jump to navigation

Bye…bye… Mungil June 26, 2008

Posted by chocovanilla in Iseng Aja, Tak Enak.
4 comments

Dah dua minggu ini aku kehilangan sesuatu yang kusayangi. Gak bener-bener kehilangan, sih, hanya gak bisa lagi bersamanya. Ponsel CDMA ku patah hu….hu….hu…. Hampir tiga tahun kulalui bersamanya. Semua orang lebih senang menghubungiku lewat Si Mungil ini  (tentu saja ‘coz irit).

Ponselku ini emang tangguh luar biasa. Dah berkali-kali terbanting di kerasnya aspal gara-gara terlepas dari genggaman, belum lagi suka dimainkan kedua malaikatku. Bentuknya yang maniz, pas di genggaman tanganku, warnanya yang macho, ih….sedihnya. Bisa gak ya dibetulin? Aku belum menemukan pengganti yang cuocok. Satu-satunya kekurangan Si Mungil hanya aku gak bisa melihat siapa penelpon kalo gak buka dulu, so gak bisa menghindar he…he…. But mo ganti yang candy bar kayaknya gak secantik Mungil, ya?

Bye Mungil, sampai kapanpun kau akan kusimpan (dijual gak laku kali). Proyek kecil besar sudah banyak kuterima lewat dirimu, sanjungan dan omelan pun ikut kau dengar, kesedihan dan kebahagiaan pun ikut kau rasakan.

Thanks and good bye….

                                                                                                     

 

Menyedot Tutut June 25, 2008

Posted by chocovanilla in Nyam...nyam...sedaaap....
4 comments

Kemaren aku ke Bandung ma The Other Boss. Naik Cipaganti, wah aku dah ragu secara aku pemabuk. Tapi ternyata perjalanan cukup menyenangkan, jadi pulang pergi kulalui dengan sukses tanpa mabuk. Karena duduknya di belakang sopir, he…he… Sampai Bandung tentunya langsung ke tujuan dan menyelesaikan tugas trus beli oleh-oleh di Prima Rasa dan Kartika Sari. Setelah itu, aha….window shopping!

Awalnya kita mo makan siang di tempat-tempat yang banyak diceritain orang termasuk critanya Om Dewo, tapi karena keterbatasan waktu dan kebetulan kita berdua habis terserang diare akhirnya pilihan jatuh ke Rumah Mode. Belanja trus makan. Sebelum belanja kita minum dulu Ice chocolate, seger. Tapi begitu mulai window shopping perut mulai slemeth-slemeth. Untunglah gak sampai harus dikeluarkan (ih, joroks banget!). Ternyata boss juga begitu he…he… Selesai belanja yang ternyata mengecawakan ‘coz pilihan kurang menarik, kita makan di Bumbu Dapur.

                       

 Dah lama skali aku gak ke sini ternyata ada menu baru: Tutut! Aku tau makanan ini adalah sejenis keong sawah. Tapi ‘coz sering liat ulasannya di TV jadi pengen cobain. Kutabahkan hatiku untuk memesannya. Boss cuma nyengir sambil gebes-gebes. Oya, The Other Boss ini lama tinggal di Jerman, jadi sangat memperhatikan makanan yang mo disantap. Jadi beliau gak minat babar blaz.

 Kutanya cara makannya ama mbaknya ternyata disedot. Wah, seru juga nih! Dengan rada piye gitu, kucoba tutut yang paling imut. Sruput, wuih langsung keluar isinya. Rasanya ya kayak kerang, tapi lebih gimana gitu. Lalu kuambil tutut yang rada montok dikit. Mmm, sukses dan ternyata lebih kenyal rasanya, hampir-hampir kayak karet gelang ato ban mobil, ya? Kuahnya gak kumakan, gak tega, berasa rendeman keong he…he…. Nah, pas coba tutut yang paling besar ternyata gak sukses. Dah kusedot dengan berbagai teknik gak mo keluar juga tuh keong. Yo wis, kusingkirkan. Kata Boss nyedotnya jangan terlalu kuat en gak perlu cemplungin semua ke mulut, jadi sisakan sedikit udara. Halah, repot banget. Tapi memang makin besar tututnya ternyata makin sulit keluar. Ah, lupakan dulu, deh!

Akhirnya aku mengalihkan diri sejenak dari tutut. Ayam goreng khas Bumbu Dapurnya ternyata enak. Cuma karena gak berani pake sambel jadi kurang mantap. Ikan guramenya biasa aja. Yang ternyata enak padahal gak terlalu dilirik adalah tumis jamur. Wui, ternyata enak sekali. Setelah puas menikmati yang lain, aku kembali ke tutut. Penasaran banget! Sebetulnya rasanya gak istimewa tapi teknik nyedotnya itu yang aku belum dapet.

 Akhirnya kuambil tutut yang ukurannya paling besar. Kusedot dengan teknik yang dianjurkan Boz. Masukkan sedikit ujungnya ke mulut, trus sedot perlahan, oya harus ada ruang udara sedikit. Apa yang terjadi, Kawan? Sukses! Tapi…..oh, apa ini? Kok berasa ada ngeres-ngeres? Spontan kukeluarkan dengan jariku? Tampak seperti butir-butir pasir di laut (kayak sandiwara radio jadul, he..he...). Apa ini? Boz tertawa ngakak, kata beliau kemungkinan itu “pup”nya si tutut. OH, NOOOO……!!! Langsung kulepeh dengan seksama di atas tisu. Kuamati tapi kok warnanya putih keabu-abuan? Weks, aku langsung minum sebanyak-banyaknya. Kapok!! Gak mo lagi makan tutut!! Langsung kusingkirkan tutut yang masih setengah penuh itu. Boz mo ceritain sesuatu tentang tutut tapi aku dah gak mo denger! Yeaks,……

 Hari ini ketika kuceritakan ke teman-teman, mereka bilang itu bukan pup tapi telornya mbak tutut itu. Ohhh, lega rasanya! Nyaris aku tersugesti untuk diare lagi kemaren. Untunglah cuma telor tutut. Dan mudah-mudahan itu benar. Yang pasti aku gak mo lagi makan tutut! Lain kali aku mo pesan tomi aja, he…he….

 

Curhat June 23, 2008

Posted by chocovanilla in Cari Solusi, Iseng Aja, Nimbrung Mikir, Tak Enak.
7 comments

Pada suatu hari, di suatu siang yang cerah, di antara gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan sayup deru mobil di kejauhan (halah), sobatku mencurahkan isi hatinya padaku. Sebut saja namanya Winda (Nama sebenarnya. Lho?). Rupanya dia sedang kesal sekali pada suaminya sebut saja namanya Ferdi (Nama sebenarnya juga. Lha? Wis biarin, mereka gak suka ngeblog, kok!). Lebih dari tiga jam aku mendengarkan sekaligus menghiburnya. Padahal tumpukan kerjaan yang setinggi bukit itu mencuri-curi pandang padaku dengan cemburu, ingin segera disentuh dan diselesaikan. But, sahabat lebih penting kan? Jadi begini kisahnya.

 Oya, usia pernikahan mereka sudah hampir 10 th. Kehidupan mereka baik-baik saja, begitu juga dengan kehidupan sex mereka, minimal 1 minggu sekali mereka pasti bercinta, kalo sedang liburan bisa 2-3x (ya ampun, sampai tau sejauh itu??). Dengan sok taunya kubilang itu wajar, mengingat sudah selama itu mereka menikah. Mereka punya 3 anak 8, 6, & 4 th, 2 boys en 1 girl. Hmm, kedengarannya sangat ideal. Tapi, sudah hampir dua bulan ini Ferdi menunjukkan gejala aneh dan mencurigakan. Hampir setiap hari Sabtu (oya, Ferdi masuk 1/2 hari sementara Winda libur) selalu pulang malam. More than 8 pm. Padahal Ferdi tergolong pria yang “home sweet home” Rumah adalah tujuan pertama Ferdi kalo pulang kantor. Bahkan beberapa kali di hari biasa juga telat. Ada seribu alasan, 500 diantaranya gak masuk akal. Dan 200 diantaranya ketahuan bahwa Ferdi ini bersenang-senang dengan teman-teman kantornya yang 80% diantaranya cewek. Aku terkejut juga, seperti bukan Ferdi! Kebetulan aku juga kenal suami Winda ini, kami bersahabat sudah hampir 5 th. Ferdi ini orangnya cukup sopan, tidak genit, that’s way Winda mempercayainya 100%. Padahal sudah pernah kuperingatkan, jangan sekali-sekali percaya 100% pada suami, sisakan 10% ato paling tidak 0,0099999% untuk curiga. Dengan entengnya WInda menjawab,” Ah, terserah apa kata orang. Aku sih percaya 100% padanya. Aku tau betul karakternya.” Now, see??? Kadang aku iri pada kepercayaannya yang bulat-bulat itu. Tapi terbukti kan? Lelaki mo kayak apapun baik or lugunya kalo dah ditelatenin pasti kejebak juga. Apalagi model Ferdi yang malu-malu pada perempuan. Bahaya 2x lipat!!

Singkat cerita, ntar kalo kepanjangan jadi nyaingin novelettenya si Om yang ini, tanda-tanda aneh paling akhir yang ditemukan Winda sebagai berikut:

  1. Seminggu lalu pada hari Sabtu, sore hari mendadak Ferdi sms Winda mo pulang malam ‘coz “dipaksa” temannya untuk kondangan. Padahal Ferdi ke kantor pake kaos dan malam harinya ketika pulang ribut laper dan makan habis 2 piring! So, kondangan macam apa?
  2. Ketika Winda mo belanja keesokan harinya, dia menemukan sandaran bangku sebelah sopir dalam posisi setengah tidur! Dan ada sobekan cover buku Winda yang tergulung di lantai mobil. Menurut bayangan Winda begini, si penumpang gelap itu pasti dalam posisi setengah rebahan sambil tangannya iseng gulung-gulung kertas. Nah, perempuan dalam kondisi apa yang begini? Pasti mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang “tabu” untuk dibicarakan, sehingga si cewek malu-malu dan tangannya iseng. Ato si cewek sedang berusaha merayu?
  3. Tidak ditemukan secarik pun karcis tol di mobil. Padahal Ferdi ini orangnya sangat prinsipil, dia bilang walo uang pas tetap karcis tol diminta dari petugas untuk menghindari kecurangan petugas. Jadi Winda merasa curiga, kenapa mesti dibuang? Ini benar-benar diluar kebiasaan.
  4. Ponsel Ferdi dalam posisi “silent”. Nah, hal diluar kebiasaan banget. Sedang di mana ato sedang ngapain si Ferdi ini pada Sabtu itu?? Kenapa keesokan harinya tiap kali selalu melihat ke ponselnya? Dan pesan di inbox bersih? Hanya ada beberapa pesan lama dari Winda dan beberapa temannya?

Yang membuat Winda sangat marah karena tepat hari itu dia sedang terbaring sakit, panaz tinggi dan hanya gadis kecilnya yang merawat. Kubilang karena sedang sakitlah maka dia so sensi. Tapi Winda tetap marah. Winda lebih marah lagi karena Ferdi pernah mencurigainya juga padahal Winda gak pernah berbuat aneh-aneh, apalagi selingkuh. Yah, yang ini aku tau benar, karena seluruh waktu Winda di kantor maupun pulang kantor aku selalu bersamanya. Di luar itu ya mene ketehe? Tapi aku jamin Winda jujur.

Waktu kutanya siapa teman kantornya yang sering nebeng? Melly (ini nama bener banget!). Menurut Winda, dulu suaminya sering cerita tentang Melly ini. Sudah bersuami, tapi selingkuh dengan teman kantor mereka juga. Nginap di luar kota 3 hari gak pulang. Anaknya cantik dan muda. Waduh, gawat nih, batinku! Ferdi sedang didekati cewek penggoda kelas berat! Sempat terlintas di benakku, laporin aja ke Playboy Kabel, tapi melihat wajah Winda jadi gak tega mo becanda.

Sebetulnya Winda masih percaya bahwa Ferdi tidak selingkuh, menurutnya mungkin Ferdi cuma bersenang-senang saja dengan teman2 kantornya, kebetulan rumah Melly searah jadi pulang bareng. Yang Winda benci adalah kebohongan-kebohongan Ferdi yang makin lama makin gak masuk akal. Kondangan tapi pake kaos? Tapi mendadak? Tapi makan abis 2 piring? Tapi gak ada souvenir? And gak ada penjelasan lebih lanjut about that? Winda juga gak pernah melarang Ferdi mo bersenang-senang sekali waktu tanpa keluarga, tapi jangan bohong, duooong!! Apalagi kondisi Winda yang lagi terbaring sakit?

Ah, sebenarnya mungkin Winda sudah menemukan jawabnya dan memang hanya dia seorang yang bisa menjawab pertanyaannya. Dia hanya kesal dan perlu teman untuk mendengarkan. Jadi aku dengarkan. Tiga jam lewat sudah. Winda sudah lega dan mulai kembali bekerja. Tapi aku jadi penasaran.

Ferdi selingkuh gak ya? Kalopun gak selingkuh, bukankah itu gejala awal perselingkuhan? Bohong, pulang malam, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan? Benarkah Melly yang menggodanya ato ada “makhluk perempuan lainnya” lagi yang Winda gak tau? Aneh! Kita liat saja nanti curhat Winda berikutnya (kalo ada). Sabar ya sobatku, kau sedang dalam ujian….

Es Green Tea Rasaaa ……. weekz?! May 28, 2008

Posted by chocovanilla in Nyam...nyam...sedaaap....
11 comments

Seperti biasa aku dan sobatku menjamu klien makan siang beberapa waktu lalu. Kali ini kami makan siang di Jababeka ……(eh, agak lupa namanya). Tempatnya cukup nyaman dengan view lapangan golf dan swimming pool. Sayangnya gak ada yang lagi swimming he…he…

Yang makan di sini kebanyakan Japanesse, temen2nya F4, ma Bulenesse (opo to yo?). That’s way pramusajinya berbusana miniiiii, ato panjaaaaaang tapi belahannya tinggiiiiiii. Enak dilihat deh (lho? But I’m still normal!). Setelah memilih tempat duduk yang nyaman kami mulai memesan makanan. Berhubung aku belum pernah makan di tempat ini aku tanya apa yang khas di sini. Rupanya Beef Teppanyaki dan nasi goreng buntut. Aku memilih yang pertama sedangkan klien dan sobatku memilih nasi goreng. Halah, dah jauh-jauh kok ya makan nasi goreng? Biarpun uenak buanget, bagiku nasi goreng adalah menu darurat! Menu sarapan or menu kepepet. Yo wislah, barangkali mereka sedang kepepet, he…he… Dan untuk minumannya aku memesan teh kesukaanku Ice Green Tea. Hmm, di siang bolong begini pasti sugeeer tenaaann….

Sambil menunggu makanan utama kami ngemil calamary dan kentang goreng. Yang begitu dibilang ngemil??? Weks, siap-siap nambah dua kilo! Berdekatan dengan meja kami ada sepasang manusia yang tampaknya makannya dah selesai tapi gak pergi-pergi juga. Oow, rupanya sedang menjalin perselingkuhan. Begitu menurut sobatku yang paratidaknormal itu. Si Om yang tampaknya lebih tua dari Om ini duduk menghadap kami. Di tengah-tengah ngobrol HP Si Om berdering. Astaga! Mau tau ring tone nya? Suara anaknya memanggil-manggil!! OMG, segitu kok ya masih selingkuh! Dasar buaya darat, hidung belang! Dah gitu rupanya yang nelpon ya anaknya. Kebetulan pasangannya pas noleh, oh ternyata…gak cantik dan sedikit tua! Ih, tega nian kamu perempuan?? Lho…lho…. kok jadi OOT! Dah ah, kembali ke menu utama.

Akhirnya minuman datang. Wuiih, tampilan es green tea nya sangat menggoda, dengan gelas yang berembun, teh hijau muda itu tampak segar, ditambah es batu yang jernih, uuughh…. (halah, cuma teh kok heboh amat!). Kucicip sedikit…. oooh… mataku mendelik. Kusruput lagi…. aargh…. aku gebes-gebes (basa Indonesanya apa ya?). Masih penasaran kusedot lagi…. iiih…. aku menyerah! Sobatku ma klienku ampe terpingkal melihat ekspresiku. Sungguh teh yang aneh!  Rasanya tuh seperti … apa ya? Agak-agak kayak tembok gitu …eh bukan…. mmm lebih mirip kayak serbet basah trus ditaruh di atas tutup panci yang lagi buat merebus air! Nah, itu lebih cocok. Kayak serbet basah panas! Padahal itu kan es teh??

                                                            Barangkali ini teh asli dari Jepang. Aku aja yang ndeso gak pernah merasakan jadi takjub. Agak malu sih ma klienku. Abis beda sih, kalo green tea yang biasa kuminum (emang murah sih) rasanya tuh enak. Sepet, little bit pahit, tapi ada manisnya juga, enak deh…

Kalo menu utamanya, Beef Teppanyaki cukup lezat. Sayurnya very crispy padahal dimasak matang dan ada rasa-rasa terbakar, enak. Cuma porsinya huiii… bisa dimakan berdua! Gak abis deh, sorry. Dagingnya juga cukup empuk dengan potongan besar-besar. Benar-benar mengenyangkan. Apa kabar dengan nasi goreng buntut? Yah seperti dah kuduga, tampilannya ya begitu itu. Hanya saja cukup unik karena ada kuah terpisah. Mungkin temannya si buntut itu.

Cukup enak makan di sini. Dan anehnya biar rasa green tea nya kayak serbet basah, tapi seperti memanggil-manggil untuk disedot lagi. Akhirnya habis juga itu teh. Hmmm, dah dua bulan berlalu. Rasanya pengen minum es green tea itu lagi. Teh rasa serbet yang ngangenin!

 

 

 PS. Ups, baru sadar, jangan-jangan teh kadaluwarsa ya? Ato emang teh improt? Kenapa waktu itu gak nanya ma mbaknya, ya?

 

Guantengku Hebat Sekali!! May 22, 2008

Posted by chocovanilla in Cintaku.
8 comments

Ternyata selama ini aku terlalu menganggap remeh cintaku yang super duper guanteng itu!

Hari Kamis seminggu lalu aku bawa Guanteng ke klinik setelah panas tiga hari gak turun-turun. Tadinya mo kubawa ke dokter langganan Guanteng di Mitra Keluarga, tapi dokter adanya malem. Ya sudah kubawa saja ke klinik dekat rumah sebelum ngantor. Dokter anak yang ada gak terlalu ramah, dah sepuh. Kalo dokter anak lain yang pernah kukenal biasanya ramah, berwajah kanak-kanak, pokoke menyenangkanlah. Yo wis, ini kan darurat.

Menurut dokter sih ada radang tenggorok, but ‘coz dah panas 3 hari ya disuruh ….. periksa darah!! Wah, inilah yang paling kutakutkan sejak dahulu kala, sejak jaman pitecantropus erectus! Kalo aku walopun takut masih dijalani. Tapi Guanteng? Aku langsung kalang kabut bisikin susternya kalo Guanteng belum pernah diambil darahnya. Susternya sih tenang aja, “Gak papa, Bu, nanti dibantu susternya kok?” Uh, dia belum tau aja temperamen Guanteng. Yang terbayang di kepalaku pasti Guanteng marah truz nangis keras-keras!

Aku begitu takut karena waktu Guanteng umur empat tahun diimunisasi cacar (kalo gak salah), apa yang terjadi? Dokternya ditendang! Yang pegangin ampe 3 orang. Duh, ini mo diambil darah? Tapi belagak tenang kuajak Guanteng menuju lab. Dia dah curiga sih, tapi terus kubujuk-bujuk aja. Sampe di lab, Guanteng duduk manis. Sekali lagi dengan paniknya kubisikin analisnya kalo kemungkinan Guanteng marah. Mbaknya dah kusuruh siap-siap pegangin.

“Bunda, Kakak mo disuntik, ya?” tanya Guanteng ketika si analis dah mencari nadi lengannya.

“Mmm, cuma dilihat ada bintiknya gak. Kakak panasnya dah tiga hari kan?” bujukku.

“Gak papa kok, Kak. Walaupun disuntik cuma dikiiit gak sakit kok!” Aduh, Si Cantik berusaha ikutan menghibur tapi bocorin rahasia! Si analis dengan cekatan memasang torniket dibantu seorang suster yang terus ajak ngobrol Guanteng. Aku dah panas dingin deg degan. Cantik terus ngoceh menghibur sekaligus tanpa sadar menakut-nakuti. Ah, maniz sekali Cantik berusaha menghibur kakaknya.

Dan dalam waktu gak ada lima menit, cuuussss….si analis dengan jurus seribu bayangan menusukkan jarum spuit (bukan wing needle!) ke lengan Guanteng dan cuuurrr…darah mengalir mengisi tabung spuit. Apa yang terjadi??? Guanteng gak takut!!! Dengan tabahnya dia lihat proses pengambilan darah sampe tuntas! Oooh, air mataku nyaris menetes. Kupeluk Guanteng erat-erat sambil kuhujani dengan pujian agar sakitnya berkurang. Berlebihan sih, tapi emang waktu itu perasaanku kacau balau. Seandainya bisa biar aku aja yang diambil darahnya walopun aku takut. Yang penting Guanteng gak menderita.

“Gimana rasanya, Sayang? Sakit sedikit ya?” tanyaku.

“Gak sakit, kok, Bunda. Cuma sediiikiiiit banget.”

“Rasanya seger ya, Kak?” tanya Cantik. Emang es teh? Tapi kuakui analisnya pun pintar. Proses pengambilan darah gak sampe lima menit dan si analis tidak pernah sedikitpun menunjukkan spuit itu. Pokoke tau-tau dah nusuk aja. Jelas dia menguasai jurus pengambilan darah tingkat tinggi.

Setelah itu langsung Guanteng menelpon ayahnya, aku pun menelpon sobatku memamerkan keberanian Guanteng. Duh, norak ya? Tapi biarlah seluruh dunia tau bahwa Guantengku hebat!!

Tapi jangan sakit lagi ya, Nak. Bunda takuuuut….

Proyek Menara Babel May 6, 2008

Posted by chocovanilla in Tak Enak.
13 comments

Dah lebih dari dua minggu ini aku tak berkutik babar blaz!! ‘Coz kerjain proyek yang dulu sewaktu tender kuanggap menggiurkan dan masuk akal ternyata setelah dijalani sama sekali gak masuk akal! Maksa banget and nyusahin! So kuanggap ini proyek Menara Babel aliaz Proyek Kesombongan! Salah siapa? Emang sih, salahku tapiii……

Berawal dari undangan tender klien yang sudah bekerjasama lebih dari 4 th. Mereka menawarkan proyek yang harus dikerjakan besok, lalu hasil mereka minta keesokan harinya. Perusahaan dengan 1,200 karyawan. Sak deg sak nyet!!! Mungkinkah? Waktu itu aku gak berpikir terlalu panjang (emang musti sepanjang apa, sih?). Yang ada di kepalaku hanya gimana caranya supaya klien ini gak pindah ke lain hati. Gawat kan kalo dia pindah ke lain hati trus puaaaz? Uh, bakalan ditinggalin selamanya, deh! Padahal ini termasuk klien besar yang memberi masukan kantor cukup besar pula. Nah, seperti biasa mulutku ama otakku cepetan mulut, maka kusanggupi proyek itu. Deal? Deal!

Sampai kantor langsung meeting darurat. My Boss tentu saja kuajak meeting, walopun ternyata doi gak ada action sama sekali. Seperti biasa, manggut-manggut, telpon dikit-dikit, ntar selesai meeting kembali ngurung diri trus baca komik. Iiiiih, sebel bangets! Tapi aku harus melalui prosedur itu. Yo wislah, sekedar formalitas dan tak menyalahi prosedur. Semua team grabak-grubuk, sampai akhirnya minta bantuan pusat. Berantem dikit-dikit, rayu sana-sini, akhirnya beres juga persiapan untuk besok.

Pekerjaan di lapangan beres, sukses, tanpa banyak masalah berarti. Nah, pekerjaan internlah yang setengah mati. Kalo Pranacitra dibantu oleh seribu jin, maka aku hanya dibantu team yang beranggotakan 15 orang! Ada juga anggota team yang nginep 3 hari gak pulang. Sekalinya pulang anaknya memanggil “Tante”, berlebihan deeeh….. Aku jadi berangkat saat matahari belum terbit dan pulang setelah matahari terbenam, berlebihan lagi deeeh…. Gak cukup sampe disitu, sampe rumah mandi bentar, makan lama, langsung buka lap top trus kerja lagi ampe menjelang subuh. Malaikatku tak teraih, kekasihku tak tersentuh, halah…halah…. demi menyelesaikan laporan sementara yang sak deg sak nyet itu. Bahkan minggu pun aku harus ngantor.

Sekarang tinggal finishing. Berawal dariku dan berakhir padaku pula. Aku merenung. Kekasihku dan kakakku menasehatiku panjang lebar. Bekerja itu yang sewajarnya saja, ukur kemampuan, kalo gak sanggup atopun kalo sanggup tapi maksa, tak usahlah diambil. Kasihan karyawan yang lain, kerja sampe larut, bahkan ada yang gak pulang. Sebandingkah dengan yang kau dapat? Sepadankah dengan pengorbanan yang kalian berikan? Aku terdiam, aku hanya tak ingin kehilangan klienku. Tapi kalo kerja tak masuk akal begini? Demi bonus? Sama sekali bukan! Bonus cuma 0,75%. Masih kalah jauh dengan lembur anak-anak. Jadi apa? Ego? Kesombongan? Gengsi? Bukan, aku cuma gak mau kehilangan klien! Bagiku, mempertahankan klien lama sama sulitnya dengan mendapatkan klien baru.

Ini emang jadi pelajaran berharga untukku. Aku tidak menyesal, tapi mungkin little bit kapok. Tapi tahukah, Teman, hikmah yang kudapat dari masalah ini? Beratku turun satu kilooo…… Hore….

Kaya Tujuh Turunan April 9, 2008

Posted by chocovanilla in Iseng Aja.
15 comments

Sewaktu meeting, kami sempat kasak-kusuk mengenai The Investor. Betapa beliau itu masih sangat muda (untuk level konglomerat) tapi dah kaya raya. Usahanya bermacam-macam di seluruh penjuru tanah air. Mulailah perbincangan di antara mereka yang aku juga gak tau kebenarannya.

Si A  : Beliau kan kaya karena keturunan, bapaknya bisnis ini dan itu.

Si B  : Ooo, jadi dari kecil dia dah kaya, dong?

Si C  : Ya iyalah, beliau kan putera mahkota.

Si A  : Kabarnya kekayaannya gak abis dimakan sampai tujuh turunan.

Si B  : Wuih hebat ya, masih muda, pinter, ganteng. Duh, enaknya….

Aku : Sebetulnya keluargaku juga kaya tujuh turunan, lho?

Semua memandangku tak percaya.

Si C  : Ah, lo tuh, becanda. Kalo dah kaya gak perlu kerja, dong?

Si A  : Iya, mestinya lo juga duduk di depan kayak The Investor itu!

Aku  : Betul, keluargaku tuh kaya tujuh turunan! Masalahnya, aku ini turunan kedelapan!!

(Aku melarikan diri karena mereka semua langsung mengejarku sambil bawa laptop, kursi, pisau, dll.)

Ternyata Kekasihku ….. April 7, 2008

Posted by chocovanilla in Cintaku.
6 comments

Akhirnya…. Sabtu kemaren jadi juga ikut corporate meeting di De Gadok. Padahal rencana semula aku mo nyusul hari Minggu aja, secara gak bisa tinggalin kedua malaikatku. Eh, Sabtu pagi sekali The Big Boss nelpon agar aku tetap datang hari Sabtu. “Gak enak ama The Owner, karena kita kan diundang, apalagi The Investor juga hadir. Kamu selesaikan aja urusan anakmu dulu, lalu nyusul, ya?” Begitu The Big Boss bersabda. Aku memang pamit ke The Big Boss ada acara di sekolah. Oh, aku cuma iya iya aja, gimana ngomong ke kekasihku, ya?

Dan ternyata kekasihku mau mengerti! (Thanks honey, I love u!) Dia mau antar aku sepulang kerja (Sabtu 1/2 hari) bareng anak-anak. Oh, thank God! Dan benar, sepulang kerja kekasihku menjemput adiknya (thanks, Tante) tuk temani anak-anak. Jadilah kami berangkat. Sampai De Gadok dah jam 5 sore. Dengan berat hati aku meninggalkan malaikatku, aku tunggu sampai Xenita dah meninggalkan villa. Hiks…..hiks……

Begitu aku menampakkan diri, wah The Big Boss, My Boss, and My Other Boss sangat senang. The Big Boss sampai minta maaf karena menyuruhku datang. Dan yang lebih membuatku merasa tak menyesal datang karena The Owner juga menghargai kedatanganku, karena ternyata sebelumnya belaiu dah tau kalo aku mo datang Minggu. Padahal, who am I? Oh, sungguh rendah hati beliau itu. Walau banyak acara kulewatkan tapi sisanya tetap menyenangkan. Seluruh grup baik dari Tengerang, Jakarta, Bekasi, sampai Batam dan Riau pun hadir. Kesempatan untuk mengenal semua.

Tapi malamnya, aku gak bisa bobok! Bukan karena bising dengan acara karaoke, tapi karena aku rindu kedua bintangku. Kutelpon jam 9 belum bobok, jam 11 masih belum bobok, sampai jam 12 masih juga belum pada bobok. Kok sama, ya? Ternyata Guanteng baru bisa bobok jam 1 pagi dan Cantik jam 2 pagi. Duh, kasian sekali cintaku itu. Begitu tergantungnya mereka padaku dan aku pada mereka?

Alhasil Minggu pagi pas acara hiking ke sawah aku gak punya tenaga, ngantuk dan ….keberatan badan! He…he…. Acara presentasi seluruh grup selesai jam 12.00, makan trus pulang. Saat presentasi The Owner berkata bahwa dalam waktu dekat ini aku dan The Other Boss mesti presentasi ke….. BATAM!

Oh, God….. kekasihku mau mengerti lagi gak ya? Gimana dengan kedua malaikatku? Ke Batam? Bisa more than 2 days. Hiks…hiks…

Bila Ajal Tiba…… April 4, 2008

Posted by chocovanilla in Ketawa dulu, ah....
6 comments

Seorang penjelajah tersesat di rimba Amazone dan terpisah dari kawan-kawannya. Suatu malam dia ditangkap oleh sekelompok penduduk asli yang masih primitif dan kanibal. Wah, sungguh ketakutan dia. Oleh kawanan suku asli itu dia dibawa ke Kepala Suku yang sedang ngemil jari kelingking, hiiiii…… hoek….

Sang Kepala Suku mendekati Si Petualang dan siap-siap memakannya. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit. JEGGER….!!! Kilat menyambar, lalu terdengar suara dari atas.

“JANGAN TAKUT ANAKKU, INI BUKAN AJALMU. AMBILLAH BATU DEKAT KAKIMU LALU PUKULLAH KEPALA SUKU ITU.”

Wah, Si Petualang langsung mengikuti suara itu. Dia ambil batu lalu memukul Si Kepala Suku sampai mati. Melihat Bossnya mati, para prajurit suku kanibal itu langsung mengelilingi Si Petualang dengan pisau dan tombak terhunus. Si Petualang ketakutan. Tiba-tiba terdengar lagi suara guntur JLEGGER…… kilat menyambar dan terdengar lagi suara dari atas.

“NAH, ANAKKU, SEKARANGLAH AJALMU.”

Suatu pilihankah: Keluarga atau karir? April 3, 2008

Posted by chocovanilla in Cari Solusi.
8 comments

Hmm, pertanyaan ini memang lebih sering ditujukan untuk perempuan bekerja. Kalo buat laki-laki dah jelas. Karir! Keluarga biar istri yang urus! Wuih, enaknya… Yah, sampai kapanpun emang dah tugas perempuan mengurus anak dan suami agar semua kebutuhannya tersedia dengan baik, rumah selalu nyaman dan aman walopun untuk itu perlu “staff” he..he… Menyesalkah menjadi perempuan? Oh, no…no… Menjadi perempuan adalah anugerah terindah. Mulai dari tumbuh dewasa, menikah, hamil, melahirkan, menyusui, uiiih… tak tergantikan! Selalu dicari dan dibutuhkan anak, dirayu suami setidaknya kalo malem, punya kekuasaan dalam urusan rumah, dipatuhi pembokat. Wis, sama sekali gak menyesal jadi perempuan. So?

Masalah menjadi perempuan mulai timbul ketika pekerjaan menuntut porsi yang lebih banyak. Contohnya akuuuu. Hari Sabtu dan Minggu besok ada meeting corporate yang diadakan di Puncak. Menginap? Bobok tanpa anak-anak? Oh, nooo…… Bagaimana kedua malaikatku nanti? Kebiasaan bobok malaikatku adalah Guanteng bobok di lengan kiriku, Cantik di kananku, keduanya memeluk perutku, lalu kami berdoa malam, baru deh bobok. Ntar dah maleman dikit kekasihku sibuk nggeser anak-anak, he…he….hush! Belon pernah aku meninggalkan mereka. Pernah Guanteng kutinggalkan waktu melahirkan Cantik lalu waktu Cantik dirawat di RS karena tipus. Tapi itu adalah alasan yang jelas! Emang meeting besok gak jelas?

Barangkali buat perempuan lain ini bukan masalah, toh cuma ditinggal 2 hari, tapi buatku masalah. Dan kebetulan kekasihku juga gak bisa tidur tanpa diriku pria ejaan lama, jadi dia tidak mendukung kepergianku. Kalo ada sanksinya gimana? Gak akan, kalo pun ada mengundurkan diri aja. Begitu kekasihku waktu kuminta pendapatnya. Semakin tidak mantaplah aku. Kalo kekasihku bilang pergi aja gak papa, nanti anak-anak aku yang jaga, walo berat aku masih mungkin berangkat. Padahal ini meeting besar  bersama The Owner, bahkan The Big Boss sudah menelponku secara langsung untuk acara besok. Kesempatan yang sangat bagus untuk “jual diri” agar semakin diakui bahkan mungkin promosi. Juga kesempatan untuk lebih mengenal orang-orang dari seluruh grup baik perusahaan besar maupun kecil (kebetulan kantorku termasuk yang kecil). Yaaaaah….

Akhirnya aku punya solusi sementara. Mungkin yang terbaik, karena giliran presentasi perusahaanku hari Minggu, maka aku akan pergi hari Minggu diantar kekasihku dan kedua malaikatku, lalu mereka jalan-jalan entah kemana, aku ikut meeting. Sementara inilah yang terbaik. Padahal acara team, arahan managemen dan kebersamaan justru di hari Sabtu, dari jam 09.00 - 20.00. Ya sudahlah, harus ada yang dikorbankan. Yang pasti bukan keluargaku!

Yang menjadi masalah sekarang, gimana ngomong ma The Big Boss? Kalo My Boss sih gak berani bilang “harus” padaku, he…he… secara galakan aku than him. Trus gimana pendapat The Owner kalo gak liat aku hari Sabtu? (Kata The Owner: emang gue pikirin? GR amat sih?) Padahal beliau lebih sering komunikasi denganku daripada dengan My Boss. Akan mempengaruhi karirku kah? Dinilai tidak loyalkah? Dianggap menyepelekankah? Dianggap sok kah? Oh, aku binguuuung…… That’s why karirku mentok?

Ah, seandainya aku bisa difotokopi, sekaliiiiiiiii aja….. (hiiii…….)