Ahmad Sri Paus

Tersebut sedetailnya pidato Sri Paus itu, yang setelah jadi mu’allaf, namanya telah beralih jadi Ahmad Sri Paus (supaya umatnya tidaklah sangat kaget, jadi Ahmad Sri Paus tidak mengatakan salam terlebih dulu memulai pidatonya) :

Seorang kawan di grup WA mengirim link berita tentang Paus Yohanes Paulus II yang menjadi mualaf. Wah, sebetulnya ini berita basi menurutku. Malah setahuku bukan Paus Yohanes II tapi justru Paus Benedict ๐Ÿ˜…

Silakan klik quote link di atas jika kau ingin membacanya, Kawan. Tapi bukan itu sih yang membuatku ingin memosting sampah ini. Tapi nama “Ahmad Sri Paus”nya itu, lhoo ๐Ÿ˜‚ Asli, bikin ngakak sampai mual-mual (gaak … gak hamil, kok) ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜†

Gini lho, “Sri Paus” itu kan, panggilan di tanah air kita tercinta. Orang seberang menyebutnya “Pope” yang berasal dari kata “pappas” atau “papa”. Lalu di Vatikan sendiri sering disebut Bishop of Rome atau Uskup Agung atau Supreme Pontiff. CMIIW.

Makaaa, jika beliau merubah namanya tentu bukanlah “Ahmad Sri Paus” (apalagi pakai Sri) ๐Ÿ˜‚ melainkan “Ahmad John Paul” atau “Ahmad Karol Jรฒzef Wojtyla”. Emangnye beliau tahu “Sri”? ๐Ÿ˜‚ Kalau “his holiness” sih, pasti tahu ๐Ÿ˜†

Udah gitu, si kawan tadi ngeshare baru kemarin dengan judul heboh, “tadi pagi bla … bla …”. Hellooo … setahuku Paus Yohanes ini sudah almarhum, dwehh ๐Ÿ˜† Pas kubaca, owhh ternyata berita itu dibagikan 15 th lalu. Ehh, pas baca sumbernya di bawah postingan, lhoo … Juni 2016? Mbuhlah, ra mudeng ๐Ÿ˜…

Intinya, jika kau ingin membagikan berita heboh nan dahsyat, hendaklah dicek dulu kebenarannya. Setidaknya googling dululaahh hehehe … ๐Ÿ˜‰

Maap lahir batin yaak ๐Ÿค—

Jual BB

image

Selama bulan puasa ini, Yu Minah hanya buka sore hari sekitar jam empat. Di hari Sabtu atau Minggu ramainyaa minta ampun. Mending aku gak beli daripada harus berebut antrian sama ibu-ibu. Terlebih jika melihat Yu Minah dengan goyang ulekannya, hih mending gak, deh! Takut sama “tetesan-tetesannya” 😅

Nah, sore ini kebetulan aku pulang cepat dan langsung bertengger di warung Yu Minah.

“Tumben sepi, Yu?” tanyaku setelah mengucap salam dan duduk di bangku favorit.

“Sampeyan beruntung, Jeng. Sebentar lagi ndak bakal kebagian, lho,” sahutnya. Hih, sombongnyaaa. Tapi betul sih, apa yang dikatakannya. “Ini pesennya biasa, Jeng?”

“Iyaa, rujak ulek pedes tapi gak banget.”

Bosan melihat ketangkasan Yu Minah mengolah sambal dan mengiris buah yang bak pesilat memainkan jurus “Pedang Sakti Pembelah Langit dan Penggerus Bumi”, aku melihat sekeliling.

Mataku tertumbuk pada sebuah kardus dengan isi yang nyaris tumpah. Botol-botol bekas, bekas bungkus makanan lalu kaleng-kaleng entah bekas apa. Terheran-heran aku menjulurkan leher agar bisa melihat lebih jelas.

“Yu, sampeyan punya kerja sambilan?”

“Hah? Yo ndaklah, Jeng. Keahlian saya ya cuma bikin rujak, ” sahutnya heran. Nanas itu sungguh nyaris lumat dalam pisau saktinya. “Memangnya kenapa?”

“Itu ngumpulin barang bekas? Kukira nyambi jadi pemulung hihihihi ….”

“Sampeyan iniii. Itu kan, idenya Bu RT buat ngumpulin barang bekas, Jeng. Lalu nanti setiap bulan dikumpulkan dan dijual. Uangnya masuk kas buat tambah-tambah biaya piknik RT. Gituuu ….”

“Ooo, dijual ke mana, Yu?”

“Ndak tahu. Sepertinya Bu RT sudah punya langganan pemulung yang suka mbawa gerobak itu.” Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Kalau aku, Yu, gak bakalan mau.”

“Lho, kenapa? Hasilnya lumayan, lho, Jeng! Ditambah lagi, tempat sampah di luar jadi ndak diaduk-aduk pemulung.”

“Nah! Itu … itu kenapa aku gak mau!” ujarku sembari mencari-cari uang pas dalam dompet. “Itu namanya sampeyan menutup rejeki orang, Yuu!”

“Kok nutup rejeki, to? Ah, sampeyan ini aneh!”

“Gini, lho, Yuu. Kalau sampeyan buang barang-barang bekas itu ke tempat sampah, tentu akan menjadi rejeki buat pemulung. Lha kalo dijual, iya sih, mungkin sama-sama ke pemulung yang “bermodal”, mereka yang hidupnya dari mengais sampah tentu gak bisa mendapat jatah. Sementara apalah artinya receh itu buat ibu-ibu kompleks, apalagi pengusaha sukses macam sampeyan ini.”

Yu Minah terdiam, bahkan sepertinya tidak sadar dengan sindiranku 😆

“Iya ya, Jeng. Kasihan juga mereka yang tiap hari mengais sampah lalu ndak menemukan barang yang mereka harapkan. Kok tumben sampeyan bijak banget gini, Jeng? Pasti pengaruh bualan puasa, ya?” Sial! 😬

“Ehh, tapiii … nanti sampahnya berantakan lagi, Jeng!” Ujarnya lagi sembari mengangsurkan rujak padaku.

“Halah, Yuuu … ya tinggal disapu, itung-itung olah raga biar langsingan dikit gitu, lhooo …!”

“Wheladhalaaahhh, Jeeeeng, lha wong ngulek saja kan, sudah olah ragaaaa!”

😆

Ramuan Pembasmi Kecoax

Sampai dengan saat ini, aku masih menyatakan permusuhan dengan mahkluk bernama kecoa! Hewan yang hingga kini belum kuketahui kegunaannya. Eh, tapi setiap ciptaan Tuhan pasti ada maksudnya, ya? Hihihihi … ampuni hambaMu ini๐Ÿ™‚

Tapi jika di masa-masa lampau aku belum tahu cara jitu membasmi kecoa, sekarang aku sudah tahu hahahaha๐Ÿ˜ˆ Mau tahu rahasia ramuan yang diajarkan oleh kekasihku ini? Hahaha … baiklah, ini dia RAMUAN PEMBASMI KECOAAA (harap dibaca dengan suara Doraemon) …

Bahan-bahan:

  1. Shampoo secukupnya
  2. Air segayung

Cara pakai:

  1. Campurkan shampoo ke dalam air
  2. Aduk hingga merata, cepet-cepet aja keburu kecoanya kabur
  3. Siramkan ke tubuh kecoa dengan seksama, jangan panik bila dia mengejarmu, sebab kalau ramuanmu pas, kecoa akan langsung terbalik dan wafat tanpa sempat mengejar
  4. Hitung 1 – 24, dijamin belum selesai menghitung kecoa sudah terbujur kaku

Nah, seiring berjalannya waktu, kutemukan kenyataan bahwa ternyata bukan hanya shampoo yang manjur membasmi kecoa. Bisa dengan deterjen, sabun cuci piring, deterjen bubuk, pokoknya apa saja yang mengandung deterjen dan dicampur air! Siapkan ramuan tersebut di kamar mandimu, maka kau akan menikmati hari-harimu di kamar mandi dengan tenang dan nyaman๐Ÿ˜€

Semoga bermanfaat!๐Ÿ˜†๐Ÿ˜›

(Kami sampai punya shampoo khusus untuk ramuan pembasmi kecoa. Mereknya? Rahasiaaaaa, dooongg …๐Ÿ˜›๐Ÿ˜† )

 

M&M: Kehabisan Alasan

M&M(Nada dering: Mr. Saxobeat – Alexandra Stan)

Menul: Hellooooww …

Bank: Selamat pagiii, dengan Ibu Menul Minakminuk Ginakginuk Saraswati?

Menul: Iya betul, dengan siapa ini?

Bank: Saya Zaskia Tingting dari Bank Zamrud, boleh minta waktu sebentar, Ibu?

Menul: Mengenai apa, ya?

Bank: Begini, Bu, saya mau menawarkan bla … bla … bla …

Menul: Oh sorry, Mbak, saya sedang meeting bisa telpon lagi nanti sore?

Beberapa jam kemudian, telepon dari mbak yang sama.

Menul: Sorry, Mbak, saya sedang nyetir mobil …

Keesokan harinya …

Menul: (bisik-bisik) Saya lagi sama Boss, Mbak.

Tiga hari kemudian …

Menul: Saya nggak berminat, Mbak.

Seminggu kemudian …

Menul: Saya sedang seminar, Mbak.

Sebulan kemudian …

Menul: Saya sedang menyelam, Mbak … AARRGHHHH … ada hiu di depan sayaaaa … tolooonggg … blebek … blebek …. tut … tut … tut …

Blokir nomor berawalan 5xx berakhiran xx00.

Tujuh Hari, Cukupkah?

Ahaiii, sudah lama banget gak update blog ini hehehe … maklumlah, lagi seneng-senengnya mainan di blog yang lain๐Ÿ˜› Pun sedang ribet berusaha menuntaskan sebuah novel yang sudah selesai di kepala tetapi belum tuntas dituliskan, haiiyahh hahaha …

Di tengah kesibukan yang kadang beneran kadang dibuat-buat, aku dikejutkan oleh kabar bahwa salah seorang teman di kantor lama, suaminya menikah lagi! Padahal anak mereka sudah 4, yang paling kecil baru setahun lebih usianya. Aku tahu banget perjuangan mereka untuk mendapatkan anak, karena sudah bertahun-tahun menikah nggak juga dikaruniai buah hati. Justru ketika temanku memutuskan untuk bekerja malah jadi hamil, bahkan keterusan sampai empat๐Ÿ˜€ Sejak kehamilan yang kedua akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Temanku ini pendiam, sabar, saleha, hampir idamanlah๐Ÿ˜› Entah mengapa suaminya memutuskan untuk menikah lagi setahun yang lalu.

Nah, memang sih bukan kapasitasku untuk membahas hal ini. Toh itu hal yang halal untuk dilakukan. Aku cuma bertanya-tanya untuk para lelaki pelaku poligami, mampukah mereka berbuat adil terhadap istri-istrinya? Maksudku gini, Tuhan menciptakan hari sebanyak tujuh buah (ehh?๐Ÿ˜› ) Nah, kalo seseorang beristri dua, maka bagaimana membaginya? Kalau yang satu 4 hari yang lain 3 hari, apakah ini adil?

Terus kalau istrinya tiga, berarti 2 – 2 – 3. Nah, gak adil juga? Sekarang kalau istrinya empat, berarti 2 – 2 – 2 – 1? Ealaahh, pasti yang kebagian satu hari istri yang paling tua๐Ÿ˜ฆ Kasihan banget๐Ÿ˜ฆ Ya nggak papa juga sih, kan udah lebih lama๐Ÿ˜› Jadi, bagaimana konsep adil dalam membagi jumlah hari ini?

Atau mungkin adil yang dimaksud yang seperti contoh ini. Seorang ibu mempunyai 3 telor sedangkan anaknya ada 4. Nah, karena anak yang pertama dan kedua sudah lebih besar, maka mereka cukup mendapat jatah setengah-setengah saja. Sedangkan kedua adiknya yang lebih kecil mendapatkan seorang satu? Secara anak-anak yang lebih kecil tentu membutuhkan gizi yang cukup untuk pertumbuhannya. Kalau betul konsep adil yang demikian, maka dalam hal poligami manakah yang lebih membutuhkan gizi lebih tinggi? Yang tua atau yang muda? Wahahahaha …. kalo menurutku sih, ya yang tua yang membutuhkan! Ada beberapa alasan, 1. Yang tua sudah cukup menderita diduakan atau diempatkan, maka ia lebih membutuhkan curahan kasih sayang. 2. Yang muda itu kan masih anget-angetnya, selalu bergelora, jadi yaa gak ada masalahlah ditunda-tunda dikit ketemuannya, supaya makin hot๐Ÿ˜› 3. Memang sih, yang tua mungkin sudah kurang hot dalam melayani, tapi kan, dia menempati urutan pertama, dia yang selalu ada dalam suka dan duka ketika mulai merintis rumah tangga, layak dong, mendapat perhatian lebih. 4. Nah, yang muda ini kan, tinggal terima enaknya, suami sudah mapan, sudah banyak uang, jadi ya harap maklum kalo suami lebih banyak berkunjung ke istri tua.

Masalahnya, kalau ternyata istri mudanya lebih tua dari istri tuanya. Lhah, piye, dong? Ya biar aja, kan, statusnya tetep istri muda๐Ÿ˜†

Baiklah, sekian ngomongin adil tak adil dalam poligami, cuma pengin tau aja, cukupkah 7 hari dalam seminggu untuk berlaku adil bagi istri tua dan istri muda, baik dua maupun tiga, atau bahkan empat?๐Ÿ˜›

M&M: Lem Tikus

M&MMenil:ย  Iiiiiiyyy, tikuuuusss! Nuuuull, ada tikusss! Tolooongg!!!

Menul: Idiihh, lebay banget sih? Itu kan, ada lem tikus, udah aku beli dari bulan lalu.

Menil: Aku takuut, lagian gak tau cara pakainya.

Menul: Gampang bangeeett! Kamu tangkapin dulu tikusnya, lalu olesi dengan lem. Kalo udah, lepasin, deh! Gak bakalan kabur diaa.

Menil: HAHH?? *+&%#(*&^*&^#(*&

ย  ย  ย  ย ย ย 

(Ini)(sial)

Siang antara mendung dan panas membara. Seperti udara panas yang terjebak dalam toples dengan aku berada di dalamnya. Halah … halah … mau beli rujak ke warung Yu Minah aja pake panjang lebar! Yah, sebetulnya bukannya aku gak pernah ke warung Yu Minah. Aku hanya gak menceritakan obrolanku saja. Makin hari Yu Minah makin lebay, sih. Segala macam berita dilahapnya lalu diceritakan kembali dengan semena-mena menurut versinya. Memang yang nonton atau baca berita cuma dia? Sebab itulah aku jarang menceritakannya kembali. Murni opini Yu Minah yang berlagak macam pengamat politik saja. Hahaha.

Warungnya tampak sepi dalam cuaca begini. Tapi aku butuh rujak serut untuk didinginkan dalam lemari es. Seperti biasa aku meneriakkan salam dan duduk di bangku favorit.

“Lho, Jeng, ndak ngantor, to?” tanya Yu Minah setelah menjawab salamku.

“Nggak, Yu. Cuti. Buatkan rujak serut ya, seperti biasa pedes tapi gak banget,” jawabku sembari menyambar koran langganan Yu Minah. Wuidih, DL nya masih membahas soal inisial artis-artis yang terlibat prostitusi.

“Media itu curang ya, Jeng?” tanya Yu Minah tiba-tiba. Ulekannya yang menggemparkan meja benar-benar melumat dengan sadis cabai dan kawan-kawannya.

“Curang kenapa, Yu?”

“Lha itu, artis-artis yang diduga terlibat prostitusi itu semuanya pakai inisial nama. Kan, bisa menimbulkan fitnah!”

“Ya kan, masih jadi saksi, Yu, belum terdakwa.”

“Tapi menimbulkan fitnah! Itu yang inisial AA itu, Ahmad Albar, kan?” Hah? Aku terbahak sampai nyaris terguling dari kursi.

“Sampeyan ini, Jeng, kalau diajak bicara mesti gitu, ndak pernah serius. Lucunya di mana, coba?” omel Yu Minah. Jurus “Dewi Gunung Menebas Rumpun Bambu” membuat buah-buahan itu teriris menjadi batang-batang lembut. Ngeri juga.

“Sampeyan ya aneh kok, Yu! Masak iya Ahmad Albar?”

“Itu maksud saya, Jeng. Ngapain pakai inisial? Coba sampeyan perhatikan, kalau kasus korupsi, prostitusi artis, pasti nama diinisialkan. Mestinya sebutkan saja, supaya masyarakat jelas, ndak nuduh macam-macam pada orang yang mirip namanya. Jangan sampai nanti ada yang inisialnya sama malah ke-GR-an terus pakai nuntut-nuntut media. Nambah kisruh to? Hanya karena mau numpang ngetop? Dan lagi kan, bisa membuat efek malu. Wong keduanya memang memalukan!” Nah, kalau sudah ngomel begitu, aku memilih diam. Pura-pura baca.

“Gini lho, Jeng, kemarin itu ada juga berita dari Aceh. Sepasang kekasih terlihat berduaan atau bermesraan, ndak tahu mana yang benar, dijatuhi hukum cambuk. Tahu, nggak …?”

“Nggaaak …,” potongku hihihihi.

“Makanya saya beri tahu! Nama keduanya disebutkan dengan jelas tanpa I-N-I-S-I-A-L! Nah!” Yu Minah mulai mengaduk rujak serutku. Sumpah, aku kuatir! Semburannya itu lho, moga-moga gak masuk ke rujakku.

“Mungkin karena sudah terbukti bersalah, Yu.”

“Ah, saya ndak setuju. Kalau soal nama sebutkan saja, toh masyarakat pasti juga menebak-nebak. Apalagi sudah tertangkap tangan. Kalau di bawah umur sih, silakan saja disamarkan. Masa giliran pesohor, pejabat, pengusaha nama diinisialkan. Giliran rakyat biasa, maling ayam, nama dijembreng sepanjang rel sepur!”

Fiuh, untunglah rujakku sudah mulai dibungkus. Kalau gak, bisa sampai sore mendengar Yu Minah ngoceh. Aku meletakkan koran untuk mengambil uang. Tapi …

“Lho, Yu, ini ada inisial YM, kira-kira siapa, ya?”

“YM? Ah, ndak pernah dengar ada artis namanya gitu,” sahut Yu Minah sambil mengangsurkan bungkus rujak padaku.

“Ini lho, beritanya. Nih, tak bacain, ya. Tertangkap lagi seorang mucikari berinisial YM. Sehari-hari beroperas di warung rujak di daerah Bogor.”

“Wheeelhaadaaalllaaahhhh, sampeyan iniii, Jeeeeengg, ndak sopaaaannn!”

Aku terbirit-birit:mrgreen:

Yu_Minah_1
YM

Bullying di Mobil Jemputan

Beberapa minggu lalu, di suatu Senin yang basah, aku menyaksikan peristiwa yang membuat hatiku tergayuti mendung hitam, yang akhirnya menyeruak hingga mataku bergerimis sad0049 Free Sad Emoticons (ngopo to yo?)

Jadi ceritanya, hari Selasa aku selalu berangkat lebih pagi dari biasanya. Tetapi karena hujan sejak malam, jalanan keluar kompleks luar biasa macet. Nah, di depanku ada mobil jemputan. Entah dari sekolah mana, karena tidak ada nama sekolah maupun alamat. Sepertinya jemputan yang dikelola oleh pribadi bukan oleh sekolah. Seperti umumnya jemputan, mobil ini sudah dimodifikasi sehingga bangku penumpang dibuat berhadapan seperti mikrolet. Duduk paling mentok belakang, adalah seorang anak laki-laki yang tampangnya ganteng, badan pun cukup proporsional, sebut saja namanya Boy. Sepertinya anak SMP atau SD kelas VI. Di seberangnya ada anak-anak yang lebih besar badannya.

Baca lebih lanjut

A Self Reflection: Tragedi Bulu

logo1

Ketika berniat menjawab tantangan OmNh tentang tangak-tengok blog sendiri, tiba-tiba aku malah jadi mumet sendiri. Bagaimana tidak, lha ternyata di tahun ke-7 aku ngeblog ini tidak banyak tulisan yang kubuat! Wahahaha … itulah sebab, aku baru tengak-tengok ya menjelang deadline! (itu bahasa diplomatisnya, Kawan, sebenernya sih, karena gak tau tulisan mana yang berkesan : mrgreen: ).

Baiklah, setelah tersentil dengan peringatan Si Om tentang “dead liner” dan “super dead liner” maka kuputuskan untuk memilih salah satu tulisanku, “TRAGEDI BULU” hahahaha … (mendadak ingat suara Doraemon). Tulisan ini ku publish pada bulan Februari 2014 lalu. Mengapa aku memilih tulisan ini? Karena meski bernuansa tragedi (haiyah) tetapi ini selalu menjadi topik yang lucu bila diingat-ingat. Bahkan setelah kutayangkan tulisan itu di blog dan kubagikan di grup keluarga, langsung bertebaran emoji ngakak sampai nangis! Apalagi tersangka utama alias Mbakayune tak bisa menghentikan tawanya, padahal dia sedang rapat koordinasi! Tentu saja menimbulkan keheranan dan ketakjuban di antara peserta rapat. Yeah, topik ini selalu menjadi pembicaraan yang menimbulkan tawa saat kami sekeluarga berkumpul di rumah Ibunda innocent0009 Free Emoticons   Innocent

Menayangkan tulisan itu bukannya tanpa pergulatan batin, Kawan (haiyah lagii), karena mau tidak mau supaya tidak dianggap hoax, harus ada bukti gambar, kan? Hahahaha … maka muncullah gambar bulu mataku yang mengenaskan itu ashamed0004 Free Emoticons   Shame Maaf bagi Kawan yang tidak beruntung karena sempat melihat gambar itu. Semoga tidak ada kejadian buruk yang menimpa setelahnya:mrgreen:

Lalu, apa hikmah dari tulisan konyol itu? Hohohoho … di balik setiap tragedi pasti ada hikmah yang bisa dipetik innocent0007 Free Emoticons   Innocent Yah, tulisan itu semacam peringatan bagi para ibu, tante, kakak, agar tidak melakukan perbuatan eksperimental terhadap anak, adik, keponakan, tanpa referensi yang jelas. Jangan sampai perbuatan yang ditujukan untuk kebaikan ternyata malah menimbulkan penyesalan seumur hidup (ampuun, bahasanyaaa). Tragedi yang kualami itu semoga bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca. Berbagi pengalaman seburuk apapun kadang tanpa kita sadari bisa beguna untuk orang lain. Maka Kawan, jangan segan berbagi pengalaman, yang mungkin buruk buatmu tetapi akan menjadi pengetahuan berharga bagi orang lain.

Demikianlah, โ€œPostingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainerโ€

Wish me luck party0010 Free Party Emoticons