Kira-kira 3 minggu lalu salah seorang teman cerita kalo salah satu anak buahnya diduga keras sedang hamil 4 bulan! Wakz!!! Tentu saja aku terkejut bukan kepalang. Sebut saja nama anak ini Ira. Dia itu gadis manis berjilbab, pendiam, rajin, walo kadang menyebalkan ’coz melakukan praktek MLM di kantor. Pokoke gak nyangka babar blaz kalo doi tuh digosipkan hamil. Nah, karena sudah mengganggu pekerjaannya ‘coz sering bengong dan melakukan kesalahan, maka ditegorlah si Ira ini oleh atasannya.
Dia ditanya baik-baik apakah dia hamil. Kalopun hamil ato dah nikah gak masalah, itu bukan urusan kantor. Yang jadi urusan kantor adalah kualitas pekerjaannya yang menurun. Wajah Ira memucat seketika. Dia tidak mengaku hamil atopun menikah. Tapi pinggangnya hilang, dadanya membesar. Aku ingat tujuh tahun lalu ketika pertama kali hamil aku pun tidak sadar. Yang kusadari hanyalah hilangnya pinggangku, maka ia pun diminta untuk jujur. Tetap Ira tak mo ngaku. Ya sudah, ia tidak akan diperlakukan istimewa, kalo ada proyek lapangan tetap akan diikutkan.
Seminggu kemudian Ira menyodorkan surat pengunduran dirinya. Per 31 Mei ini. Katanya mo buka restoran. Hmm, semakin menguatkan dugaan klo Ira mang hamil. Ketika ditanya dah mantap lom doi bilang dah mantap, ya sudah pihak kantor tidak menahannya. Banyak orang sering curi pandang ke arah perutnya. Emang gendut, soale Ira kan kurus jadi kalo ada perubahan pasti kelihatan. Dah gitu kupnat pada seragamnya juga dibuka. Teman yang lain pun mengatakan demikian. Sering menutupi perutnya dan yang lebih gila Ira sering memakai korset!! Uh, gila tuh anak! Bisa gak berkembang bayinya.
Sabtu lalu kabarnya doi pinjam uang kantor dan Senin cuti. Kepalaku langsung melayang. Aborsi!! Itu yang ada di benakku. Maka hari Senin atasannya menjenguk ke kosnya. Dan Kawan, Ira gadis manis berjilbab ini ternyata berambut dicat pirang! Lhah, ngapain dicat kalo tiap hari berkerudung? Eh, gak da hubungan yak?
Dan ketika masuk kantor kembali, Ira nampak begitu percaya diri. Yang tadinya hanya termenung, menyendiri di ruang kosong, melamun di pantry. Kini, tawanya kembali bergema. Candanya tidak malu-malu lagi. Dan Kawan, perutnya kempes! Dadanya masih membesar tapi kenapa perutnya kempes? Seragam yang tadinya sesak kini nampak longgar? Ohh, benarkah Ira melakukan aborsi??
Tak terbayangkan, bayi yang kalo memang benar ada itu berusia 5 bulan dalam kandungan, terenggut dari kenyamanannya! Gimana rasanya dipaksa meninggalkan kehangatan dalam rahim, apakah dia tergagap-gagap? Apakah bayi mungil itu kesakitan? Apakah perih perutnya, lengannya, kakinya, semuanya? Apakah ia menangis dalam diam? Atau berteriak tanpa suara? Selembut apa jeritanmu, Nak? Apakah kau panggil-panggil ibumu minta tolong? Apakah kau marah pada ibumu? Semoga ia tidak merasa sakit dan perih. Oh, Ira…Ira… teganya kamu, jahatnya kamu, sadisnya kamu???
Membayangkan sakitnya si bayi direnggut dengan paksa begitu, hatiku terisirs-iris. Lho, kok aku yang sedih ya? Habisnya bayi itu sudah tak berdaya kok masih aja disiksa. Duuhh, moga-moga gak merasakan apa-apa si bayi tak berdosa ini. Dan Ira, tidakkah kamu menangis di malam hari, membayangkan bayimu? Kamu gila, betapa indahnya merasakan pertumbuhan bayi dalam rahim. Ketika dia mulai menendang-nendang, mendengar detak jantungnya, merasakan tiap gerakannya. Kamu sungguh gila Ira, mau berbuat tapi gak bertanggung jawab!! Kamu tau, temanku aja 10 tahun menunggu kedatangan seorang anak dalam keluarga, ini kamu main bunuh aja! Jahat kamu, Ira! Lebih takut menanggung malu daripada menanggung dosa. Lebih takut pada ayahmu daripada Tuhan. Bodoh kamu!
Ah, sudahlah, gak kan ada habisnya memaki-maki Ira. Toh semua sudah terjadi dan gak ada hubungannya denganku. Tapi aku sangat membenci perbuatan aborsi! Yang pasti aku senang Ira mengundurkan diri dari kantornya, setidaknya teman-temannya tak perlu menatapnya dengan marah setiap kali melihat wajahnya. Dan semoga bayi mungil yang belum sempurna itu sudah tenang dan nyaman di surga.
Komentar Terakhir