah aku  mandi baru aku susui dan mengajaknya kembali. Kadang aku melupakan ajaran Ibundaku yang berbunyi seperti ini:

Selelah apapun kau bekerja, sesumpek apapun pikiranmu, seberat apapun beban kerjamu, kalau sudah sampai rumah anak adalah prioritas! Biarkan pembantu istirahat setelah seharian mengurus anakmu, maka anakmu akan selalu dekat padamu.

Apalagi ketika kehamilanku semakin membesar, aku tak sepenuhnya menjalankan nasehat Ibunda. Bahkan atas kemauan Karti sendiri dia selalu memegang Jendral G.

“Biar sama Karti aja, Bu. Ibu istirahat saja.” Demikian kata Karti setiap kali aku hendak menimang Jendral G. Dan entah pake hipnotis ala Uya Kuya atau Romi Rafael, aku menurut saja. Setelah Jendral G bobok baru diberikan padaku. Sering aku memintanya sebelum bobok, tapi dengan banyak alasan Karti tak memberikan.

Hingga pada suatu hari, ketika Baby G sudah mulai berkata-kata dan memanggilku “nDa”, aku dibuat terkejut setengah mati. Karena selain memanggilku “nDa” dia memanggil Karti…oh, tak sanggup ku mengatakannya, tak sampai hati. Menangis aku, remuk jantungku, hancur hatiku, sesak napasku, bengkak tubuhku, tipis dompetku :cry: (yaa terus manggilnya apaaa???). Simaklah percakapan di bawah ini, Kawan.

“Eeeh, Kakak Guanteng, sini Nak, Bunda punya mainan lucu,” rayuku agar Jendral G mau bersamaku. Maka tertatih-tatih bayiku mendekatiku. Diambilnya mainan dari tanganku lalu segera kembali lagi ke pelukan Karti (sedih gak sih?).

“Bagus ya mainan, Kakak. Coba kasih Bunda lagi, Nak,” kata Karti menyuruh Jendral G kembali padaku. Tapi Jendral G tetap duduk di lantai di pangkuan Karti sambil bermain-main. Aku pun merayu-rayu tapi rupanya Jendral G sudah begitu lengketnya dengan Karti. Sampai terpaksa kuhampiri dan akan kugendong dia. Namun apa yang terjadi?

Baby G menangis dan mengulurkan tangannya pada Karti sambil berkata, “Mamaa.”

Ooohhhh, remuk gak sih? Hancur gak sih? Aku begitu shock nya hingga ingin rasanya membeli Ferrari saat itu juga (sayangnya gak punya uang). Ingin ku teriak AAAAAAAAAAAAArrrrrrggggghhhhhh….. Coba kau dihadapkan pada situasi seperti itu. Apa yang akan kau lakukan, Kawan? Karti nampaknya gak enak juga dan langsung menggendong Jendral G dan membawanya ke teras. Aku terduduk lemas di kursi. Ingin marah tapi marah sama siapa? Aku yakin itu pasti ajaran Karti. Tak mungkin Jendral G yang baru bisa ngomong kok memanggilnya Mama. Pasti Karti yang ajarin kan?

Aku segera tersadar. Langsung kuambil Jendral G dari pelukan Karti. Nangis biarin. Ini anakku, cintaku, bayiku. Kubawa masuk kamar dan kami berdua menangis bersama. Aku berkata-kata pada bayiku entah mengerti atau tidak, bahwa akulah ibunya, mamanya. Tak ada orang lain yang boleh dipanggil dengan sebutan itu. Aku merasa bersalah tak menuruti nasehat Ibundaku. Aku merasa bersalah karena tak menghabiskan banyak waktu untuk bayiku. Hiks… hiks… :cry:

Sejak saat itu, Kawan, sesampai di rumah pulang kerja aku langsung mandi dan ku minta Jendral G dari gendongan Karti. Mau capek kek, ngelih kek, lemes kek, aku harus bersama anakku! Tak kuberi kesempatan Karti menguasai cintaku lagi. Meski kerjanya sempurna, anakku sehat dan montok serta wangi, dia hanyalah pengasuh. Akulah Ibunya!

Dan ketika Cantik lahir, aku tak mengulangi kesalahan yang sama. Hingga kini Kawan, kedua belahan jiwaku dekat sekali denganku. Tentunya aku juga berterimakasih pada Karti tidak saja atas pengabdiannya namun juga karena memberi pelajaran yang sangat berharga untukku. Hingga akhirnya Karti pun mengundurkan diri karena menikah.

Semoga para ibu muda kini tak mengalami apa yang kualami. Pengasuh biarlah menjalankan perannya sebagai pengasuh, ketika kita sudah di rumah, ambil alih, karena kitalah Ibunya.

Baiklah, akan kuteruskan dulu tangisanku karena membuka luka lama ini. Hiks…hiks… :cry:

*********************************

Setelah menghabiskan 1 kotak tissue, 2 helai handuk dan 1 lembar serbet, maka aku putuskan untuk mengikutkan tulisan ini pada kontes Emak Kecebong 3 Warna :D

chocoVanilla berpartisipasi dalamSaweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck, again ;)

Mama Vira

Sesungguhnya aku ini termasuk dalam golongan emak-emak kurang pergawulan :(   Namun saking takutnya aku dibilang gak gaul, tiap keluar rumah ada ibu-ibu lewat pasti aku senyumin. Padahal mbuh ini ibu dari blok mana rumahnya mana. Kadang si ibu membalas senyumku, ada juga yang membalas dengan ragu ‘coz merasa gak kenal, bahkan ada yang lari ketakutan ketika kuajak senyum. Kemaren malam malah ada ibu-ibu berteriak histeris ketika kuberi senyum manis. Lah aku tersinggung to?Aku langsung masuk kamar dan bercermin, segitu menyeramkankah wajahku? Ouh, ternyata masih maskeran :mrgreen:

Meski demikian aku wajib rajin ikut arisan RT lho. Nah, kendalanya adalah aku tak hafal nama ibu-ibu tetangga itu hiks… Untunglah kebiasaan di kompleks kalo saling memanggil memakai nama anaknya. Mama Hani, Ibu Guruh, Bunda Kesia, dll. Kadang malah hanya menyebut nama anaknya saja tanpa embel-embel “Mama”. Itu yang sebaya. Kalo yang udah berumur biasa dipanggil dengan nama suami. Bu Agus, Bu Dani, Bu Haji. Nah, parahnya aku bahkan tak tau nama anak atau suaminya hiks…hiks… keterlaluan banget! Tau sih, paling yang sekitar rumah :(

Di situlah awal kisah ini. Pada suatu hari aku datang arisan ke salah satu ibu. Tentu saja aku berangkat bareng tetangga sebelah rumah, maklum takut salah rumah. Pernah aku berfikir pokoknya cari rumah yang banyak sandalnya, itu pasti arisan. Eh, bener itu emang arisan tapi ternyata arisan RW! Untung baru assalamualaikum langsung sadar :D Kembali ke kisahku. Biasalah saat arisan pasti banyak rumpi dan obrolan bahkan ada yang juwalan. Dan seperti biasa aku sok akrab ngajak ngobrol meski hanya teman sebelah menyebelah.

Kebetulan di sebelahku ibu yang wajahnya sangat familiar, karena sering lewat depan rumahku kalau mengantar anaknya. Dia ramah dan tidak sombong. Hanya saja aku gak tau namanya! Busyet deh! Tapi sekilas tadi aku dengar seseorang memanggilnya “Vira”. Ah, ini pasti Mamanya Vira. Maka aku ngobrol tanpa kuatir menyebut namanya.

“Mama Jendral, mau gak tuh ambil bajunya? Tiga kali bayar lho,” ujar Mama Vira ini sembari memberiku beberapa potong pakaian.

“Bagus sih, tapi kayaknya gak muat deh,” sahutku halus. Padahal aku emang gak tertarik, lha wong bajunya loreng-loreng.

“Eh, ini melar lho. Dicoba dulu aja,” desaknya. Padahal bukan dagangan dia juga sih. Maka aku pura-pura mematut-matut di badan.

“Ngomong-ngomong, Jendral sekarang ikut jemputan sekolah ya, Ma? Masih di *sensor* kan sekolahnya?” tanya Mama Vira padaku.

“Masih, iya aku ikutkan jemputan. Udah lama sih, sejak mbaknya yang momong dari kecil keluar,” sahutku.

“Ooh, gak papa, biar mandiri juga,” imbuhnya. Saat itu Ibu RT sudah mulai mengumumkan pengocokan arisan.

“Kalo Vira udah kelas berapa sekarang?” tanyaku berbasa-basi. Mama Vira menatapku heran. Maka aku ulangi pertanyaanku.

“Kalo gak salah udah SMP ya? Saya sering ngeliat kalo Vira berangkat pagi-pagi. Rajin banget ya, seneng juga kalo anak udah besar. Cantik lagi Si Vira itu, pasti banyak yang naksir ya hihihihihi…..,” ocehku. Mama Vira makin melongo menatapku. Sementara Ibu RT sudah mengumumkan nama yang keluar arisan.

“Waah, Bu Vira nih yang dapat,” seru Bu RT. Semua bertepuk untuk….untuk…Ibu yang selama ini ngobrol denganku!!! Wajahku pucat, merah, pucat lagi, biru, pink dan terakhir ungu!!

“Vira itu nama saya, anak saya namanya Putri,” bisiknya padaku. Aaaahhhhh, andai aku bisa nyungsep mblesek ambles ke dalam tanah. Maluuuuu….. :cry: :( Bisikannya lirih, tapi dalem banget! Hiks….

*******************************************

Horeeee…. kisah memalukan ini aku ikutkan kontes Diajeng Kecebong 3 Warna nan cantek-cantek dan menik-menik :D Sebenar-benarnya aku bingung mau dimasukkan di katagori cerita lucu atau cerita sedih ya. Tapi berhubung hanya air mataku yang keluar maka aku ikutkan CL aja deh :D

chocoVanilla berpartisipasi dalamSaweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck ;)

Grasshopper and Butterfly

Aku sedang menggoreng tahu pletok oleh-oleh dari mbakayune ketika Cantik berlari-lari menyusulku ke dapur.

Cantik : Buuundaaaa….. (dengan nada dasar A minor, birama 7/8)

Aku      : Apaaaa….. (nada dasar C)

Cantik : Bahasa Inggrisnya belalang apa sih?”

Aku      : Mmm, grasshopper.

Cantik : Kalo siang?

Aku      : Siang? Apa ya? Noon atau daytime kali (maaf jika salah, Nak)

Cantik : Okay….

Lalu Cantik berlari lagi ke ruang tengah. Tak lama kemudian terdengar ia bernyanyi. Begini Kawan,

Pok ame-ame

Grasshopper butterfly

Daytime eating rice

In the night drinking milk

Qiqiqiqiqiqiqi……. aku tertawa tertahan di dapur. Meski lagunya dipas-pasin dan bahasa Inggrisnya entah benar ato tidak, tapi kok ya lucuuuu gitu :mrgreen:

Cantiiiik….Cantiiikk…. kamu selalu membuat Bunda tertawa deh :lol: Yang aku heran kok dia gak bertanya bahasa Inggrisnya Pok Ame-ame ya? Dan untung gak bertanya :mrgreen:

Amnesia

Hujan-hujan begini sebetulnya paling enak makan yang anget-anget, kayak bakso, soto, ato tumis kompor. Tapi entah mengapa kok aku malah pengen rujak yang pedes, dikit asem, mungkin karena pengaruh kepala yang sedikit mumet ini. Maka meluncurlah aku ke warung Yu Minah. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung duduk manis di bangku favorite.

“Rujak ulek aja, Yu, pedes yaa, satu bungkus aja,” kataku lalu meraih surat kabar yang ada di meja.

“Eh, Jeng, dementia itu apa to?” Tanyanya mengejutkan. Waduh, nanya kok enjel benjet (angel banget) begini?

“Memangnya kenapa, Yu? Sampeyan menderita demensia?”

“Hush! Sembrono! Bukan saya, mbok dibaca itu lho korannya. Tuh, ada ibu-ibu yang kena amnesia, trus sekarang malah menjurus ke demensia,” sahut Yu Minah setengah kesal. Goyang ulekannya semakin hot. Sementara Yu Minah ngomel aku langsung browsing mengenai demensia ini lewat ponsel.

“Ojo nesu to, Yu. Nih, yang namanya demensia itu:

Demensia (bahasa Inggris: dementia, senility) merupakan istilah digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak.[1] Demensia bukan berupa penyakit dan bukanlah sindrom.

Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia. Orang-orang yang menderita demensia sering tidak dapat berpikir dengan baik dan berakibat tidak dapat beraktivitas dengan baik. Oleh sebab itu mereka lambat laun kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dan perlahan menjadi emosional, sering hal tersebut menjadi tidak terkendali.

gitu, Yu.”

“Wuih, sampeyan kok pinter banget to, Jeng?” puji Yu Minah sambil memotong-motong buah. Aku tersenyum dengan hidung kembang kempis. Padahal aslinya nyontek Wikipedia  :mrgreen:

“Jadi kalo orang amnesia itu bisa berlanjut ke demensia itu ya, Jeng?”

Walah, kok makin susah nanyanya. Buru-buru aku browsing lagi. Lhadalah, inetnya lemot, huwaaa….. Untunglah Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Barangkali, Yu. Wong amnesia itu kan daya ingat yang mengalami gangguan gitu. Lha demensia kan penurunan fungsional pada otak, ditandai pikun. Yo wis kira-kira nyambung lah,” elakku bergegas menerima bungkus rujak lalu segera berlalu. Kuatir Yu Minah bertanya macam-macam lagi.

“Eeee, Jeeeeng, rujaknya belum dibayar lhooo!” Tiba-tiba Yu Minah berseru memanggilku.

“Eh, hahahaha… hihihihi… hehehehe…. maap, Yu, kelupaan,” sahutku malu dan segera berbalik kembali.

“Sampeyan ini, Jeng, wong cuma sepuluh ribu kok ya mendadak amnesia. Lha nek milyaran rak yo bisa demensia to!”

Sial!!! :mad:

Kulering

Kumpulan Lelucon Garing :mrgreen:

Suster Ngesot

“Iiiihhh, kok aku merinding ya masuk sini? Kabarnya di rumah sakit ini ada suster ngesot ya?”

“Tenang aja, maren dah disumbang kursi roda kok, jadi gak ngesot lagi.”

**********************************************************************

Sablonan Kaos

Dua orang jomblo galau sedang mengamati lalu lintas di malam minggu yang kelabu.

“Busyet tuh cewek, bonceng motor ampek nempel banget gitu. Persis kayak tas ransel, huahahahaha….”

“Bukan ransel, Bro, kayak gambar sablon kaos, wkakakakakaka….”

**********************************************************************

Amnesia

Sebuah penyidikan.

“Jadi Ibu ada di mana tanggal 20 Desember kemaren?”

“Gak ingat, Pak. Saya ini siapa aja gak ingat.”

“Jangan pura-pura, ya! Ini di dompet Anda ditemukan bon belanja tas Hermes, dompet LV, gaun Dior. Semua merujuk ke alamat di Singapura!”

“Oh, waktu itu lagi ada sale, Pak. Sampe 70% lho. Tadinya saya mau beli D&G juga tapi lagi gak sale, trus…upss!”

“Grrrr!!!”

********************************************************************

Labil

“Mbak, es jeruknya satu ya. Eh, jeruk anget aja, deh! Mmm, eeh kasih es dikiiiit aja. Eh, gak usah deh, anget aja. Mmmm, es teh manis aja deh, Mbak!”

********************************************************************

Kriuk…kriuk….krik…krik… :P :mrgreen:

Buah Terlarang

Eve berlari-lari mendekati Adam.

“Adam, ayo kita makan buah ini. Enak sekali nampaknya,” katanya terengah-engah.

“Tidak! Kita tidak boleh makan buah ini, Eve!”

“Gak apa. Kan gak ada yang lihat, hanya ada kita berdua,” bujuk Eve.

“Tapi kita sudah diingatkan tidak boleh makan buah ini,” kata Adam bersikukuh.

“Cobalah, sedikiiit saja. Aku sudah mencobanya dan enak sekali. Ayolah!” rayu Eve.

“Nanti kalo dia marah?”

“Gak akan! Gak ada yang lihat.”

Lalu keduanya menikmati buah nan lezat itu. Hingga sebuah suara menggelegar.

“Adam! Eve! Mengapa kalian makan durian itu? Kan Papa sudah bilang TIDAK BOLEH? Kalian masih terlalu kecil!”

Kedua bocah itu menggigil ketakutan.

Delapan Tahun

Sebuah percakapan antara aku, Cantik, dan Jendral G (Guanteng).

Cantik        : Bundaaaa, kenapa sih kok Kakak itu jadi kakak dan Adek jadi adik?

Jandral G : Hahahahaha…. maksud Adek apa sih? Ya jelas aja orang Kakak yang lahir duluan.

Cantik        : Iyaa, maksud Adek kenapa Kakak lahir duluaaan?

Aku             : Hihihihihi…. lha wong Kakak duluan yang dibuat :mrgreen:

Cantik        : Bundaa, untuk hari ini gantian ya. Kakak yang jadi Adek trus Adek jadi kakak. Boleh ya?

Aku             : Tanya aja sama Kakak. Lagipula Dek, jadi adik itu enak lho, ada yang melindungi, ada yang jagain.

Jendral G : Gak papa, Bunda. Deal ya Dek, sekarang Kakak panggil Adek Kakak trus Adek panggil Kakak Adek ya?

Cantik        : Horeeee, sekarang Adek jadi Kakak.

Maka mereka mulai bertukar panggilan. Aku pun mengikuti permainan mereka meski sering salah :P Hingga tak berapa lama kemudian.

Cantik        : Dek, gantian dong main G Tab nyaaaa

Jendral G : Yeee, ntar duluuuu kan Adek baru main

Cantik        : Waaaaa…… Bundaaaaa, Kakak eehhh Adek gak mau gantiaaaaan…..

Aku        : Kak Cantik, harus mengalah dong sama adiknya. Kalo jadi kakak harus mau mengalah, kan selama ini Dek Guanteng juga selalu mengalah sama Kak Cantik?

Cantik        : Kalo gitu udahan, kita kembali semula. Adek tetep jadi adik, sini Kak, G Tabnya.

Jendral G : Yeee, curaaaaanggg…..

:mrgreen:

Itulah Cantik, yang selalu mau menang sendiri, yang selalu merasa tersaingi oleh kakaknya. Untunglah Jendral G kakak yang sangat sabar dan sayang adiknya. Mungkin karena jarak yang terlalu dekat ya?

Cantik, sekarang kau sudah delapan tahun. Selamanya kau akan jadi adik cantik dan manis punya Kakak, Ayah dan Bunda. Jadi janganlah kau merasa tak disayang karena kau bungsu, justru karena itulah kami semua selalu sayang dan menjagamu. Apalagi kau ini cerewet, cerdas, dan lucuuuuu, kaulah pelawak di keluarga kita :D

Selamat ulang tahun, Sayang. Makin cantik, pintar, kurangi cengeng dan manjanya :P dan tetaplah menjadi bintang di keluarga kita. Ayah, Bunda dan Kakak selalu berdoa agar tercapai segala yang kau citakan, sukses dan bahagia selalu.

I love you, Cantiikk….. mmuuuaahhhh….. :D